Dinding Dingin Rizky Anugerah


Rizky Anugerah adalah pangkas rambut kecil mungil di bilangan Siliwangi, Bandung. Sebelum akhirnya terjepit di antara Hotel Scarlet dan Bank Mandiri, selama tujuh tahun ia sempat bertetangga dengan salon klasik yang cukup elite, Leidya. 

Ketika tahun lalu Leidya bubar,

Rizky Anugerah tetap berjaya di tempatnya. Gedung-gedung besar tak dapat menelannya, waktu tak dapat menggerusnya, dan pelanggan-pelanggan yang terus mengalir menghidupkannya. Di balik semua itu, berdiri Pak Dede Stansah, laki-laki Garut berusia 43 tahun yang telah membuka usaha cukur selama dua puluh tahun. “Kenapa milih profesi jadi tukang cukur, Pak?” tanya saya. “Terpaksa. Nggak ada keahlian lain. Udah alami dari oroknya,” kata Pak Dede yang mengaku tak pernah kursus mencukur rambut ini. Saya tersenyum geli melihat cara bapak dua anak ini menjawab: dingin. Meski begitu, saat mengamatinya, saya mendapati passion dan ketrampilan dalam seluruh bahasa tubuhnya. 


“Kenapa namanya Rizky Anugerah, sih, Pak?” tanya saya. “Nama anak,” sahut Pak Dede singkat. “Kenapa anaknya dinamain Rizky Anugerah?” tanya saya lagi. “Ya namanya nama anak, semaunya saya aja. Rizky sama Anugerah mah bisa ngartikan sendirilah,” jawab Pak Dede sekenanya. “Teruuuus … waktu di belakang masih salon Leidya, Bapak pernah saing-saingan, nggak?” lagi-lagi saya bertanya. “Ya enggak. Kita mah masing-masing. Di sini nggak ada creambath, di sana orang nggak tau pakai pisau,” jawab Pak Dede.

Selama Pak Dede dan saya mengobrol, Pak Iyek yang sedang dicukur Pak Dede tersenyum-senyum simpul. “Bapak udah langganan, ya, di sini?” saya kemudian menanyai. “Iya. Di sini mah enak. Dia udah tau potongan rambut saya gimana, tinggal duduk, nggak usah nawar-nawar lagi,” sahut Pak Iyek yang sedang menikmati pijatan Pak Dede, “Dulu saya pernah langganan di tempat lain, tapi kecewa sama servisnya.” “Sebetulnya di sini nggak ada servis-servisan. Semua pangkas rambut sama-sama aja, yang beda hasilnya,” sambar Pak Dede.


Ketika ditanya mengenai pengalaman paling menarik selama mencukur, Pak Dede menjawab, “Menarik, sih, nggak ada. Mungkin menyenangkan. Dulu kalau musim Ospek saya paling seneng. Panen. Sehari bisa 80-90 orang. Tapi sekarang udah nggak ada gara-gara pas Ospek ada yang meninggal itu. Padahal mungkin meninggalnya bukan karena Ospek juga. Kalo udah waktunya, meninggal ya meninggal aja,” papar Pak Dede sembarangan dan datar. Pak Iyek dan saya tergelak-gelak.

Pak Iyek selesai dicukur. Bapak lain yang telah menanti segera duduk di singasana dan mulai dicukur oleh Pak Dede. “Di sini tarif cukurnya berapa, sih, Pak?” tanya saya. Pak Dede hanya menunjuk tulisan merah di dinding salonnya: “Dewasa: 8000, Anak: 7000, Kumis-Jenggot: 2000”. 


Sementara Pak Dede sibuk mencukur, saya menyusuri kemungilan Rizky Anugerah. Ternyata tak hanya tarif, nomor telpon Pak Dede pun ditulis dengan bolpoin di salah satu sisi dinding. 

Kusam dinding Rizky Anugerah adalah tinta yang ditorehkan masa ke masa. Ceritanya tidak terbaca tapi terasa. Saya menyentuhnya. Dingin. Meski matahari di luar bersinar hangat.

Sundea

3 comments:

Vai mengatakan...

seriously, si pa dede lucu2 banget jawabannya. apalagi dijawabnya dgn nada datar xD

Sundea mengatakan...

Iya. Emang lucu dia ...he2 ...

Dega mengatakan...

De, sesudah dicukur, dibedakin gak?