We Trust Music, Not War …


-Beat n Bite Bandung, Sabtu, 15 Januari 2011-
We Trust Music Not War

Waktu malam, Sang Senja dengan mata yang sembab menanya dirimu,
butuhkah malam ini, kawan, dengan cahayaku ?*

Bahasa Melayu Kuno memaknai kata “seni” sebagai “halus” dan “kecil”. Tanpa kita sadari, yang halus dan kecil kadang justru lebih kuat daripada apapun. Alam memberi mereka kepercayaan sehingga tak merasa perlu memberi mereka senjata.


Lalu musik, salah satu cabang seni, hadir dengan kehalusannya yang bersahaja. Ia hadir tanpa panggung di café mungil Beat n Bite. Di sana musisi Malaysia-Indonesia berbagi kehangatan tanpa terpengaruh seteru yang berdesing. “Meskipun Indonesia-Malysia sedang panas, kami ingin membuktikan bahwa kami yang bermusik baik-baik saja,” ujar Yulius Iskandar, pendiri CLAP Music, portal penyedia gigs bagi teman-teman mancanegara yang berkunjung ke Bandung. “We Trust Music Not War” adalah salah satu event perdana mereka selain “Rough Cut” yang digelar di hari yang sama.



Selama sekitar tiga jam, serangkaian lagu akustik dipeluk penuh sayang oleh kemungilan Beat n Bite. Malam itu bersinar Galant (gitaris yang telah menelurkan album “About A”), Anto Arief (70’s Orgasm Club), Teman Sebangku (Sarita pada vokal dan Dolly Harahap pada gitar), Theorist (band yang terdiri dari 3 personil dari Indonesia dan 2 personil Malaysia), serta Mohd. Jayzuan (musisi dan penulis dari Malaysia).

Acara berlangsung cair dan interatktif. Dalam lagu Love Buzz, misalnya, Anto Arief mengajarkan penonton menyanyikan penggalan dari lagu. “Biasanya di lagu ini ada backing vokalnya soalnya, sekarang kan nggak ada,” ujarnya terus terang.

T
heorist, band blaster Malaysia-Indonesia pun sempat secara spontan menarik kawan mereka, Vicky Burgerkil, untuk ikut berpartisipasi dalam lagu Unity. Di tengah-tengah lagu, Vicky pun boleh dengan santainya hengkang.


Teman Sebangku yang bernuansa manis kekanakan menghadiahkan Waktu Malam gubahan Deu Galih. “Lagu ini emang dikasih buat mereka, soalnya vokalnya lebih cocok,” kata Deu Galih yang malam itu hadir juga di sana sambil tersenyum hangat. 


Acara ditutup dengan penampilan kocak Mohd. Jayzuan. Tak sekedar menyanyi, kawan dari Malaysia ini juga membacakan beberapa puisinya. Di sana antara lain tersampaikan rasa cintanya terhadap Bandung. Terhadap Indonesia.

Waktu malam, seribu kunang-kunang ramah menyapa dirimu
Butuhkah malam ini, kawan, dengan cahayaku? *

Malam itu aura persahabatan damai berpendar.

Tak perlu seribu kunang-kunang untuk memantik nyalanya …

Sundea









*penggalan lirik Waktu Malam, lagu Deu Galih yang dihadiahkan untuk Teman Sebangku.

Komentar