Tuhan dan Bungkus Snack Rasa Ikan

: kresek adalah tuhan

Tuhan hitam ditampar air laut. Menyentuh pantai, merangkul pasir, menjadi asin. Air membuatnya basah dan amis laut. Karang membuatnya luka sedikit, tapi tak sampai menghancurkan pesonanya.



“Selamat pagi, tuhan,” sapa bungkus snack rasa ikan. “Selamat pagi,” sahut tuhan ramah. “Ternyata tuhan begitu mirip dengan saya. Kita sama-sama plastik, sama-sama basah, sama-sama asin, dan sama-sama bau ikan. Saya senang sekali bisa sedekat ini dengan tuhan,” ujar bungkus snack rasa ikan gembira. Sebelumnya bungkus snack rasa ikan hanya mengenal tuhan-tuhan yang kering, hambar, dan bau bahan kimia di supermarket. Dia jadi bersyukur Dea membuangnya di tepi pantai.

“Bagaimana rasanya jadi bungkus snack rasa ikan?” tanya tuhan. “Rasanya … ? Hmmm … sebetulnya saya merasa keren. Wajah saya sering muncul di tv dan majalah, disandingkan dengan artis terkenal, dan orang-orang sepertinya merasa keren waktu membeli saya,” jawab bungkus snack rasa ikan bangga. “Membeli bungkus … atau snack rasa ikan?” goda tuhan jenaka. Bungkus snack rasa ikan terkesiap. 

Ia teringat pada snack rasa ikan yang dititipkan pabrik kepadanya. Sebagian dimakan Dea, sebagian lagi melempem dicuri angin. Bungkus snack rasa ikan sendiri lalu dilupakan dan menjadi sampah. Setelah snacknya dikuras, gambar yang tercetak di permukaannya pun memudar dicuri air laut, matahari, dan waktu.
Tetapi ia bertemu tuhan. Sedikit terhibur karena sekilas tuhan pun terlihat serupa dirinya. 

“Meski kamu bungkus snack rasa ikan, pasti kamu belum pernah melihat ikan. Ayo kita tamasya ke dalam laut,” ajak tuhan menyenangkan.

Bungkus snack rasa ikan ditampar angin laut; beringust ke perut tuhan hitam yang merengkuh apa saja tanpa pilih kasih. Bungkus snack rasa ikan meninggalkan pantai, mengindera pasir, dan menjadi asin air laut sungguhan. Ia sudah bersentuhan dengan tuhan, sebentar lagi ia bersentuhan dengan ikan.

Bungkus snack rasa ikan merasa memiliki segalanya. Sejak saat itu, tak ada lagi yang bisa dicuri darinya …

Sundea

0 comments: