Ronald

Ronald Egmund Tangkau
25 September 1978-3 Mei 2010

Ronald bukan selebritis, bukan tokoh masyarakat, bukan juga sosok notorious yang dicari-cari polisi. Mungkin nggak semua pembaca Salamatahari.blogspot kenal Ronald. Tapi Dea yakin dalem idup  masing-masing kita paling nggak kenal satu orang “Ronald”.

Ronald adalah pemuda sanguin yang suka ngomong sembarangan. Dia yang waktu SMA sekelas sama sepupu Dea, udah lebih dari sepuluh taun jadi sahabat keluarga. Kadang Ronald nyebelin. Komentar-komentarnya suka berkesan ngajak berantem, percaya dirinya suka berlebihan, dan dia sering banget nyanyi keras-keras sambil bergaya-gaya tanpa ngeliat sikon. 

Tapi kalo ditelaah lagi, pada dasarnya kita semua sayang sama Ronald. Kalo ada sesuatu yang penting di keluarga, kita selalu kepengen Ronald ada juga. Di hari-hari yang “krik-krik”, kehadiran Ronald pun selalu kita tunggu-tunggu. Ronald seperti keriuhan di ulang tahun anak-anak ; seperti suara musik yang kenceng di tengah pesta. Dia ditunggu, tapi kita nggak pernah bener-bener sadar kalo sebenernya kita justru nunggu keriuhannya itu.

Beberapa hari yang lalu, Ronald dikabarin kritis di rumah sakit. Keriuhan yang jadi ciri khas Ronald bikin Dea ngerasa Ronald adalah hidup itu sendiri. “Dia pasti bisa ngelewatin ini,” pikir Dea yakin. Tapi ternyata, enggak, Temen-temen. Tanggal 3 Mei, subuh-subuh, Dea dapet kabar dari Theo, penyiar Sky FM yang juga bergabung di Paduan Suara Glorify sama Ronald, kalo Ronald udah nggak ada. Di titik itu Dea kayak diingetin ; hidup itu nggak berdiri sendiri. Kematian ngedasarin.

Sejak hari itu, Ronald nggak akan pernah dateng lagi ke rumah, ngelontarin komentar-komentar aneh, nyanyi-nyanyi sambil bergaya-gaya, cerita ngalor ngidul, ngajak kita main yang seru-seru … 

Keriuhan nggak berdiri sendiri. Kesenyapan ngedasarin. Waktu riuh direnggut tiba-tiba, ada bunyi “ngiiiiing” yang panjang dan lengang. 

Pagi itu Jakarta kerasa dingin. Frekuensi tinggi bikin tulang dan gigi jadi ngilu …

Ronald dan keluarga besar Dea

Sundea
Selamat istirahat, ya, Nald …

8 comments:

Anonim mengatakan...

Wah, gue suka banget ending-nya. Begitu merangkum segalanya!

"Pagi itu Jakarta kerasa dingin. Frekuensi tinggi bikin tulang dan gigi jadi ngilu …"



Nia Janiar
mynameisnia.com

Anggia mengatakan...

Keren.
Aku hanya kenal sosok "unik" bernama Ronald itu baru 3 tahun. tapi dia ninggalin begitu banyak kenangan.

btw, apa boleh aku posting link salamatahari di fb? supaya temen2 glorify bisa liat tulisanmu juga?

Sundea mengatakan...

@Nia : Makasih, ya, Ni ...

@Anggia : Boleh, Nggi ... monggo ...

Vai mengatakan...

Obituari nya bagus. Selamat jalan, Ronald..

Sundea mengatakan...

Thank's, Sist ...

Iya, selamat jalan, Ronald, sing and praise the Lord there in heaven ...

blueismycolour mengatakan...

kehidupan didasari oleh kematian..
keriuhan didasari oleh keheningan!

nancap bgt De! ugh..

Selamat jalan buat Ronald! semoga diterima di sisi Bapa..
skrg doakan n nyanyikan saja lagu indah utk kami dr atas sana..

Sundea mengatakan...

Amiiin ...

Semoga Ronald denger, Li ...

mae ayu mengatakan...

hadeuh , walopun baru sehari kumpul dan dikenalkan sama org ini via ray , hhooaaaa kami langsung bisa menggelegar bersama sambil lempar2 sedotan . Secara Alm-aku-ray sama2 rame rempong pula hehehe. met jalan bang .