Berharap dan Berharpa Bersama Rama Widi

Perjalanan ke Toraja beberapa yang lalu dilakukan dalam rangka memakamkan Ne’Herlin, nenek dari Rama Widi. Di luar posisinya sebagai cucu dan pemuda Toraja dalam upacara adat, Rama adalah seorang pemain harpa dengan passion yang mengagumkan.
Setelah posting-posting seputar upacara adat, edisi “Oleh-oleh” ini kita tutup dengan obrolan seru seputar perjalanan bermusik Rama Widi. Simak …

Pertanyaan pertama, nih, Ram. Kenapa lo milih harpa?







Karena suaranya mendekati sempurna, bisa dibilang menyejukkan hati. Beda sama kalo belajar instrumen lain. Harpa itu, dari pertama kali main asal-asalan juga suaranya udah bagus banget. Kalau alat musik lain suaranya suka berisik kalau kita baru mulai belajar.

Awal mulanya lo main harpa?
Mau jawaban yang pendek apa yang panjang ?

Panjang, deh, boleh … hehehe …
Jadi gua kan ke Vienna mau belajar conducting orchestra di Musik und Darstellende Kunst Music University. Nah. Ujian conducting ini ada tiga tahap. Hari pertama: pendengaran, teori, pengetahuan, kecepatan suara, dan yang paling susah ngebenerin partitur. Jadi, partitur itu untuk strings quartet dan salah. Nanti kita dipasangin CD, kita musti ngebenerin partitur itu sesuai yang di CD. Hari pertama gua lulus. Hari ke dua, ujian nyanyi, namanya blatsingen. Sialnya, ujian ini baru ada pas gua mau masuk. Ada empat pilihan partitur: A, B, C, D. Gua dapetnya D, yang paling susah. Udah intervalnya nggak masuk akal, tanda-tandanya paling banyak. Gua juga disuruh nyanyi satu lagu solo, kalo bisa klasik. Gua nggak nyiapin karena ujian itu baru pertama kali ada pas gua masuk. Gua nyanyinya dari senyum, sampai lama-lama nggak yakin dan ilang suaranya. Jurinya dari yang ngangguk-ngangguk sampai geleng-geleng. Terus gua juga disuruh siapin lagu piano. Gua nggak nyiapin juga, tapi buat jaga-jaga gua bawa lagu gereja yang notnya not angka. Kata jurinya, itu nyanyinya acappella aja. Gua nyanyi terus distop, dibilangin makasih. Ternyata di hari ke dua gua gugur dan nggak bisa nerusin ke tahap berikutnya.

Main harpanya?
Entar dulu. Katanya mau jawaban yang panjang …

Hoiaaa … hahaha. Ok. Lanjut.
Pas tau nggak lulus, gua kecewa banget. Dulu di Perguruan Cikini (tempat Rama les musik –red) gua termasuk yang terbaik, ternyata di Vienna, I was nothing. Gua pulang ke tempat temen gua, terus di sana gua langsung tidur. Gua bangun cuma untuk nanya ke temen gua, “Gua nggak diterima, ya?” terus temen gua jawab, “Enggak, lo nggak diterima”. Abis itu gua tidur lagi. Tapi gua percaya mujizat. Kalau gue emang harus di Vienna, ya gua di sana. Temen gua nyaranin gua les dulu sama pengajar di universitas yang mau gua masukin itu, terus coba lagi taun depannya. Tapi gua nggak mau buang-buang waktu setaun. Terus ada temen gua yang lain lagi yang nyaranin gua belajar di konservatorium. Gua ambil music performance dan itu langsung dijabar ke alat. Gua sempet ragu mau ambil oboe atau harpa, tapi akhirnya gua ambil harpa. Alesannya karena pemain harpa terkenal di Indonesia baru tiga, kenapa gua nggak jadi yang ke empat? Sebenernya gua sama sekali belum pernah belajar harpa. Liat langsung juga baru pertama kali pas mau ujian itu. Tapi gua kan suka search di internet. Gua tau fungsi pedalnya dan gua tau senar yang merah C, yang item F. Pas ujian, gua dikasih pengecualian karena belum pernah belajar harpa. Gua disuruh mainin lagu anak-anak. Ternyata gua bisa. Gua kaget, gurunya juga kaget. Dia sampai nanya, “Kamu yakin belum pernah liat harpa?” Gua bilang, “Iya, yakin.” Nah, karena ngeliat talent yang besar di gua, gua langsung diterima di Vienna Konservatorium. Tapi gua tetep harus mulai dari zero banget …

Wooow … luar biasoooo … terus gimana, tuh, perjalanan lo belajar harpa hingga kini?
Nah. Dalam satu taun, gua liat progress gua di harpa pesat banget. Padahal pas awal-awal gua nggak ada harpa, latiannya ngebayangin aja. Jadi setelah taun pertama itu gua ngerasa pengen fokus dulu aja ke harpa. Apalagi gua ngerasa mungkin gua tempatnya emang di harpa dan bisa jadi gua lebih baik di harpa daripada di conducting. Dari taun 2004 akhir sampai sekarang gua belajar harpa. Taun 2009 baru gua ngedobel ngambil musik pedagogik. Nah, di musik pedagogik itu teorinya banyak banget. Terus di list titik berat ada ngajar dan conducting. Karena gua nggak kesampean belajar conducting yang dulu itu, gua pilih conducting.

Hahaha … seru banget. Buat lo, musik itu apa, sih ?
Musik itu nafas kehidupan.

Dari kapan lo sadar itu?
Dari dulu. Dari dulu gua nggak pernah ngerasa kalau musik itu hobi. Musik itu bagian dari diri gua. Gua belajar organ dari umur enam taun, terus SMP kelas tiga gua belajar biola dan piano. Piano gua otodidak, cuma karena liat temen gua bisa dan dia suka pamer di depan cewek-cewek. Gua belajar lagu-lagu yang dia bisa. Kalau dia belajar lagu yang susah, gua belajar lagu yang lebih susah lagi. Terus waktu itu ada lagu yang bagus banget, gua minta partiturnya, cuma nggak dikasih sama dia. Pas ada kesempatan ke Singapur, gua cari, tuh partiturnya. Pas Labs Piano Recital di GKJ lagu itu gua mainin. Waktu temen gua itu ngasih selamat abis gua main, yang pertama gua bilang bukan thank you, tapi “Ini lagu yang waktu itu partiturnya nggak lo kasih itu.”

Hahahaha … lo tuh orangnya kompetitif banget, ya, Ram?
Iya. Gua ini sebenernya sangat kompetitif dan ambisius. Nyokap ngajarin jangan terlalu. Efeknya nggak baik. Waktu gua balik ke Indonesia, kesannya banyak orang yang jadi takut job-nya mau gua ambil. So I believe, tiap orang punya jatahnya masing-masing.

Sebagai seseorang harpis, apa, nih, rencana lo ke depannya?
Gua akan mengikuti kompetisi harpa selanjutnya dan karena gua juga belajar edukasi, gua ke sekolah-sekolah dan ngajak anak-anak untuk nyoba mainin harpa. Gua selalu diajarin nyokap, pohon jangan lupa sama akarnya. Lagian basically, gua suka sharing.

Jadi kalo ada orang yang minta partitur dari lo, pasti lo kasih, dong, ya? Hehehe …
Gua kasih nggak, ya? Gua nggak kepengen menciptakan Rama Widi – Rama Widi lainnya yang kayak gua pas nggak dikasih partitur … hahahaha ….

Selama seminggu bersama-sama di Toraja, Dea melihat dua sosok yang sepertinya menjadi sayap di sisi-sisi Rama: Nia sang manager dan Gihon sepupu terdekat sekaligus stylistnya. Mereka adalah tim kecil yang solid, membangun harapan pada suara harpa yang dipetik Rama. “Rama itu berharap bisa terbang tinggi, dia nggak sabar kepingin terbang,” kata Nia Dahlan, manager Rama Widi.

Sementara Rama pergi ke WC, Dea mengobrol dengan Nia dan Gihon. Tiba-tiba dari dalam WC suara bariton seriosa berkumandang. “Hah? Apaan, tuh?” tanya Dea terkejut. “Biasa. Kalau lagi di WC Rama harus begitu, katanya biar keluar,” sahut Gihon sambil tersenyum kecil. Dea tergelak. Kebiasaan ini menunjukkan dengan jelas betapa musik dan Rama memang bagian yang tak terpisahkan.

Semoga Rama Widi berhasil terbang tinggi. Semoga kelak suara harpanya yang menyejukkan hati menyejukkan hatimu juga … =)
 

Sundea

Biodata Rama Widi
Nama: Rama Widi
Tempat tanggal lahir: Jakarta, 31 Agustus 1985
Prestasi:
  • Salah satu artis di Vienna Jazz Festival 2007
  • Main di gedung opera di Vienna Austria dan Budapest Hungaria, 2007
  • Europe Tour with Zoltan Kodaly World Youth Orchestra, 2007
  • China Tour with Symphonia Vienna 2008-2009, 2010-2011
  • Soloist dengan Symphonia Vienna, 2009
  • Soloist dengan Twilite Orchestra, 2010
  • Finalis Kompetisi Internasional di Munich, 2009
  • Finalis Kompetisi Internasional di UK, 2010
Website Rama sedang diproses. Untuk sementara, kunjungi Rama Widi di sini

3 comments:

smurfin mengatakan...

thanks for sharing this story dea ceritanya menghibur :) di tunggu cerita selanjutnya

smurfin mengatakan...

thanks for sharing this story dheaaa :) pas baca aku senyum senyum

Sundea mengatakan...

Tonton Rama main kapan2, di situ ada cerita selanjutnya dan pastinya lebih menghibur lagi =D