Memberi Jaket Pada Romantisme Urban

-Padi Art Ground Bandung, Senin 04 Juli 2011-

Pameran “Sleborz” Amenk Mufti Priyanka


Apa jadinya bila konsep ilustrasi di truk-truk jalur pantura, sticker-sticker angkot, dan komik-komik pinggiran, yang biasanya berkeliaran menentang angin di jalan raya dan sudut-sudut kota, diberi jaket oleh seorang seniman? Jawabannya ada di Padi Art Ground pada tanggal 24 Juni hingga 8 Juli 2011: Pameran Sleborz karya Mufti “Amenk” Priyanka.



Dengan kesadaran dari ranah lain, Amenk membungkus ekspresi visual dan tekstual romantisme urban yang sering dicap “kampungan” dalam kontras-kontras. Sekilas gambar-gambar hitam-putih Amenk yang rata-rata dibuat di atas kertas dengan tinta Cina tak terlihat berbeda dengan gambar-gambar yang sering kita temui di pinggir-pinggir jalan. Tetapi perhatikan sempilan yang ditampilkannya. Misalnya di sini: 

Jurang Pemisah (21st Century Broken Hearted

Karena Amenk melengkapi karyanya dengan kemeriahan narasi cerita, mari kita kaji karya ini sebagai cerita juga.

Bisa jadi Jali berasal dari sebuah kampung pelukis bernama Kampung Jelekong. Seperti rekan-rekannya, ia bertujuan mengadu nasib sebagai pelukis jalanan di kota. Tetapi DVD Art 21, sebuah serial televisi Amerika yang berfokus pada karya seni dan seniman kontomporer, merupakan pilihan tontonan yang mengejutkan dan tak lazim. Kontras hadir dalam teks tanpa beban dengan alur cerita picisan dan tata bahasa seadanya. Judul yang dipilih Amenk, “Jurang Pemisah (21st Century Broken Hearted)”, jadi mempunyai makna yang berbias-bias.

Kontras menarik lainnya hadir dalam seri “Harmony of Destruction”. Di sana Amenk menyajikan ikon tangan berdoa yang populer. Bedanya, tangan yang biasanya terkatup kosong kali itu menjepit kepala tengkorak berrambut punk. Teks dengan tipografi khas sticker angkot pun tertoreh di sana: “Fungki” dan “Sayang”. Seri ini membuat saya ingin terbahak dan terpekur sekaligus. Bukankah “sayang” adalah kata yang mengandung muatan picisan dan filosofis sekaligus? Atau jangan-jangan yang picisan dan filosofis memang selalu hadir bersama di dalam apa saja?

Harmony of Destruction 1 & 2

Ada kesederhanaan yang dekat dengan keseharian pada karya-karya Amenk. Diberinya jaket pada keliaran yang berkeliaran di jalan-jalan, sehingga mereka jadi cukup hangat untuk hadir dengan kejinakan dan kejenakaannya sendiri di dalam sebuah galeri. Kita lalu membaca sebuah konteks sosial dengan aksara yang kita kenal.

Membaca Tanpa Mata

Truk-truk itu masih beredar di jalur pantura bersama ekspresinya yang telanjang. Menentang angin, merentang angan …

Sundea 

Sebelumnya Amenk pernah diwawancara di Salamatahari. Klik sini

0 comments: