Emas

“Pak, Bapak nggak pernah senyum, ya ?”
“Jarang.”
“Kenapa ?”
“Kayak orang gila aja ketawa-ketawa.”

gemboksumberhidangan

Namun, saat ia berbalik, selintas senyum tanggungnya tertangkap mata saya. Giginya kuning seperti lembar kertas lama. 

Pak Beni adalah pramusaji Rumah Makan Sumber Hidangan, Bandung. Ia yang telah dua puluh tahun lebih mengabdi di sana, klasik seperti nuansa Braga yang melingkupinya. 

Setiap hari Pak Beni berdiri atau duduk tegak di kursi kayu dekat kasir, menanti pengunjung, lalu melayani mereka tanpa banyak basa-basi. “Dalam tugas nggak bisa kita ngobrol-ngobrol, itu etiket,” prinsipnya.
“Saya pengen wawancara Bapak buat blog saya.”
“Jangan ke saya, nggak boleh itu, ke yang punya Sumber Hidangan saja.”
“Lah … tapi kan saya pengen nulisnya tentang Bapak …”

wawancarapakbeni Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Pak Beni bersedia. Meski begitu, kami harus mengobrol sambil berdiri karena dia tak ingin lalai bertugas. Selama mengobrol dengan saya mata Pak Beni terus beredar menyusur ruang, mengawasi kalau-kalau ada pengunjung yang membutuhkannya. 

“Di Sumber Hidangan kan ada jam tidur siang segala. Bapak ikut tidur siang juga ?”
“Ya.”
“Di mana ?”
“Di sini ada gudangnya.”
“Berapa lama, Pak ?”
“Paling satu jam. Untuk menghilangkan payah saja. Di Sumber Hidangan kita kerja tidak dipaksakan. Kalau waktunya istirahat, ya istirahat.”
“Pas tidur siang pernah mimpi, nggak, Pak ?”
“Nggak. Kalau ada masalah apa, nggak pernah kebawa tidur.”
“Pak Beni,” panggil perempuan di balik etalase roti. Gegas Pak Beni menghampiri perempuan itu  membawa nampan dan piring untuk kue.

“Café Glasse itu apa ?”
“Es krim moka dengan taburan kacang.”
“Snow White ?”
“Es krim vanilla dengan kismis.”
“Gado-gado masih ada ?”
“Habis.”

Lugas dan seperlunya Pak Beni menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung. Meski senyum dan keramahan sering dianggap sebagai bekal memikat pengunjung, sepertinya tidak bagi Pak Beni. 

Dengan diam, setiap hari Pak Beni menyepuh pengabdiannya. Tanpa ia sadari puluhan tahunnya menjadi emas dengan caranya sendiri, “Saya senang di sini. Kekeluargaan. Saling tolong menolong, membantu, tanpa pandang bulu,” papar Pak Beni. Ada lompatan kecil di nada suaranya. Kecil sekali. Tapi jelas terasa.

Pak Beni kembali bekerja. Sesekali, ketika senyum tanggungnya tersungging, giginya yang kuning seperti kertas buku harian tua mengilas. 

Saya mengamati. 

Dan diam-diam, dinding Sumber Hidangan yang menguning disepuh masa pun ikut mengamati.
Sundea

pakbenisendiri

6 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

Pak Beni ini mengingatkan aku sama 'Dwarapala'; sepasang patung penjaga di gapura candi.. yang setia menyambut pengunjung dengan wajah beku yang sangar..

Dia memiliki secercah mental prajurit zaman klasik ya? Macam samurai era Shogun!

Sundea mengatakan...

Wah, bisa jadi, lho ...

Makanya kamu ke Bandung, entar aku ajak ngeliat Pak Beni secara live dan mastiin semirip apa dia sama Dwarapala =p

Karen mengatakan...

Jadi inget dulu kita pernah pergi sama oma-opa ke sini, terus pada akhirnya dibeliin permen dingin. Hehehehee.... :D

Vai mengatakan...

Iyah tar kalo gw ke bandung kita kemari yaaahh..

@Karen: permen dingin? wihwihwihihi.. jadi pengen yah. Permen dingin istilah/makanan yg dah lama gak kita denger..

Sundea mengatakan...

@ Kay n Vai : Hahaha ... iya. Sumber Hidangan ini tempat yg cukup nostalgia buat kita, ya, soalnya opa suka ke sana.

Permen dingin. Hmm. Ke Bandung, yuk, semuanya, kita ke Sumber Hidangan rame2 =D

widi mengatakan...

no comment ahhhhh

cm menikmati critanya aja...