Lomo Sang Rumput

Solomon Anggiat Taruli Sihombing
19 April 1972 - 30 Agustus 2010
“Hah?! Solomon mana, nih?!” panik saya saat hastag RIPSolomon muncul di twitter. Sambil menelusuri informasi yang ada, saya berharap “Solomon” yang dimaksud bukan Lomo yang saya kenal. Ternyata Solomon yang disebut-sebut memang Lomo kami yang baik. Mendadak saya lemas.


 

Saat itu jam satu pagi. Tidak ada teman dekat yang berhasil saya hubungi. Satu-satunya sumber informasi saya saat itu hanyalah #RIPSolomon di twitter. Di sana berderet testimoni tentang Lomo: Good hearted person, less judgmental, menenangkan, humorous, tidak pelit … saya jadi teringat pada kunjungan terakhir saya ke TPU Menteng Pulo dua hari sebelumnya. Saat itu rumput-rumput yang diam seperti menyampaikan pesan; Lomo ada dalam diri mereka.

Lomo bukan bunga yang berusaha menarik perhatian dengan warna-warninya. Bukan pohon yang dominan memimpin dan kadang jumawa. Ia adalah rumput yang bersahaja dan mudah menyesuaikan diri. Tidak semerbak seperti bunga tapi aromanya selalu khas. Tidak berbuah tetapi paling banyak melahirkan embun di pagi hari. Saat terinjak ia menggelitik sekaligus sejuk di kaki. Saat angin menerpa ia mengayun tak tergesa sambil berdesir liris.

Sejauh yang saya kenal setengah tahun belakangan, Solomon Sihombing adalah teman , ayah, dan suami yang sebaik rumput. Siapapun merasa nyaman berada di dekatnya. Sebagai kameramen ia memiliki kepekaan mengambil gambar yang khas; detail, tidak tergesa, tetapi tak membunuh kita dalam kelambanan yang menjemukan. Sebagai teman ia tidak cerewet tapi juga tak bisa dibilang tak punya cerita.

Lomo pergi cukup mendadak. Setelah sempat duduk-duduk minum kopi sore bersama beberapa teman, ia bermain hockey. Setelah itu Sang Maha Pemangkas membabat nyawanya. Mengembalikannya pada tanah untuk kembali ditanam dan tumbuh dalam wujud yang lain.

Kelak makam Lomo akan dikelilingi oleh rumput-rumput yang membuat kubur batu merasa teduh dan nyaman. Para rumput lalu bercerita pada kubur batu, “Kamu tahu? Laki-laki baik yang ditanam di bawahmu telah tumbuh menjadi kami …”

Sundea

makamberumputrumput

Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk keluarga yang ditinggalkan
Lom, istirahat yang tenang, ya … tetep masih aneh rasanya lu udah nggak ada …

0 comments: