Tuhan di Sadel dan Doa di Terpal


Seorang penjual krupuk mengaso di pinggir jalan. Doa memimpin gerobaknya, tuhan plastik kresek melingkupi sadelnya. Intuitif-impulsif saya menghentikan angkot yang sedang membawa saya dan menghampiri sang penjual krupuk.


“Kok sadelnya dibungkus pake kresek segala, Mas?” 


tanya saya pada penjual krupuk asal Ciamis yang ternyata bernama Mas Ade Tendi itu. “Biar nggak tembus air kalau hujan,” sahutnya. “Pernah nggak lupa pasang kresek terus keujanan?” tanya saya lagi. “Pernah. Celana jadi basah. Saya malu diliatin orang, dikirain apa,” sahutnya lagi sambil menahan tawa mengenang pengalaman itu. 


Bagi Mas Tendi musim hujan adalah berkah. Meski harus berrepot-repot memasang kresek dan terpal di gerobaknya, omset yang ia peroleh di musim ini jauh lebih besar. “Kalau musim panas dapatnya cuma tiga puluh sampai empat puluh ribu. Musim hujan bisa delapan puluh, malah kadang bisa sampai seratus ribu lebih, soalnya kalau musim hujan banyak yang makan mi,” ceritanya dengan mata berbinar. Hari itu masih ada tiga puluh lima ribu buah kerupuk di gerobaknya, “Tapi banyak langganan, kok. Yang di pasar-pasar ada yang ngambil lima ribu, sepuluh ribu, buat stok nanti syawal,” ujarnya optimis.

Setiap hari Mas Tendi berangkat pukul dua pagi dan pulang sekitar pukul empat sore. Ia mengayuh gerobaknya dari Cibaduyut, Pasar Ancol, Dago, sampai ke Pasteur. Konon profesi menjual krupuk ini sudah turun temurun, “Dulu orangtua saya juga jual kerupuk, tapi yang dipikul,” ungkap Mas Tendi, “Kalau dikabulkan saya berdoa bisa ganti profesi jadi juragan krupuknya,” katanya setengah berseloroh tapi membersitkan harapan yang sungguh-sungguh. “Jadi tulisan ‘doa’ di sini emang ada maksudnya, Mas?” tanya saya sambil melirik terpal gerobak. “Enggak, itu mah saya juga nggak tau. Yang penting buat nutup krupuk saya aja biar nggak kehujanan,” jawab Mas Tendi yang punya bayi berusia enam bulan ini.


“Doa” dan “Tuhan” adalah elemen yang membuat saya tertarik mewawancarai Mas Tendi. Ketika ditanya mengenai kedua hal itu, Mas Tendi menjawab sederhana, “Ya sama doa kita harus percaya, sama Tuhan juga kita harus percaya.” Saya tersenyum. Itulah yang tanpa sadar dilakukan Mas Tendi setiap hari. Ia mempercayai tuhan kresek hitam yang melapis sadel dan terpal yang menudungi krupuknya dengan setia, mengantarnya berkeliling jauh-jauh menembus hujan.

“Bandung udah sepi, lho, Mas, mudiknya kapan?” tanya saya. “Palingan besok, pas Lebarannya,” jawab Mas Tendi sambil mengepak krupuknya. Di penghujung wawancara saya membeli krupuk kuning. “Maap kreseknya nggak ada,” kata Mas Tendi. “Nggak apa-apa, bisa ditenteng, kok,” sahut saya. Kalaupun ada, tuhan lebih baik berjaga di dalam gerobak Mas Tendi, siapa tahu hujan turun lagi dan Mas Tendi membutuhkannya.


Saat memilih krupuk, saya menyadari sesuatu. Sejak tadi sepotong silet kecil menjuntai di sisi gerobak. Ia dan tuhan bertatapan lekat-lekat …

Sundea

Komentar