Sang Adik dan Sang Pembatik

-Ciputra World Gallery, 20 November 2010-

Pameran Batik Mardijanto Djojosoemardjo: Sebuah Kekuatan Cinta

Saat saya memasuki ruang pameran, seorang ibu berkerudung menyambut saya penuh semangat, “Silakan, silakan, mulainya dari sini,” ujarnya sambil menggiring saya ke pojok ruang pameran. Selanjutnya secara rinci ia menjelaskan setiap karya yang terpampang di dinding pameran; mulai dari latar belakang pembuatan sampai bahannya, “Ini nggak ada yang berjudul karena kata kakak saya, judul bebas saja sebab setiap orang bisa punya persepsi sendiri,” ungkap ibu yang ternyata bernama Budiyati Abiyoga, adik bungsu almarhum Mardijanto Djojosemardjo sang seniman.




Mardijanto Djojosoemardjo (1927-2004) adalah seniman yang menjembatani tradisi dan lukisan modern. Menggunakan teknik dan pewarna batik, ia yang sempat belajar melukis di Badan Musjawaranah Nasional menciptakan karya-karya yang berani menyeberang pakem terutama pada zamannya. Ambil contoh dalam lukisan ibu dan anak ini:


Warna adalah daya tarik kuat karya-karya Pak Mardijanto. Ia yang konon selalu terbuai dengan warna begitu terampil menciptakan kesan dengan warna. Sekali waktu ia mencurahkan warna-warna cerah tanpa ragu, lain waktu ia menampilkan warna-warna yang wagu seperti dalam lukisan gunung merapi berikut ini:


“Merapi ini maksudnya keseimbangan alam,” kata Ibu Budiyati yang hampir tak pernah membiarkan saya berdiri menghayati lukisan kakaknya sendirian. Selanjutnya, berceritalah ia tentang karya-karya sang kakak yang mencerminkan kepedulian yang kuat pada kemanusiaan, kebangsaan, dan keimanan. Ia pun menyinggung buku trilogi mengenai Pak Mardijanto yang sedang ditulisnya, “Judulnya Sebuah Kekuatan Cinta. Kami sangat dekat. Suami saya pelaut. Kalau suami saya sedang tidak ada di rumah, kakak saya kadang menginap di rumah,” curhatnya. 



Pada akhirnya, ketimbang mencermati karya Pak Mardijanto, Saya lebih banyak mendengarkan Bu Budiyati yang tak henti-henti menuturkan kenangan dan cita-citanya. Ia bercerita mengenai sifat dingin, keras, dan kaku Pak Mardijanto yang membuatnya kurang disukai, dihapuskannya nama sang kakak pada sebuah buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, juga amanat sang kakak untuk membuat museum. Bu Budiyati yakin betul kakaknya adalah bagian mata rantai sejarah yang kurang mendapatkan perhatian. “Dia lebih diketahui di luar negeri daripada di negeri sendiri,” tandasnya.

Enam tahun setelah Pak Mardijanto meninggal, setelah mengandakan riset terhadap karya-karya kakaknya, Bu Budiyati menggelar 152 buah karya Pak Mardijanto pada pameran “Sebuah Kekuatan Cinta” di Galeri Ciputra 18-21 November 2010 lalu. “Kuratornya nggak ada saya susun saja sendiri,” ungkapnya. Saya tersenyum. Mencoba menangkap harapan yang setengah mati digotongnya agar tidak sampai jatuh.

Dalam perjalanannya menyeberang sejarah, jembatan Pak Mardijanto runtuh oleh usia. Tetapi di bawah sana, seorang adik yang sangat menyayanginya siap menangkap cita-citanya. 

… dan ia bersampan, menaklukkan harapan … 

Sundea 

0 comments: