(T)isu

Isu seperti tisu. Ia mudah terbawa angin, rentan sobek, dan setiap paketnya terdiri dari berlembar-lembar. Permukaan tisu begitu lembut sehingga tak mudah merusak benda. Sebaliknya, ia sendirilah yang dirusak oleh benda yang dibersihkannya. Tisu tak dapat dipakai berkali-kali seperti sapu tangan, seperti handuk, seperti sikat. Tisu tak umum dikenang dan disimpan-simpan. Tetapi tisu selalu diproduksi lagi dan lagi. Dikonsumsi lagi dan lagi.

Isu adalah kabar angin yang tak terjamin kebenarannya. Ia berhembus setiap hari di sekitar kita, menyapu persepsi kita dengan aneka cerita, kemudian terbuang-buang di belantara opini. Kadang apa yang disekanya menjadi lebih jelas, kadang sebaliknya. Tetapi seperti bakteri pengurai dalam rantai makanan, isu selalu mempunyai peran dalam rantai cerita.

Minggu ini Salamatahari menghadirkan posting-posting seputar isu dan tisu. Ada isu mengenai peraturan lalu lintas yang dibahas supir angkot dan penumpangnya, kebenaran seputar isu kripik Maicih palsu yang sempat santer, Curipandang.com yang membagi isu-isu seputar selebritis, dan tisu yang menyerap minyak di talas goreng.

Berlembar-lembar isu dan tisu masih diproduksi lagi dan lagi. Jika kita bijak menyapukannya, ia bisa menjadi teman yang membersihkan.

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman Muslim, semoga ketulusan yang selembut tisu dapat membersihkan hati kita semua …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

OOT:

Selamat berkoner Theatre of Mind di hari keseimbangan – 28 Juli 2011 - buat Bottlesmoker.

You guys will share the good spirit to this city =)

2 comments:

Andika mengatakan...

Kemarin2 gw lagi butuh banyak tisu, huhuhu!

Btw De, belakangan ini gw lagi asyik main di Museum KAA. Jadi pemandu, peserta les bahasa, pencatat kegiatan, dll. Kalau sempet, mampir ya!

Sundea mengatakan...

Hehehe ... senang kemaren sempet ketemu dan ngobrol macem2 lagi sama lo, Dik =D