Dua Belas Menit Terakhir

Sekitar dua belas menit sebelum turun di pool busway transjakarta Pasar Festival, Dea baru sadar kalau ada sepatu bayi warna merah bergelantung di spion. Meskipun pegangan abu-abu di sepanjang lorong bus ngayun-ngayun jaim, sepatu merah yang ceria tetep memimpin.


“Pak, kok lucu, sih, hiasannya sepatu bayi ?” tanya Dea ke Pak Supir. “Karena anak-anak itu masih polos,” saut Pak Supir dengan nada suara yang anget dan bersahabat. “Kalau masih polos kenapa, Pak ?” tanya Dea lagi. “Ya … bersih aja,” jawab Pak Supir sederhana. Secara konsep dia nggak ngejelasin banyak, tapi secara rasa Dea paham seutuhnya.

“Nama Bapak siapa ?” tanya Dea. “Ayooo … siapa ? Bisa siapa aja,” kata Pak Supir jenaka. “Kalo Bapak ngasih tau, aku kasih buku,” iming Dea. “Penulis, ya ?” tanya Pak Supir. Dan … pssss … bis ngerem. Dea belum sempet ngejawab pertanyaan Pak Supir, Pak Supir juga belum sempet ngejawab pertanyaan Dea. 

Sepanjang jalan menuju angkutan umum lain, Dea cerewet nyerita ke Em dan Bayu, temen-temen yang nge-busway bareng Dea, tentang baiknya supir busway tadi. Sebelum ngobrolin sepatu, Pak Supir dan Dea juga sempet ngayal tentang Diatabs raksasa yang bisa nyembuhin diarenya busway. “Kayaknya dia suka ngobrol dan main-main, lho,” kata Dea. “Supir bus itu orang-orang yang kesepian, mereka pasti seneng kalau ada yang ngajak ngobrol,” komentar Bayu. 

Kesepian ? Mungkin. Seperti sepatu merah yang sendirian di spion, Pak Supir sendiri di balik kemudi. Ketika para penumpang duduk hadep-hadepan, dia duduk ngadep ke arah bis berjalan. Hmmm … itu artinya dia memimpin, sama seperti si sepatu merah.

Tapi apa itu sepi ? Sepatu merah yang “teralienasi” tampak merayakan ayunnya, sementara pegangan bus yang beramai-ramai malah kelabu dan sendiri-sendiri. Dea jadi inget penumpang-penumpang busway yang keliatan lelah, kosong, dan sepi. Bertolak belakang sama Pak Supir yang bulak-balik jalur busway tapi keliatan sehat, penuh, santai dan bahagia-bahagia aja. 

Temen-temen, udah pernah baca cerita “Sepatu Merah” ? Sepatu itu bikin yang make nggak bisa brenti nari. Dua belas menit menjelang turun dari busway transjakarta Dea berkenalan sama sebuah sepatu merah. Sepanjang malemnya, Dea seperti nggak bisa berenti nari. 

Sundea

5 comments:

Andika mengatakan...

Perasaanku jadi campur aduk begini.

Sundea mengatakan...

Lah ... kenapa ?

Andika mengatakan...

Karena tulisan ini ada senangnya, ada juga sedihnya. Dan tanpa embel-embel ajaib pun sebetulnya di dunia ini ada sepatu-sepatu yang membuat pemakainya jadi kepingin, atau malah tak bisa berhenti menari.

nando.gino mengatakan...

Jadi kepikiran dengan supir bus transjakarta dan supir lainnya. Jadi berkeinginan untuk ngobrol dengan mereka >,<

Sundea mengatakan...

@ Andika : Lifelifelife ... =)

@Nando : Kamu di Jkt kan ? Coba, deh, sekali waktu ajak mereka ngobrol. Seruuu, lho ... =)