Cerita Kecil Tentang Bintang di Perut Batman



Sebuah bintang melekat di perut Batman. Warnanya hijau semu. Ia tidak bersinar, tapi posisinya yang dekat dengan mata kepala membuat ia lekas menarik perhatian.

“Ini lampu, ya, Pak?” tanya Dea kepada Pak Supir angkot yang sedang mengemudi. “Iya,” sahut Pak Supir. “Bisa dinyalain, nggak?” tanya Dea lagi. “Sekarang udah enggak, Neng, udah saya putus kabelnya,” jawaban Pak Supir membuat Dea terperanjat.



Alasan Pak Supir cukup unik. Si Bintang terlalu terang. Tetapi ia mengaku suka meramaikan angkotnya dengan asesoris. Itu sebabnya, ia membiarkan Si Bintang menempel di situ meski telah membunuh pangkal sinarnya. “Kenapa harus di Batman, Pak?” tanya Dea. “Saya suka,” sahut Pak Supir singkat. “Kenapa Bapak suka sama Batman?” lagi-lagi Dea bertanya. Pak Supir tidak menjawab. Ia menyungging senyum yang menyiratkan sesuatu, tapi entah apa. “Ya udah, deh. Bintang Batman-nya aku foto, ya, Pak …,” Dea minta izin. Pak Supir mengangguk. Senyumnya belum terbenam, tapi maknanya tidak terbit.

Jarak berangkot Dea tidak panjang. Sebelum sempat bertanya dan memotret lebih banyak, Dea sudah sampai ke tujuan. Sambil berjalan kaki menuntaskan sisa perjalanan, Dea mengamati foto yang baru Dea ambil. Bintang ini lucu sekali. Ia menjadi titik pusat pada bayang-bayang Batman. Mungkin Batman hanya membutuhkan titik tumpu. Sinar adalah sesuatu yang nantinya justru akan dipancarkan di luar angkot. 

Tiba-tiba Dea curiga kalau Dea naik angkot yang dikendarai Bruce Wayne, lelaki di balik sosok Batman …

Bintang-bintang menyala di langit. Tetapi bintang mati di langit-langit.

Sundea

0 comments: