There will be Blood: Saved by (Not Listening) the Bell

 
Di sebuah kota kecil California, there-will-be-bloodhiduplah Daniel Plainview (Daniel Day-Lewis), seorang penambang minyak buatan sendiri yang kaya raya dan berhasil. Ia memiliki seorang putra, HW Plainview, yang tuna rungu sejak kecil akibat kecelakaan kerja tambang. Di kota itu pula, berjaya Elli Sunday (Paul Dano), seorang pendeta kharismatik yang menjadi tumpuan keyakinan umat di kota tersebut. Film There Will be Blood bersudut pada ketiga orang ini dan berporos pada kekayan pertambangan. Daniel Plainview yang kejam, dingin, serta penuh intrik, waham Elli Sunday yang membuat gereja kharismatik tersebut penuh dengan praktik-praktik tak masuk akal, dan … HW Plainview yang tumbuh menjadi pemuda baik-baik, menikah dengan sahabat kecilnya, lalu memutuskan untuk meninggalkan usaha tambang sang ayah. 

There will be Blood yang disutradarai Paul Thomas Anderson ini sebetulnya bukan film favorit saya. Meski ....



... tak menyangkal kualitas film tersebut, saya terlalu frustrasi melihat kegilaan-kegilaan yang intens bertabur di sepanjang cerita. Tetapi ada salah satu adegan yang tercatat kuat di kepala saya; ketika HW berbalik badan sambil berjalan menuju pintu sementara sang ayah memaki-maki dengan kata-kata menyakitkan. HW yang baru saja memutuskan untuk pindah kota terlihat tenang dan damai. Ketidakmendengaran membuat kata-kata tak dapat mengkontaminasinya. 

Apa yang dapat didengar memegang peranan penting di seluruh film ini. Mulai dari soundtrack luar biasa garapan Jonny Greenwood dari Radiohead, kata-kata perusak citra diri yang fasih dilemparkan Daniel Plainview, kepentingan pribadi dan maksud-maksud diabolic yang dibungkus dalam khotbah persuatif Elli Sunday, serta desing dan dentum pertambangan yang monoton sekaligus menghantui. HW Plainview selamat dari seluruh pengaruh itu. Ketika melihatnya berbalik dengan wajah tenang dan makian sang ayah tak berpengaruh satu huruf pun, baru saya sadari betapa selama bertahun-tahun HW Plainview yang minim menangkap kata-kata menemukan bentuk tumbuhnya sendiri. Segala kegilaan tak bisa menyergapnya karena tuna rungu justru menjadi baju zirah paling ampuh sepanjang hidupnya. 

Film ini ditutup dengan matinya Elli Sunday. Kata-kata perusak citra diri yang dilontarkan Daniel Plainview membuat ia kehilangan segala keyakinannya dan mendadak gamang. Elli masih berusaha melawan Daniel dengan kata-kata “rohani” yang selalu menjadi senjatanya, namun kata-kata itu selalu kembali menyerang dirinya. Ia pun limbung. Saya lupa bagaimana persisnya, yang pasti kepala Elli kemudian pecah terhantam bola bowling. 

Setelah semua adegan tuntas, sebuah lagu klasik memungkaskan film ini. Agung. Namun ritmenya yang cepat dan strings section yang memburu memberi kesan tegang yang membuat saya sempat menahan nafas. Saya pun menyimpulkan; ada kalanya kita saved by the bell tetapi di kala lain, kita justru saved by (not listening) the bell

Saya tidak tahu bagaimana menutup artikel ini. Huruf-huruf ini bisu. Tidak ada soundtrack yang bisa meretsleting paragraf-paragraf yang menganga ini …

Sundea

gambar dirampok dari sini

0 comments: