POPO-Popo di Dinding Diam-diam Meraya(p)*

-Jakarta, Jumat 19 Maret 2010-

Solo Exhibition Popo : “Numpang Nampang” (Ruang Rupa Gallery, 8-20 Maret 2010)

“Yang mana, Neng ?”
“Nggak tau, deh, Bang, saya juga belum pernah ke sana. Ini Tebet Timur Dalam Raya, bukan ?”
“Ini mah Tebet Timur doang, yang Raya di sebelah sono …”
“Ya udah, berarti kita ke Raya …”

Pembicaraan dengan supir bajaj itu membuat saya senyum-senyum sendiri. Pergi ke Raya. Untuk menonton pameran yang digarap seniman bernama asli Riyadi – artinya hari raya. 

“No.6. Nah, ini dia, Bang … stop, stop …,” bajaj pun berhenti di depan Ruang Rupa Gallery. Sepi. Jauh dari kesan raya. Berbagai barang berserakan di pekarangannya yang tak seberapa luas. Ketika memasuki galerinya, saya pun mendapati ruang lengang dengan grafiti dan berbagai atribut klasik ; lukisan pemandangan, kaleng krupuk blek, mangkuk ayam, kursi rotan, dan jajaran foto-fotoan dengan tokoh yang plain secara warna dan bentuk, namun rich of flavor secara ekspresi. POPO.

popordinaryboy
gambar diambil dari sini

 POPO adalah karakter yang diciptakan oleh Riyan Riyadi alias Popo, seorang street artist yang terkenal dengan mural-muralnya. POPO adalah semacam refleksi, logo, simbol, atau karakter yang mewakili sang seniman sendiri untuk menceritakan sesuatu secara visual. 

Dalam pameran “Numpang Nampang” yang dikuratori oleh Andi Rharharha dan Bujang Urban, POPO yang nyaris tak berwarna justru hadir membawa warna bagi berbagai atribut klise. Pada gambar hutan yang damai, POPO hadir sebagai alien yang menculik rusa (“Desaku yang Kota”), pada mangkuk putih bakso, POPO hadir memberi makan ayam. Dan pada “Computer Desktop Series”, POPO hadir sebagai sosok yang bermain golf, naik unta, bahkan terbang dengan baling-baling bambu ke bulan.

desakuyangkota
“Desaku yang Kota”

“Kalo lu beli PC baru, lu pasti dapet gambar-gambar pemandangan. Nah, di situlah tempat-tempat gue pengen berlibur,” ungkap Popo dalam katalog “Numpang Nampang”. Berangkat dari cita-cita itulah tampaknya Popo membubuhkan kehadiran POPO dalam bidang-bidang kosong pemandangan desktop. Ketika kecil, ia pun pernah mengecat lantai semen abu-abu kamarnya dengan cat warna-warni karena ingin mempunyai lantai marmer seperti milik temannya. Sepertinya Popo tak akan membiarkan sesuatu membusuk dalam klise yang dingin dan sepi. Mungkin itu sebabnya pula ia gemar membuat mural-mural di dinding yang plain. Dengan sosok POPO, ia memperpanjang usia kesan. Hmmm … “Riyan” berarti panjang. Kalau begitu, “Riyan Riyadi” bisa bermakna “Hari Raya yang panjang”, dong …

Di sebelah ruang galeri, terdengar suara satu terompet. Jauh dari kesan pesta, namun memiliki kemeriahannya yang mandiri … 

Sundea

* diplesetkan dari lirik lagu anak-anak Cicak-cicak di Dinding

Lebih banyak tentang POPO dan Popo ada di 

http://www.thepopopaint.blogspot.com/

foto : dok. Ruru Gallery, http://www.thepopopaint.blogspot.com/

2 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

aku mau tanya, sebelum 'ditumpangi' Popo, lukisan Desaku yang Kota itu judulnya apa dan karyanya siapa ya? Karena rasanya kok pernah lihat ada yang jual di deket rumah..

Sundea mengatakan...

Nah itu dia ... unknown kayak legenda ...