Bating-bating Ne’ Adel, Ketika Bahasa Bukan yang Terpenting


Bangunan upacara adat Toraja yang disebut lantang mengepung lantang nyanyian seorang perempuan. Sekilas suaranya terdengar seperti mengaji. Nadanya sengau dan syahdu. Cengkoknya meliuk seperti ukiran. Di tengah siang yang terik dan angin kering yang menerbangkan debu-debu, suara tersebut terdengar liris. Saya duduk di teras bangunan utama, mendengarkan dengan mata terpejam. 

Selang beberapa saat kemudian, sang biduanita duduk di sebelah saya. Ia dan musisi-musisi pengiringnya tampak mengaso sejenak. Saya segera beringsut mendekati.



“Selamat siang, Bu …”
Ibu itu tersenyum sambil mengangguk agak wagu.
“Eeee … anu … yang nyanyi-nyanyi tadi kan? Namanya siapa, Bu?”
“Panggil saja Nenek Adel. Lahir di Buntal.”
“Nenek Adel. Udah lama nyanyi-nyanyi di upacara begini, Ne’?”
“Sudah lima tahun.”

Lagu-lagu yang dinyanyikan Nenek Adel disebut bating-bating. Dinyanyikan di “perayaan kematian” (Ne’ Adel bulak-balik menyebut upacara kematian sebagai “perayaan”) dan pantang dinyanyikan pada perayaan lainnya.







“Penyanyi bating-bating itu dipilih,” kata Ne’ Adel.
“Oh, ya? Siapa yang pilih, Ne’ ?”
“Tuhan yang pilih. Ini jalan Tuhan. Saya tidak sekolah, saya bisa belajar sendiri dan pigi bernyanyi, kalau bukan kehendak Tuhan tidak bisa.”
“Hmmm … iya, ya. Eh, Ne’ lagu yang tadi dinyanyiin judulnya apa?”
Ne’ Adel menyebutkan sebuah judul lagu. Karena berbahasa Toraja dan diucapkan dalam artikulasi khas daerah, saya sulit menangkapnya. Ne’ Adel yang tak bisa membaca dan menulis pun tak bisa mengejakannya untuk saya.
“Hmmm … gini aja, deh, Ne’, yang tadi lagunya tentang apa?” tanya saya akhirnya.
“Begini lagunya …,” dan Ne’ Adel pun menyanyi. 


Setelah Ne’ Adel selesai menyanyi, sekali lagi saya bertanya, “Ng … jadi … lagu yang tadi isinya apa, Ne’?”
“Begini isinya …,” dan Ne’ Adel menyanyi lagi.


Suara Ne’ Adel yang liris membelah udara, menjadi bintang di antara suara lainnya yang riuh rendah di sekitar kami. Tanpa mikrofon, suara itu terdengar lebih bersih, tulus, dan jujur. Ia menyanyi begitu dekat dengan saya. Cengkok yang meliuk itu bergulung-gulung dan menyentuh saya secara personal. Saya tetap tidak mengerti isinya secara tekstual, tetapi saya bisa merasakan maknanya secara kontekstual. Mungkin pada perayaan semacam itu apa yang dirasa menjadi lebih penting. Kematian melepaskan roh dari batas-batas yang mungkin dijangkau tubuh. Di sana kita belajar mempercayai yang tak terlihat.

“Lagunya saya tau. Tapi saya ga lancar basa Indonesia,” kata Ne’ Adel setelah selesai menyanyi.
Saya tersenyum. “Nggak apa-apa, Ne’, cukup, kok. Makasih, ya …”

Terik matahari siang itu tidak juga mau meredup. Punggung saya merasakan panasnya. Tetapi wajah saya yang terlindung atap dan menatap Ne’ Adel yang bersenandung lagi terjaga dalam keteduhan sempurna.

Sundea

2 comments:

romyan fauzan mengatakan...

selalu suka...

Sundea mengatakan...

Selalu berterima kasih =)