Di Dalam Sebuah Kandang Berjalan


-Minggu, 27 Februari 2011-


“Tuh, Dira, kenapa coba kelincinya bengong aja?” tanya seorang Ibu berkerudung biru.
“Nggak tau.”
“Tadinya dia ngumpul sama temen-temennya. Begitu dikeluarin, jadinya bengong. Nanti Dira yang temenin, ya …”

Dalam perjalanan naik angkot Stasiun Hall-Lembang, saya bertemu gadis kecil ini. Namanya Dira. Ia dan ibunya baru saja membeli kelinci. 




“Kenapa pilih kelinci yang ini, Dir?” tanya saya.
“Pengen,” sahut Dira singkat.
“Dari pertama liat, dia maunya yang itu. Tadi ada yang lucu, yang kupingnya turun satu, tapi Dira kekeuh mau yang itu,” papar ibu Dira yang ramah dan hangat.

Selanjutnya, Ibu Dira bercerita mengenai riwayat binatang-binatang yang pernah dipelihara Dira. “Waktu umur tiga, Dira pernah punya kelinci, tapi mati didudukin karena Dira masih suka geregetan. Umur empat punya hamster, terus mati kedinginan. Sekarang Dira umur lima ….,” Ibu Dira tak melanjutkan kalimatnya. Ia menatap puteri kecilnya sambil tersenyum. Dira membalas tatapan ibunya seperti mengerti; umur lima berarti sudah besar. Dira sudah harus dapat menjaga binatang peliharaannya dengan lebih bertanggung jawab.

Kelinci kecil ini terlihat gothic. Bulunya putih berbercak hitam. Di sekeliling matanya, melingkar pula warna hitam seperti eye liner.

“Namanya siapa ini, Dir?” tanya saya lagi.
“Bobby.”
“Kenapa Bobby?”
“Karena laki-laki.”

Kami bertiga mengamati Bobby. Bobby yang terlihat grogi mengkerikiti sayur-sayuran yang tergeletak di hadapannya. Mungkin ia bertanya-tanya di dalam hati, “Siapa mereka-mereka ini? Kenapa ada kandang berjalan yang membawa mereka? Dan kenapa aku juga dibawa dalam kandang berjalan ini …?”


Di bangku belakang kandang berjalan, hanya ada kami berempat. Kelinci yang baru mengenal dunia, ibu yang lembut dan penyayang, gadis kecil yang sedang belajar bertanggung jawab, dan penulis yang gemar menulis hal-hal tidak penting.

Pintu kandang berjalan itu tidak tertutup. Tetapi tak ada satu penumpang pun yang keluar dari sana sebelum tiba waktunya ...

Sundea

2 comments:

Nia Janiar mengatakan...

Niat Dira baik betul karena ia sayang dan ingin menjaga.

Dira, dijaga baik-baik yaa.. kelincinya :)

Sundea mengatakan...

Iya, moga2 kelinci yang ini jangan didudukin sampe benyek dan menjemput ajal lagi, Ni ... hehe ...