Ibu Tresna Fajar, Kasih dan Mentari Pagi yang Selalu Lekat

Seorang ibu memasuki stand “Altje Ully’s Self Possesions feat. Salamatahari” di Jazz Craft Vaganza, Kotabaru Parahyangan

“Kenapa semuanya matahari ?” tanya sang ibu. “Saya memang suka matahari, Bu, ada websitenya juga, lho,” sahut Dea sambil memberikan selembar sticker Salamatahari.

Ibu itu lalu berkeliling stand dan akhirnya membeli dua pasang sandal kuning dan biru, icon Salamatahari. “Ini ceritanya untuk opa dan oma,” katanya sambil tersenyum. “Opa dan oma ?” tanya Dea. “Saya dan suami saya,” jelas ibu itu sambil masih tersenyum. “Aduh, cute banget … ibu mau Dea wawancara buat website Salamatahari, nggak ? Nama ibu siapa ?” tanya Dea bersemangat. “Kamu pasti terkejut. Nama saya Fajar, Ibu Tresna Fajar. Fajar nama suami saya, Tresna artinya Kasih …,” jawab sang ibu. Dea pun semakin bersemangat menjadikannya penyalamatahari edisi “Lekat”

Dea : Ibu juga suka sama matahari ?
Ibu Tresna : Ya. Menurut saya dia seorang teman, menemani kita, memberikan penerangan, pengharapan, kehangatan, senyum, dan kasih buat saya …

Dea : Seperti suami ibu, dong, Pak Fajar, hehehe … ngomong-ngomong, selekat apa, sih, ibu sama suami ibu ?
Ibu Tresna : Lekat sekali. Dia anugerah Tuhan yang sangat lekat dengan hidup saya. Saya rasa dia juga begitu terhadap saya.

Dea : Udah berapa lama, Bu, menikah dengan Bapak ?
Ibu Tresna : Sudah … (menghitung) empat puluh enam tahun …

Dea : Wowww ... udah lama juga, ya, sudah punya cucu ?
Ibu Tresna : Sudah sepuluh.

Dea : Jieeaaa … banyak. Sama cucu-cucu juga lekat, Bu ?
Ibu Tresna : Lekat sekali. Ini ada lima yang gentayangan di sekitar sini. Tadinya saya mau beli sandal buat salah satu cucu saya yang nggak pernah punya sandal. Tapi kalau cuma beli satu, nanti cucu-cucu yang lain protes. Padahal saya ingin sandal itu sampai kepada yang membutuhkan. 

Dea : Kalau Pak Fajar lagi butuh sandal, Bu ?
Ibu Tresna : Butuh. Soalnya dia kalau beli sandal sering nggak cocok. Tapi moga-moga yang ini cocok. Saya tahu suami saya sering complain, mungkin kalau saya belikan sandal ini dia complain juga karena ini warna sandalnya lain-lain, kayak sisa-sisa …

Dea : Lah … terus kenapa Ibu beli juga ?
Ibu Tresna : Saya hanya ingin memberi dia hadiah saja. Minimal ada kesan saya mengingat dia waktu membelikan sandal ini …

Dea : Aduh … romantis banget, Bu … ngomong-ngomong, Bapak juga ada di sekitar sini ?
Ibu Tresna : Ya, ada. Dia diundang datang …

Dea : Ooo … suaminya musisi jazz ya, Bu ? (asal tebak mode on)
Ibu Tresna : Oh, bukan, bukan. Kebetulan suami saya Ketua Yayasan Rumah Sakit Santo Boromeus. Di sini (Kotabaru Parahyangan-red) ada RS Cahaya Kawaluyan yang ada di bawah yayasan Santo Boromeus. Saya sendiri Psikolog, buka klinik di Boromeus.

Dea : Oh … psikolog, toh, Bu … dulunya kuliah di mana ?
Ibu Tresna : Unpad.

Dea : Jieaa … satu almamater, dong, kita … ihiw … Dea di Unpad juga, tapi ngambil sastra …

Di tengah-tengah obrolan seru lain mengenai almamater dan kehidupan sehari-hari masing-masing, Bu Tresna tahu-tahu bertanya, “Kamu tahu kenapa saya tadi berhenti di depan stand ini ?” Dea menggeleng. “Karena nama Altje itu. Saya pikir mungkin itu teman saya waktu kecil ….” Bu Tresna lalu bercerita mengenai senangnya bertemu teman-teman lama di hari tua. “Bukannya sombong, tapi ada perasaan we are the survivor. Di antara teman-teman yang sudah dipanggil Tuhan, kami masih hidup …” 

Kalimat Bu Tresna tahu-tahu berdentang seperti genta di kepala saya. Entah sudah berapa lama “fajar” yang mentari pagi  dan “tresna” yang kasih sayang menjadi survivor yang terus hidup dan berputar menjaga dunia bersama waktu. 

Sundea

2 comments:

M. Lim mengatakan...

Jadi bu Tresna temennya mamamu beneran?

Sundea mengatakan...

Bukan ternyata. Umur nyokap gua aja sekitar 25 taunan di bawah dia. Yang lucu, Bu Tresna almamater Angela juga, sama kayak nyokap gue ...