Hikayat Merak(yat)


Belakangan ini Anak Beruang mencurigai salah satu ayam hutan. Ayam itu tidak mencuri. Tidak juga berbuat onar. Ayam itu hanya terlalu mirip dengan seekor merak. Pada suatu hari Anak Beruang menghampirinya,

“Hei, sepertinya kamu bukan ayam biasa …”
“Aku ayam biasa.”
“Bukan. Kamu merak kan ?”
“M … mer mer merak … ? B … bu … bukan!”
“Kenapa gugup ?”
“K … ka … karena ... aku ….”
“Karena … ?”
“Karena … aku … aku merakyat! Ya, aku ayam jenis Merakyat!”






Anak Beruang percaya. Meski mirip, Merakyat memang tak sama persis dengan merak. Merakyat tak mempunyai ekor kipas yang sesekali terbentang cantik. Ia juga tak pernah melenggang penuh percaya diri. Sebaliknya, ekor Merakyat selalu tergelung. Ia pun selalu berjalan menunduk terbungkuk-bungkuk menutupi dadanya.

Kadang-kadang Anak Beruang ingin bermain dengan Merakyat, tetapi Merakyat tak pernah terlihat nyaman dengan siapapun, termasuk dengan dirinya sendiri. Merakyat seringkali beringsut diam-diam ke balik pohon ketika ayam-ayam hutan terlihat akrab satu sama lain. Gerak-geriknya pun berat dan canggung, seakan-akan ada sesuatu yang akan jatuh jika ia merdeka dan berlari. Anak Beruang selalu mengamati Merakyat, tapi tak pernah berani mengganggunya.

Pada suatu pagi, Merakyat berdiri di dekat semak-semak. Ia pikir ia sendirian, padahal Anak Beruang ada tak jauh dari sana. Sekali itu Merakyat menggerai ekornya yang tergelung. Mengibas-ngibaskannya sambil membusung meregang tubuhnya yang terlalu banyak membungkuk.

Anak Beruang terbelalak. Merakyat memang seekor merak! Ekornya bermata-mata. Dadanya hijau tosca metalik. Anak Beruang tak mengerti mengapa ia harus selalu menyamar menjadi Merakyat yang entah binatang apa. Karena tak tahan, Anak Beruang melompat ke dekat semak-semak, persis di hadapan Merakyat.

“Kamu merak, bukan Merakyat!”
“Eh … aku, aku … ” Merakyat yang ternyata seekor Merak tak lagi bisa menyembunyikan diri.
“Kenapa kamu harus pura-pura menjadi Merakyat ?”
Merakyat tampak tertekan. Sesuatu naik-turun di tenggorokannya yang jenjang. Tiba-tiba ia menunduk. Air mata jatuh menyentuh cekernya yang mencengkram sesuatu yang tak bisa dicengkram di tanah kering dan rata. Ia menangis. Tanpa suara. Tapi sedih sekali.

Anak Beruang jadi merasa bersalah dan serba salah, “Merak … yat … maaf, maafkan aku. Kalau kamu … euh … kalau memang kamu, ya … aku tidak tahu, sih, aku …”

Akhirnya Anak Beruang memutuskan untuk diam saja.

Pagi bergeser menuju tengah hari. Matahari yang semakin terik dan tinggi menyeka air mata di kaki Merakyat. Anak Beruang masih di sana. Menunggu Merakyat mengusirnya.

“Sekarang pasti kamu menganggap aku binatang jahat,” kata Merakyat sambil mengangkat wajahnya.
“Aku pikir kamu yang akan menganggap aku binatang jahat karena membuat kamu menangis barusan,” tanggap Anak Beruang.
“Tapi sekarang kan kamu sudah tahu kalau aku ini Merak.”
“Lho ? Lalu kenapa ?

Merakyat – yang kini dapat kita sebut Merak – akhirnya menceritakan rahasianya kepada Anak Beruang. Mereka pindah ke bawah pohon rindang. Berdiri bersisian. Siang sedang terik, tapi bayang-bayang mereka terlindung di dalam teduh bayang-bayang pohon.

“Aku takut kepada dongeng karena dongeng berkuasa menentukan sifat-sifat binatang. Burung Hantu pasti pintar, kancil pasti licik, merak pasti sombong. Pada akhirnya binatang-binatang yang dianggap jahat akan diberi ganjaran. Merak, misalnya, akan mendapat malu setelah memamerkan ekornya dengan congkak.”
“Memangnya kamu akan memamerkan ekormu dengan congkak ?”
“Tidak. Karena aku adalah Merakyat, bukan Merak.”
“Apakah setiap merak pasti memamerkan ekornya dengan congkak ?”
“Dongeng sudah menciptakan opini tentang kami.”
“Tapi opini hanyalah ide tentang kamu. Kamu menciptakan diri kamu sendiri.”
“Dongeng itu seperti media massa, Anak Beruang! Mereka menentukan apa yang penting dan yang tidak. Apa yang benar dan yang salah. Untuk menciptakan diriku sendiri, aku harus melawan sebuah konstruksi yang sudah kukuh. Aku takut,” suara Merak bergetar penuh emosi. Kemudian mata Merak mulai berkaca-kaca lagi.

Anak Beruang kebingungan. Ia ingin memeluk Merak, tapi Merak seperti membentengi dirinya dengan terlalu banyak hal. Tidak tertembus. Akhirnya Anak Beruang hanya berdiri canggung di hadapannya.

“Aku minta,” kata Merak di sela nafasnya yang tak teratur, “Biarkan aku tenang sebagai Merakyat.”
Anak Beruang tak yakin menjadi Merakyat membuat hidup Merak lebih tenang. Tetapi ia tidak ingin bicara apa-apa lagi. Ia tak ingin membuat Merak atau Merakyat menjadi lebih tertekan.

Hari semakin siang. Anak Beruang mulai lapar. “Kita pulang, yuk, Merakyat,” ajak Anak Beruang. Merakyat yang sudah mulai tenang mengangguk. Ia menggelung ekornya seperti sediakala. Berjalan membungkuk seperti biasanya.

Merakyat dan Anak Beruang beranjak dari bawah rindang pohon. Ketika mereka berjalan menghadapi matahari dengan kepala mereka sendiri, ada bayangan mereka berdua di tanah kering, tak tertelan oleh bayangan pohon. Tahu-tahu, entah dari mana datangnya, Anak Beruang teringat sesuatu.

“Merakyat, kamu tahu, tidak ? Dalam cerita-cerita Hindu, Merak justru dihubungkan dengan Dewi Saraswati, sumber kebaikan hati, kesabaran dan ilmu pengetahuan …”




Sundea
Special thank’s buat Indonesia Bercerita. Cerita ini tersempurnakan karena wawancara inspiring minggu lalu =)

0 comments: