Leo Air

-Gedung Indonesia Menggugat, 31 Juli 2010-

Peluuncuran Kumpulan Cerpen (Cerita-cerita) Dari Luar Jendela

“Leo is high, as I am leaving …”
-When the Cookie Jar is Empty, Michael Franks-

39996_424943212961_786547961_4657684_4432944_n
“Mae, lu sadar nggak kalo dari tadi, pas ada yang nyanyi, pasti ada suara pesawat lewat ?”“

Iya. Lu tau, nggak kalau landing di Bandung itu paling susah ?”
“Kenapa ?”

“Soalnya tanahnya nggak rata, jadi mendarat di Bandung dramatis sekali …”

Seperti seekor singa, mereka yang bernaung di bawah rasi “Leo” biasanya petarung dan pemimpin yang tangguh. Secara performa, kharisma yang memancar membuat mereka menarik perhatian. Dan sebagai “raja hutan”, mereka pun berkesadaran untuk bertanggung jawab pada tugas yang diemban dan nama baik mereka.

Dan tepat di hari ulangtahunnya yang ke-24, Maestaccato yang berbintang Leo meluncurkan kumpulan cerpennya, (Cerita-cerita) Dari Luar Jendela (CDLJ). “Ini adalah laporan dari luar jendela,” begitu kata Mae mengenai bukunya yang diterbitkan oleh penerbit indie Ultimus dan berharga Rp 20.000,00 tersebut.

CDLJ adalah auman Mae atas berbagai ironi yang terjadi di Indonesia. Di sana ia mempertanyakan keadilan Tuhan, makna merah-putih pada bendera Indonesia, fenomena sekolah internatisonal, dan banyak lagi. “Sekolah bertaraf nasional saja masih sulit, akhirnya yang ada malah sekolah bertarif internasional,” komentar Pak Fredolin, salah satu hadirin yang menikmati karya-karya Mae.

“Menurut saya Mae cerdas,” Sinta Ridwan, pembicara dan penulis pengantar CLDJ yang juga telah menerbitkan Berteman dengan Kematian mengungkapkan. “Ia mengambil pilihan berbeda dari kebanyakan perempuan seumurnya,” lanjut Sinta.

“Mae, lu sadar nggak kalo dari tadi pesawatnya lewat pas lagu yang dinyanyiin emosinya lagi naik ?”

“Iya.”

“Gua jadinya merinding …”

Selanjutnya Mae dan saya diam. Menghayati Kembali Sepi yang sedang dibawakan Deugalih sambil menanti moment pesawat lewat yang menjambak bulu-bulu seperti magnet menyedot logam. Tetapi kali itu sepi adalah sepi.

“Di lagu yang ini nggak ada pesawat,” bisik Mae.

“Iya, ya …”

ngobrolsamae

Mungkin pada akhirnya setiap auman disusul oleh kesunyian yang panjang, memberi ruang pada gema untuk dibaca juga.

Deugalih menyanyi, “Kembali sepi, semilir angin bawaku ke dalam ya bumi … tenanglah ujarmu tenanglah …”

Di suatu tempat, ada pesawat yang sedang berjuang untuk mendarat …

Sundea

foto-foto dirampok dari Gorky

5 comments:

moonshadow mengatakan...

Ya Dea,...bunyi pesawat terbang yg terbang rendah pd malam itu mengalihkan konsentrasiku juga. Mungkin kalo siang hari bisa aku potret tuh pesawat.
By the way... this was a nice posting Dea.

-Gorky-

Sundea mengatakan...

Meskipun ngalihin perhatian, bunyi pesawatnya metaforik, Gork ...

Thank you, ya, nice pictures juga ... =)

mae.staccato mengatakan...

gorky , follow gw

Nia Janiar mengatakan...

Congratulation, Mae! Sorry gue gak bisa dateng!

Denger2 Theo juga mau loncing buku ya? Wah.. wah.. seru.

Sundea mengatakan...

Iya, Nia, hari Minggu di GIM jam 3 sampe jam 6. Dateng yayaya ...ajak temen2 sekalian =D

Info lengkapnya ada di posting terakhir minggu ini, yg judulnya "Launching Rona Kata"