Semerah Sinar Mentari

emrisized
Sewaktu kecil, saya sering bingung bagaimana caranya menggambar sinar matahari. Masa itu gambar yang sedang tren adalah gambar dua gunung dengan matahari menyembul di tengahnya. Saya bingung menggambar sinarnya. Apakah dengan garis lurus atau dengan garis putus-putus. Kalau dengan garis lurus, matahari akan seperti manusia berambut jigrik (bahasa anak sekarang sih “spike”). Kalau dengan garis putus-putus, matahari akan lebih menyerupai ondel-ondel. Akhirnya, tidak seperti kawan-kawan yang lain, saya seringkali hanya mewarnai bagian dalam matahari tanpa menggambar sinarnya.

Selain itu, saya juga sering ribut dengan teman karena saya sering salah memberi warna matahari. Menurut mereka matahari berwarna kuning, sementara saya memberi warna orange atau hijau muda pada gambar matahari. Saya sebenarnya tahu kalau matahari berwarna kuning, namun entah mengapa saya sering salah mencomot pensil warna. Hasilnya matahari di gambar-gambar buatan saya seringkali tidak konsisten warnanya. Kadang-kadang kuning, kadang hijau muda, kadang orange. Setelah lulus SMP barulah saya mengetahui kalau saya buta warna tertier alias tidak bisa mengenal warna turunan ketiga.

Ketidakpekaan mata saya terhadap warna, mungkin juga yang menyebabkan saya tidak punya warna favorit saat itu. Sampai akhirnya, Sewaktu SMA saya membaca sebuah artikel di majalah remaja tentang warna dan karakter penyukanya. Setelah dibaca-baca saya merasa lebih dekat dengan warna merah yang melambangkan keberanian, kegairahan, sekaligus kehangatan. Semenjak itu saya memutuskan warna merah sebagai warna favorit. Bukan karena diri saya memiliki karakter tersebut, melainkan karena saya ingin kehidupan saya dipenuhi oleh nilai-nilai tersebut.

Karena mata saya masih peka melihat warna merah, maka tidak masalah bagi saya untuk mengenali warna itu. Mulailah muncul rasa yang berbeda setiap kali saya melihat sesuatu yang berwarna merah. Meski tidak mengumpulkan barang-barang serba merah, namun seringkali warna merah menjadi penentu keputusan saat saya kebingungan memilih barang. Seperti magnet, barang-barang berwarna merah selalu tampak manis di mata saya.

Warna merah akhirnya bukan hanya sebuah warna bagi saya. Warna merah memunculkan semangat yang menyala-nyala. Warna merah memberi kegairahan untuk menikmati hidup. Warna merah juga menebarkan dukungan yang luar biasa dari seluruh dunia.

Lalu saya berpikir, seandainya warna merah sudah menjadi warna favorit saya sejak kecil dulu, mungkin setiap kali menggambar matahari, saya tidak akan pernah salah mengambil pensil warna atau tidak perlu pusing bagaimana menggambar sinarnya. Karena lurus atau putus-putus, tetap warna merahlah yang sinarnya membuat dunia saya berseri seperti sinar matahari.


Penyalamatahari adalah teman-teman yang men-salamatahari dan menyalakan matahari.

1 comments:

Sundea mengatakan...

Lu juga "brightly red", Em, sebagai orang ... hehehe ...