Hadiah Kecil dari Konser Kecil


Dear Galih,
Kalau ada bintang yang sinarnya anget seperti teh di Pajawan, bisa digulung-gulung seperti benang,dan deket seperti suara hati sendiri, itu pasti elu. Selama sembilan taun ini gue kenal lo sebagai bintang dengan aura yang sama. Berkarakter tapi sederhana. Panggung lo nggak pernah berjarak, karena itulah liputan ini juga gua sampein secara personal dan tanpa jarak. Sebagai temen baik. 




-Beat n Bite, Sabtu 05 Februari 2011-

Konser Kecil Deugalih and Folks

Lagu Anak Sungai mengalir keluar dari kemungilan Beat n Bite, meninggalkan sorot lampu yang oranye hangat, dan berhenti di atas rumput dingin yang tumbuh di sela-sela semen pelataran parkir. Tak sengaja kaki saya menginjaknya. Lalu nada dan keakraban melekat di sol karet sepatu saya.

Malam itu, dalam konser kecilnya, Deugalih and Folks mempersembahkan sembilan belas buah lagu yang dihaturkan dengan hangat dan akrab. Mulai dari lagu bernuansa jazzy seperti Losari dan Swim Swim, sampai yang mengembalikan mood grunge Deugalih di masa lalu, Himpit. Seluruh lagu hadir dengan teks yang liris bercerita. Ambil contoh River in the House yang dengan jenaka mengisahkan banjir di dalam kos atau Minggu Pagi yang mengisahkan gadis kecil yang bermain-main di antara pohon dan rumput. 


“Folks” terdiri dari tujuh personil lainnya. Ada Galant Yurdian (bas), Yogi Imannudin (conga dan perkusi), Yadi Cubek (gitar akustik/elektrik), Gantira ‘Bagan’ Sena (drum), Imam Maulana (biola), Rasus ‘Ono’ Budhyono (irish tin whistle/suling Sunda), dan Abah Dony (gitar mandolin/harmonika). Formasi ini seperti angin yang meniup lagu-lagu Deugalih agar bergerak dinamis. Pada lagu Kamu yang Kecil, misalnya, kelincahan suara tin whistle Pak Ono menghidupkan kesan anak-anak yang ingin disampaikan oleh lagu.

Folks

Rangkaian konser kecil ini diselingi permainan instrumental Folks yang hadir seperti matahari terbit. Berangkat dari kesunyian yang dingin, disusul dengan running melodi ringan dalam kunci-kunci mayor, selanjutnya perlahan-lahan diisi oleh rhythm yang semakin lama semakin meriah seperti matahari yang berangsur cerah, semangat pagi tahu-tahu menyala pada pukul sembilan malam. Saya tersenyum. Konser kecil ini mencuri pagi hari yang seharusnya milik belahan bumi yang lainnya …

Merchandise Deugalih and Folks persembahan Wawbaw Series dan Teman Sebangku yang turut berkolaborasi dengan Deugalih memberi aksen pada perayaan kecil tersebut. Penonton tak terlihat jemu. Bahkan di penghujung acara, ketika Deugalih and Folks mohon diri, penonton kompak berseru, “Bonus track! Bonus track!” 

Deugalih dan Teman Sebangku
Deugalih pun memenuhi permintaan mereka. Di panggung tanpa trap itu, ia menyanyi sendiri. Menjadi Deugalih yang seutuhnya. Tanpa sepatu. Tanpa mic. Dalam kesederhanannya yang khas. Membawakan sebuah lagu yang ia tulis untuk ayahnya, Journey,

“… Now I’m a real man, to live my life as a wonderful journey …”

Konser kecil berakhir. Kerumunan berpencar. Saya melompat-lompat keluar dari Beat n Bite. Ada sesuatu di sol karet sepatu saya. Apa ini? Saya meniliknya.

Teman-teman, terrnyata nada dan keakraban yang terinjak ketika saya datang diam-diam tumbuh di sana; berjanji menyertai langkah saya pada hari-hari berikutnya.

Sundea

4 comments:

Rahmawan Ady Arif Bijaksana mengatakan...

ya ampun! baca tulisan ini bikin saya seperti ditarik ke suasana sewaktu konser kecil berlangsung. sederhana dan indah :)

Sundea mengatakan...

Setuju. Konsernya emang indah dengan sendirinya. I just reflected back the beauty, kok ;)

Galih Su mengatakan...

Mentos buat Dea juga (^^)

Galih Su mengatakan...

Gue baca lagi, pengen nangis... :')