Mengosongkan

Ada sebuah kondisi tanpa muatan apa-apa. Kita menyebutnya kosong. Tetapi kosong tak selalu berangkat dari stasiun yang sama dan melalui jalur yang sama. Ada kosong-kosong yang berangkat dari kondisi memiliki isi. Ia diantar oleh perjalanan mengosongkan, sehingga kosongnya lalu tak seutuhnya tanpa muatan. Ada memori. Ada sesuatu yang nirada seperti jaringan nirkabel.

Minggu ini Salamatahari membagi kisah-kisah seputar “mengosongkan”. Ada Pak Umar penjaga WC umum yang mengosongkan diri dari rasa rindu terhadap kampung halaman, ada Mocca yang mengosongkan sofa yang mereka duduki dalam konferensi pers, ada Ayah Beruang dan Anak Beruang yang sedang mengosongkan ransel wacana Ayah Beruang, dan ada keluarga kucing yang membuat apa yang pernah tak ada menjadi rasa kehilangan.

Salamatahari edisi ini didedikasikan untuk teman-teman yang sedang berada dalam perjalanan mengosongkan. Semoga selamat tiba di “kosong” dan mengenal baik-baik jejak-jejak yang nirada.


Di kemudiah hari, isi kembali kekosongan itu tanpa mengabaikan sejarah …


Semoga kita semua terbebas dari masuk angin dan keracunan.

Salamatahari, semgoaselaluhangat dan cerah,
Sundea

2 comments:

si gadis berponi mengatakan...

banyak orang yg bisa membuat tulisan bagus. anda membuat tulisan yang tidak biasa. saya suka sekali.

Sundea mengatakan...

Aduh, makasih =)