Kresek Seperti Tuhan

tanpa maksud menentang kampanye “against plastic bag”…

Selembar kantong kresek terbang rendah ditiup angin sore. Ketika melintasi sebuah pohon besar, berlembar-lembar daun yang kering kecoklatan ranggas dengan santun; anggun dan berserah. Mereka memilih jadi lebih dekat dengan bumi untuk mengiringi kantong kresek. Bersama-sama mereka merayakan langit yang menjelma jingga; terbang berputar-putar menerjang debu, melompati batu, mengajak plastik dan sedotan ikut ria bersama mereka.

Saat mereka lewat di hadapan saya, telinga saya menangkap senandung:

Ssssrkk…smmmrk…wufff…sssssh…..

Lagu itu renyah, ringan, dan manis seperti wafer susu; melayang-layang di udara; mendayung angin; meniupkan kesejukan yang menyusup lewat pori-pori dan terus masuk ke dalam hati. Perasaan saya jadi merdeka. Rasanya saya ingin ikut terbang-terbang bersama kresek dan menyanyikan lagunya.

-Mereka itu kumpulan sampah yang terbang-terbang ditiup angin!

+Bukan! Mereka Tuhan dengan umat-Nya

Hanya Tuhan yang bisa begitu sendiri; sahaja tapi penuh pesona. Hanya Tuhan juga yang kharismanya mampu meranggaskan sesuatu dari ketinggian, membuatnya sedia menyentuh bumi dan menari-nari dengan raya. Lagu seliris tadi juga hanya bisa dinyanyikan Tuhan. Saya pun yakin perasaan seperti yang saya rasakan hanya bisa hadir jika jiwa saya disentuh jiwa Tuhan.

Seperti Tuhan, kresek ada di mana-mana. Dia menyebrang di jalan-jalan, berdiri di pintu-pintu rumah, bergayut di tiang-tiang listrik, bahkan tanpa kita sadari terinjak-injak bersama kubangan. Kresek pun membantu kita menjinjing belanjaan, membungkus jajanan, menjaga kepala kita dari tikaman air hujan, melindungi buah dari serbuan serangga dan kelelawar…

Kita terbiasa dengan kehadiran kresek. Sedemikan terbiasanya sehingga kadang kita lupa mengindera kesan yang ditinggalkannya. Sedemikian terbiasanya sehingga semua bantuannya kadang berlalu lalang dalam keseharian kita tanpa kesan. Tetapi anak-anak di pinggir jalan tampaknya tetap mampu menyerap esensi kehadiran kresek. Mereka berlarian merdeka dan tertawa bersama kresek. Waktu diperhatikan baik-baik, tawa mereka sama renyah, ringan, dan manisnya dengan lagu kresek.

- Eh, punya kresek, nggak? Buat mbawa komik-komik ini, nih…

+Ya punyalah! Bentar…

“Grrrrt …,” saya membuka laci dapur

Saya tiba-tiba terkesiap. Baru saya sadari betapa saya punya banyak kresek siap pakai.

Kresek ternyata memang seperti Tuhan.

Betapa seringnya kita mencari dia dan betapa seringnya dia ada.

3 comments:

Michael Risdianto. mengatakan...

oke... santai aja...

desty mengatakan...

dan kresek siap menampung apa saja....

Ivy.Puppy mengatakan...

wow...wow...
Lain kali sy akan memulung tiap kresek yg ada De! trus tar sy bgi ke Dea jg deh!!
thx for sharing ^^
nice one...