Pelangi

-Tanah Toraja, Kamis, 7 April 2011-

Di bawah payung hitam, hiasan yang dibuat dari benang warna-warni berayun-ayun ditiup angin. Konon hiasan itu melambangkan pelangi. Menurut adat Toraja, setiap orang yang meninggal akan meniti pelangi menuju sebuah tempat yang bercahaya. 


Pada sebuah hari keseimbangan, jenazah Ibu Dina Salempang alias Ne’ Herlin dihantar beramai-ramai menuju makam di atas bukit. Pekik masyarakat yang raya, lesung yang ditumbuk dengan alu, nyanyian, doa, sampai tangisan, mengenal tempatnya dalam harmoni. Mereka mencipta komposisi yang menggugah. 



Bersama anggota keluarga dan masyarakat Desa Palangi Kecamatan Balusu Tanah Toraja, saya turut mengarak jenazah menuju bukit. Setiap elemen upacara yang mengiringi seperti pelangi yang merentang sampai ke bukit, membuat perjalanan menanjak tak terasa terlalu jauh. Anak-anak kecil berlari-lari sambil membawa pelangi dari benang yang mereka ambil entah dari mana. Sambil tertawa-tawa mereka bermain-main dengan hiasan pelangi itu. Saya tersenyum.


Pagar yang mengepung makam memeluk masyarakat. Saya yang berdiri paling belakang tak dapat melihat peti Ne’Herlin dimasukkan ke makam yang sudah dibangun. Ketika saya tengah berjinjit-jinjit berusaha melihat, seseorang menarik bahu saya,

“Awas, jangan berdiri di situ, Kak, sebentar lagi ada babi mau dilempar.”
“Hah? Lempar babi?”

Sebelum orang itu menjelaskan apa-apa lagi, dari atas bukit saya mendengar suara pekik. Saat saya tengadah, tampak seorang lelaki mengangkat anak babi hitam tinggi di atas kepala. Sejenak kemudian, si babi kecil dilempar ke bawah. Seperti sekumpulan serigala, masyarakat berebut menangkapnya. Babi kecil memekik semakin ketakutan. Sekilas saya sempat melihat kaki dan tangannya ditarik dari kiri dan kanan. Selintas saya dan si babi bertukar tatap, tapi saya tak mungkin menolongnya. Jantung saya seperti berhenti. Kemudian saya berlari sambil menangis ke balik bukit.

“Dea dari mana aja? Kirain tadi udah balik,” tegur Oom Agustinus Sidharta, fotografer yang berangkat ke Toraja bersama saya, ketika saya kembali ke area pemakaman.
“Dea di belakang bukit. Nangis-nangis liat babi dilempar.”
“Tadi di sini ada yang berantem, lho.”
“Hah? Kenapa?”
“Nggak tau, ada yang kesenggol kayaknya. Tapi nggak apa-apa, kok …”
“Hooo …”

Saya kembali setelah seluruh upacara selesai. Kepadatan yang dikepung pagar telah berpencar. Pelangi-pelangi dari benang berserakan di sepanjang jalan. Ada yang terinjak, ada yang masih tergantung di dekat makam, dan ada yang tersangkut di sekitar pagar.


Perjalanan turun tidak lagi berpelangi. Tak ada nyanyian, tangis, kumandang doa, dan pekik raya masyarakat. Langit membeku secara dramatis. Dan baru kali itu saya tahu, perjalanan turun bisa jadi lebih berat ketimbang perjalanan menanjak naik.

Pelangi menyeimbangkan cerah dan hujan, suka cita dan duka cita, kemenangan dan kekalahan.
Hari itu adalah hari keseimbangan. Keseimbangan menghadiahkan hidup kepada kematian, dan mati kepada kehidupan.


Sundea

6 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

huaaa Dea closingnya

Pelangi menyeimbangkan cerah dan hujan, suka cita dan duka cita, kemenangan dan kekalahan.Hari itu adalah hari keseimbangan. Keseimbangan menghadiahkan hidup kepada kematian, dan mati kepada kehidupan.

heheehe that's life, times between
(^_^)

mudah2an dunia Salamatahari dan Dea sll dipenuhi segala keberkahanNYA :)

Sundea mengatakan...

Amiiin ...

Makasih, ya, Bellu =)

blueismycolour mengatakan...

De.. Babi na kumaha? itu hidup2 dilempar? wah.. pengen bgt nih bs ikut acara2 adat begini.
sarat makna n budaya.. ^^

Sundea mengatakan...

Nggak tau, Li. Terlalu crowded dan babinya ditelen massa ...

diiaan .. :) mengatakan...

hei ak suka dngan postingmu ini .. :)
btw kamu ikut yah pmakaman nek Dina ? :')
gimana keadaan d sna ? mkamnya terurus rapi kah ?
mkasih

Sundea mengatakan...

@Dian: Aku nggak masuk ke dalem guanya, Di, soalnya crowded banget. Tapi sejauh yg aku liat makamnya sih rapi. Lantang, tempat upacaranya, juga terpelihara, kok ...

Sama-sama ...