Nerve End or Never End ?

Ok. Kali ini, Salamatahari.blogspot ketamuan penyalamatahari yang cukup serius. FYI, tulisan ini mengalami revisi sampai dua kali. Alasan Davina, “ngecek referensi dulu supaya tidak terjadi pembodohan massal …” Hihihi.
Baiklah. Silakan, lho, Bu Dokter …

vina Nerve end = ujung saraf
Merupakan struktur terminal dari akson (serat saraf panjang yg mengonduksi sinyal dari badan sel neuron yang tidak berakhir pada sinaps).
Ujung saraf terdapat baik pada jalur aferen (membawa sinyal ke otak = mendeteksi stimulus) maupun pada jalur eferen (membawa sinyal dari otak = memerintahkan fungsi tubuh). Ujung saraf yang berfungsi sebagai penerima rangsang pada jalur aferen disebut reseptor. Sedangkan yang berfungsi sebagai alat penghasil tanggapan pada jalur eferen disebut efektor.
RESEPTOR

Reseptor bekerja secara khusus_Reseptor tertentu hanya akan menerima rangsang jenis tertentu. Reseptor dapat dikelompokkan berdasarkan struktur, lokasi sumber rangsang serta jenis atau sifat rangsang yang dapat diterima oleh reseptor.

Berdasarkan jenis energi yang diterima, reseptor dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Fotoreseptor = peka terhadap cahaya, terdapat di retina mata, terdiri atas sel batang dan sel kerucut.

  2. Mekanoreseptor = peka terhadap energi mekanis, contoh reseptor otot rangka yg peka thd peregangan, reseptor di telinga yang mengandung sel-sel rambut halus yang menekuk akibat adanya gelombang suara, dan baroreseptor pemantau tekanan darah. Ada 4 tipe mayor:

    1. Meissner's corpuscles (atau tactile corpuscles) = suatu jenis ujung saraf mekanoreseptor di kulit yang bertanggung jawab terhadap sensitifitas sentuhan ringan.

    2. Pacinian corpuscle = ujung saraf menyerupai bohlam (bulblike) atau kulit bawang (karena bentuknya bulat dan berlapis-lapis) terletak di jaringan subkutan kulit, paling banyak di telapak tangan, kaki, sendi dan genital, fungsinya mendeteksi rangsangan raba, tekanan. Reseptor ini lebih besar ukurannya dan jumlahnya lebih sedikit dibanding Meissner dan Sel Merkel.

    3. Merkel cells: sel reseptor berbentuk oval di kulit yang berfungsi mendeteksi sensasi berbagai sentuhan ringan untuk membedakan bentuk dan tekstur.

    4. –satu lagi ga nemu--

  3. Termoreseptor = peka terhadap panas dan dingin, termasuk serat A delta dan serat C.

  4. Osmoreseptor = mendeteksi perubahan konsentrasi za-zat terlarut dalam cairan tubuh dan perubahan afinitas osmotik yang terjadi.

  5. Kemoreseptor = peka terhadap zat-zat kimia tertentu, termasuk di dalamnya adalah reseptor indra penghidu / penciuman dan pengecapan serta reseptor dalam tubuh yang mendeteksi konsentrasi oksigen dan karbondioksida dalam darah atau zat kimia dalam saluran pencernaan.
6. Nosiseptor = (reseptor nyeri) peka terhadap kerusakan jaringan, misalnya akibat tusukan atau terbakar. Ujung saraf bebas = ujung saraf aferent (sensorik) à membawa informasi dari tubuh ke otak. Fungsi untuk mendeteksi rasa sakit (nosiseptif). Ujung saraf bebas tidak berkapsul, beda dgn pacini & meissner. Ini adalah tipe yang paling banyak, banyak terdapat di kulit, mempenetrasi epidermis dan berakhir pada stratum granulosum.

NOTE: Ransangan yang berlebihan terhadap SEMUA RESEPTOR juga dirasakan sebagai NYERI
SARAF PADA GIGI

Ujung saraf bebaslah yg terdapat di dalam (pulpa) gigi. Ini yang mendeteksi rasa sakit pada gigi berlubang dsb. Dibagi menjadi rapidly adapting, intermediate adapting, atau slowly adapting.

Ada serat saraf A dan C. Serat A, terutama A delta adalah fast-adapting dengan karakteristik nyeri tajam, dan bila rangsangan hilang maka nyeri juga hilang (ini biasanya terjadi bila gigi lubangnya belum dalam).

Sedangkan serat C adalah tipe slowly adapting, karakteristik nyerinya tumpul (kemeng), menetap dan menjalar (bila rangsang sudah hilang rasa kemeng masih menetap beberapa waktu, nyeri berdenyut menjalar yang sulit dilokalisir di mana sumber sakitnya). Pada gigi berlubang yang sudah mengenai pulpa (rongga anatomis pada gigi yang berisi pembuluh darah dan saraf), karena rangsang dan reaksi radang maka serat saraf A bisa jadi sudah mati, tetapi serat saraf C tdiak mati karena lebih tahan dan letaknya lebih di dalam, karena itu bila gigi lubangnya sudah dalam maka nyeri yang muncul adalah nyeri dengan karakteristik serat saraf C.

Pada jaringan sekitar gigi / jaringan penyangga gigi (bahasa kerennya periodontal) (meliputi gusi, tulang alveolar, sementum, ligamen periodontal) terdapat lebih banyak serat C, oleh karena itu gangguan pada jaringan penyangga gigi dapat menyerupai karakteristik nyeri serat C pada pulpa sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosa bila tidak hati-hati.

EFEKTOR
EFEKTOR adalah ALAT PENGHASIL TANGGAPAN BIOLOGIS. TANGGAPAN yg DIHASILKAN oleh EFEKTOR sangat BERVARIASI MULAI dari TANGGAPAN yg dpt dilihat secara kasat
MATA Misalnya : GERAKAN TUBUH yg DIHASILKAN oleh JARINGAN OTOT yang berkontraksi maupun TANGGAPAN yg tidak dapat DILIHAT dgn kasat mata misalnya SEKRESI HORMON oleh organ/kelenjar ENDOKRIN. JENIS TANGGAPAN YG DIHASILKAN oleh EFEKTOR TERGANTUNG pada JENIS RANGSANG dan JENIS EFEKTORNYA.
Dari berbagai sumber:

  1. Bahan kulian RESEPTOR & EFEKTOR oleh ELLYZAR I.M. ADIL, DEPARTEMEN BIOLOGI FMIPA UI

  2. Sherwood L, Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC, 1996.

Bagaimana, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian ?

Maria Davina, drg sedang ambil spesialisasi Endodontik (perawatan saraf gigi) di UI, angkatan 2008.
penyalamatahari adalah teman-teman yang men-salamatahari dan menyalakan matahari

2 comments:

Aditya Naratama mengatakan...

Bagaimana menurut Sundea kalau bagian yang 'masih gak nemu' itu ditemukan terlebih dahulu.. saya sudah menghabiskan energi otak untuk memberi perhatian pada tulisan ini.. hey! saya nggak biasa tau baca yang canggih begini!

Sial-sial-sial.. saya sebal..

Sundea mengatakan...

Kalo di lenong2 gitu ada sound effectnya :

"TAK JEDES !"