Lekat

“Kalau mau nyetak sticker, mending yang transparan. Lebih mungkin ditempel orang di mana-mana,” saran ayah saya. “Iya, Kak, lagian sticker yang kertas kalau dilepas suka robek dan kertasnya nempel-nempel,” timpal pacar adik saya. 

Akhirnya saya memutuskan mencetak sticker Salamatahari di kertas transparan. Sepanjang minggu ini saya beroperasi menempelkannya di angkot-angkot. Ternyata, sekecil apapun, kelekatan selalu mengandung resiko. Sticker Salamatahari yang sempat ditempel di kaca lalu dilepaskan lagi paling tidak membawa debu-debu yang membuat si sticker melendung-melendung ketika ditempelkan di tempat lain.

Namun kelekatan jugalah yang mengafirmasi makna. Sticker menjalankan fungsinya sebagai media informasi saat melekat dan berjalan-jalan bersama angkot. Bidang angkot yang bening pun dapat bercerita karena sticker-sticker yang dipercayakan kepadanya. Lekat mengikat sekaligus membuat kuat.

Minggu ini www.salamatahari.com membagi posting-posting mengenai lekat. Ada kemarmutan yang sudah melekat natural pada Marmut Merah Jambu, pasangan versi Sky Jeda Siang, Blade Snapper yang harus meretas kelekatan pisau cutter, serta Ibu Tresna dan Pak Fajar yang sudah empat puluh enam tahun menikah.
Ada kisah yang sedih, ada pula yang bahagia. Sesungguhnya kesedihan dan kebahagiaan juga saling melekat dan mengafirmasi makna.

Selamat memaknai lekat bersama Salamatahari edisi minggu ini, Teman-teman

Semoga kelekatan kita pun membuat kita dapat saling memberi makna …
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

2 comments:

Karen mengatakan...

Sticker yang lama udah nggak berlaku lagi ya, karena pindah rumah. Padahal sticker itu masih nampang di laptop kita De.

Sundea mengatakan...

Hehehe ... gpp, Kay. Di laptop kita juga. Kalo orang ngetik salamatahari.blogspot pun langsung diarahin ke dot com, kok ... =)