Lempar Bata (Nggak) Sembunyi Tangan

Pada suatu hari Minggu, di daerah Dipati Ukur, Dea ngeliat orang bikin bangunan. Yang satu bediri di bawah tembok, satunya lagi duduk di atas tembok. Yang satu ngelempar bata, satunya nangkepin. Dari sekitar sepuluh lemparan, cuma satu yang meleset. Itu pun nggak meleset-meleset amat karena si bata mendarat persis di deket kaki mas penangkep.

Dalam perjalanan dari lempar ke tangkep, si bata ngelayang sangat ringan. Keliatannya kedua Mas itu kenal partnernya seperti ngenal diri mereka sendiri. Tangan mereka telanjang, bikin mereka bersentuhan sama kenyataan tanpa media. Bata yang diserahin ke perjalanan pun seperti sayap burung yang diserahin ke angin. Di situ Dea ngeliat keyakinan dan kepercayaan. Bata merah jadi nggak berbeban karena di tangan mas-mas itu, dia jadi lebih kayak maean daripada bahan bangunan.

Selama duduk-duduk di sekitar D.U, Dea ngeliat dua kecelakaan ringan. Yang satu kecelakaan motor di jalan yang sebenernya relatif sepi, satunya lagi orang kejeduk kanopi kios. Mas-mas pekerja bangunan itu malah tampak aman dan tenang-tenang aja, padahal mustinya kerjaan mereka kan lebih rentan kecelakaan.

Hmmm … mungkin keyakinan dan kepercayaan ngelampauin kewaspadaan dalem bentuk apapun, ya ...

Sebab, keyakinan dan kepercayaan adalah bentuk kekenalan yang terlalu rinci untuk dirinci … ^_^v



0 comments: