Menjenguk Pasar Balubur



Seperti binatang buas dalam kerangkeng, plang “DILARANG BERJUALAN DI LOKASI INI. BERBAHAYA” mengaum di lokasi yang sempat berjaya sebagai Pasar Balubur. Ia sendirian. Aumnya telah membunuh kehidupan berpasar yang telah berlangsung selama sekitar sepuluh tahun. Tetapi lokasi itu memang miliknya, milik PDAM. Setelah jembatan di bilangan Kebon Kembang rampung sekitar tiga bulan yang lalu, pusat perdagangan Balubur yang dulu sekali memang berlokasi di sana, harus pulang ke habitatnya.




Usai berkeliling di wilayah Pasar Balubur lama, saya melanjutkan perjalanan menuju Pasar Balubur baru. Di bawah naungan gedung klimis yang masih bau cat itu, berjajar kios-kios yang baru memulai kembali geliatnya. “Di sini penghasilan menurun, soalnya banyak pembeli yang masih canggung masuk ke sini,” ungkap Mas Ijang dari kios ATK Murah. 

Sebaliknya Pak Surya dari Bursa Biskuit. “Omset saya malah naik dua kali lipat,” ujarnya dengan wajah sumringah. Menurutnya, tempat yang bersih membuat orang-orang lebih nyaman berbelanja. “Laku apa enggak itu gimana kita. Kita harus punya jaringan sendiri, sisanya komunikasi,” kata Pak Surya. Selain itu, pria yang enggan difoto ini pun berusaha menyediakan “yang aneh-aneh” untuk mata pengunjung. Ia menghiasi tokonya dengan beragam lampu, barang-barang antik, bahkan sekedar kaleng yang dicat warna-warni. “Kita ini orang seni. Setiap minggu hiasannya kita ganti gimana senengnya kita,” kata bapak-bapak Tionghoa-Garut yang telah 25 tahun berjualan ini. 

 
Ada pula yang tetap stabil seperti sediakala. Saat mengunjungi kios ATK Yosiko yang menjadi bintang di Pasar Balubur lama, lalu lintas tetap meriah. Letaknya pun tetap di bibir pasar, seperti ditakdirkan menjadi juru bicara pasar ini.


“Pak, emang sengaja milih posisi kios di sini?” tanya saya kepada kuncen kios Yosiko yang sibuk melayani pembeli. “Iya,” sahutnya. “
“Enak di mana, Pak, di sana apa di sini?”
“Sama saja.”
“Omsetnya gimana?”
“Sama saja.”
“Pengunjungnya tambah dikit atau tambah banyak?”
“Sama saja.”
“Ada pengalaman seru, nggak, setelah pindah ke Pasar Balubur baru?”
“Apa, ya? Ya begitu saja.”
“Tau, nggak, tempat yang dulu mau dibikin jadi apa?”
“Kurang tau saya.”

Telpon Yosiko berdering. Pak kuncen mohon diri untuk mengangkat telpon. Beberapa saat kemudian, ia kembali sibuk dengan konsumen. Saya mengucapkan terima kasih, pamit, lalu beringsut meninggalkan kios Yosiko. Meninggalkan Balubur baru. Dalam hati saya berjanji untuk kembali lagi kapan-kapan.

Di tengah-tengah Pasar Balubur baru masih ada jantung yang berdenyut. Tapi transplantasi tetap butuh waktu untuk beradaptasi.

Sundea

3 comments:

Karen mengatakan...

Transplantasi butuh adaptasi, jadi inget Grey's Anatomy.

Sundea mengatakan...

Hehehehe ... lagi hobi nonton itu, ya, Kay, kata Tiya ... =D

Si Tiya juga nonton sampe nangis2 di sini ...

fathoni mengatakan...

balubur arayam, pagi2 mari kita makan bubur ayam.