Kakak Mia

“Kakak Mia, Kakak Mia
Minta anak barang seorang …”

Berulang-ulang lagu itu berkumandang di sepanjang gang Pengadegan Selatan II, Kalibata, Jakarta. Ia menelan suara ibu-ibu yang bergosip. Membuat tawa anak-anak lepas sebentar lalu jatuh lagi ke aspal. Kakak Mia konsisten menjaga ritmenya, karena itu ia menjadi satu-satunya suara yang berjaya.

Saya yang duduk sendirian menunggu teman saya bangun, pada akhirnya menyimak lagu yang tidak tidur-tidur itu. Setelah betul-betul akrab dengan nadanya yang lincah dan ringan, saya mencermati liriknya,

“Kakak Mia, Kakak Mia
Minta anak barang seorang
Kalau dapat, kalau dapat, akan saya suruh berdagang …”

Berdagang ?! Siapa rupanya Kakak Mia ini ? Entahlah. Lagu tidak mencatatnya. Yang pasti ia kemudian menyambut permintaan dengan suara merdu,

“Anak yang mana akan kau pilih ? Anak yang mana akan kau pilih ?”
Setelah jeda satu ketukan, permintaan menjadi lebih spesifik,
“Itu yang gemuk yang saya pilih, bolehlah ia menjual sirih …
Sirih, sirih, siapa beli …”

Saya terkesiap. Seperti suara dari tape yang hampir kehabisan baterai, lagu itu jadi terdengar berat dan sumbang. Di sana ada dua pihak bertransaksi tanpa melibatkan anak kurus dan gemuk yang mereka suruh berdagang. Lagu menjadikan anak-anak ini komoditi. Mereka yang berdagan sirih dan krambil tak memiliki hak atas diri mereka sendiri.

“Lagu dari mana, sih, nih ?” pikir saya. Saya pun berlari keluar rumah dan mendapati sebuah odong-odong yang dikayuh, namun tak bergerak ke mana-mana. Seorang Bapak duduk di sadel dan menggenjot agar lagu tidak berhenti ; menelan suara ibu-ibu yang sedang bergosip; membuat tawa anak-anak lepas sebentar, lalu jatuh lagi ke aspal. 


Di atas odong-odong, anak-anak duduk di sepeda-sepedaan. Mereka mengayuh tapi tak punya kendali atas apapun. Saya mengintip dari balik gerbang sambil memotretnya dengan kamera dan kepala.

Lagu Kakak Mia akhirnya berhenti diputar. Gantinya adalah lagu lain yang juga menceritakan betapa giatnya anak-anak bekerja,

“Ita, Mira, ayo kita ke ladang …”

Sundea

4 comments:

Karen mengatakan...

Kok jadi serem ya De. Kesannya odong2 itu dibikin semenarik mungkin biar anak2 dateng. Terus ntar kalo anak2nya udah kekumpul, disuruh kerja paksa :(

Sundea mengatakan...

Oliver Twist ...

Kay, kita ga tau nih musti serem ato ketawa baca komentar ini ...

Karen mengatakan...

Iya bener De, Oliver Twist itu yang melintas di pikiran kita.
Btw, genre tulisan kamu yang ini horor atau komedi atau sekedar report? Tadi pagi kita baca, terus Martin pasang CD yang lagunya surem2 gitu, makanya jadi kepengaruh banget De. Hehehehe... :D

Anonim mengatakan...

Enggak, gue ingetnya malah sama nenek sihir di rumah kue itu lho.

Dipikir-pikir, ini lagunya serem banget. Apalagi dibalut sama suara merdu tapi nipu. Hiii..


Nia
mynameisnia.com