Piano Lesson

“Sebenernya lagu ‘Ebony and Ivory’ kan rasis juga,” kata temen Dea pada suatu hari.

“Masa’, sih ? Bukannya sebaliknya ?” Dea balik nanya.

“Pas ada workshop puisi, lagu ini dibahas. Coba, deh, peratiin lebih kritis; tuts item kan untuk nada-nada yang lebih miring dan sumbang …”

“Nggak juga, sih … nada-nada dari tuts item malah suka ngasih aksen yang keren, lho …”

“Tetep aja cuma aksen, De, putih dan item di piano tetep nggak setara …”

Meski kata-kata temen Dea ada benernya, jauh di dalem hati Dea yakin lagu “Ebony and Ivory” nggak segitu negaatifnya. Ada kebaikan dan ketulusan yang Dea rasain kalo denger ato mainin lagu itu di piano. Dea percaya “Ebony and Ivory” lebih dibuat untuk tujuan baik daripada rasisme terselubung.

Begitu sampe di rumah, Dea main piano sambil meratiin jari Dea sendiri. Iya, sih, fungsi tuts putih dan item di piano emang nggak setara. Tuts item nggak banyak disentuh, kecuali untuk beberapa chord miring ato variasi melodi. Meski jadi pelengkap harmoni, secara umum dia nggak banyak bersuara. Apa betul item dan putih yang lebih luas juga begini kondisinya ? Dea jadi sedih mikirinnya …

Di tengah lagu, iseng-iseng Dea over tune (naikin nada dasar). Sambil nyanyi-nyanyi, Dea tetep meratiin jari Dea di piano. Eh … ternyata dengan nada dasar “D”, tuts item lebih punya suara. “Mi” dan “si” kan jadi jatoh di tuts item, otomatis mereka jadi lebih banyak disentuh. Seperti terlihat pada gambar berikut ini :

Setelah lagu itu selesai, Dea over tune lagi ke “E”. Ternyata, Temen-temen, dengan nada dasar E, peran tuts putih dan item jadi setara. Seperti terlihat pada gambar berikut ini :



Lagu “Ebony and Ivory” bisa rasis, bisa enggak. Bisa “sedikit” rasis, bahkan bisa bikin tuts putih yang jadi aksen. Lagu “Ebony and Ivory” netral dan terbuka. Dia berpihak waktu kita udah nentuin nada dasarnya.

Dea senyum-senyum sendiri terus mulai nyanyi-nyanyi, “Ebony and ivory, live together in perfect harmony …”

Apa, hayo, nada dasarnya … ?

7 comments:

Bubble-pinkz mengatakan...

kalo overtunenya ke D, berarti yg sebelumnya main di C bukan?? hehehehe....

kalo main di B, bakal lebih banyak tuts item yang kepencet tuh, tapi bisa kriting mainnya, kecuali buat para prof.. hahahahaha...

btw, itu lagu sapa yach..?? hehehehe...

Sundea mengatakan...

Hiya, betul sekali ... pertamanya main di C ...

Itu lagunya Stevie Wonder sama Paul McCartney. Di-link, kok, klik di tulisan "Ebony and Ivory" yg digarisin ...

mynameisnia mengatakan...

Maen di B mah, mending gak usah sekalian. Hahahaha.

Sundea mengatakan...

Hahaha ... ternyata orang belum kebiasa sama "item" juga, ya ... sejujurnya gue juga pusing kalo maen dari B =P

ekaww mengatakan...

thanks for visit my blog dea !! mau sharing ttg kehidupan 80 an yuk kita keep kontak, kok pada komentarnya seputar tuts hitam putih pada piano bukan mengenai kesetaraan kulit hitam dan putih ? bagiku yang paling netral adalah si kondom, because it can protect anyone no matter the colour they are

Sundea mengatakan...

Kenapa kira2, hayo, Dea malah nulis tentang tuts item dan putih ? =P

Hidup lapanpuluan ! =D

Guru Piano mengatakan...

Biasanya orang yang suka maen di hitam itu pianist yang lagi belajar music jazz dan pendengarnya orang awan. Jadi asal pencet yang penting bunyi gak bakal salah, yang ada di sebut jago improve nya soalnya piano chord nya susah ditebak..