Tanpa Sangkar

Cangkurileung dipelihara tanpa sangkar. Dia dibiarkan memilih; bertengger di palangkringnya atau terbang ke manapun dia mau. Di sana saya melihat demokrasi. Tuan bukan sekedar tuan, peliharaan bukan sekedar peliharaan.

“Nggak takut burungnya ngabur, Pak?”

“Nggak, Neng.”

“Burung ‘kan punya sayap. Dia bisa terbang kapanpun dia mau.”

“Tapi cangkurileung saya nggak akan ke mana-mana.”

“Yakin, Pak?

Pak pemilik burung cuma tersenyum.


Ternyata cangkurileung memilih tinggal. Di sana saya melihat kesetiaan dan kepercayaan. Tuan bukan sekedar Tuan, peliharaan bukan sekedar peliharaan.

Beberapa saat kemudian seekor cangkurileung lain hinggap di palangkring Pak pemilik burung.


“Wah, sekarang cangkurileungnya ada dua.”

“Betul, Neng, cangkurileung yang betina ini juga nggak akan ke mana-mana.”

“Kok Bapak yakin? Burung-burungnya Bapak pelet, ya?”

Pak pemilik burung tersenyum penuh misteri, “Mau tahu rahasianya?”

Saya mengangguk.

“Lihat, Neng,” kata Pak pemilik burung sambil meraih palangkring. Didekatkannya palangkring itu ke wajah saya, lalu ditunjukannya seutas tali tipis yang mengikat kaki cangkurileung dengan palangkring. “Cangkurileung saya sebetulnya cuma umpan. Dia bisa memikat cangkurileung betina dan…cluk…cangkurileung betina itu hinggap di palangkring saya.”

Gugur sudah semua anggapan saya tentang demokrasi, kesetiaan, dan kepercayaan. Tuan bukan sekedar tuan, peliharaan bukan sekedar peliharaan.

“Tapi, kok, betinanya bisa nggak kabur-kabur juga? ‘Kan kakinya belum diikat.”

Pak pemilik burung tersenyum lagi, “Lihat ini, Neng,” katanya sambil menunjuk cairan kental keputihan pada palangkring. “Ini lem. Begitu hinggap di palangkring ini kaki si cangkurileung betina langsung lengket. Dia jadi nggak bisa ke mana-mana lagi.”

“Oh.”

“Nah, habis ini si betina mau saya jual. Yang jantan tetap saya jadikan umpan.”

“Oh.”

Dua ekor cangkurileung berdiri tak berdaya pada palangkring. Kaki yang melekat membuat udara bebas di sekitar mereka tak lagi ada gunanya. Meskipun dipelihara tanpa sangkar, mereka ternyata lebih tersangkar dari burung lainnya.

Kira-kira apa yang cangkurileung jantan rasakan saat berulang kali melihat sesamanya ____ para betina _____ terjerumus bahaya karena dia? Saya lalu teringat pada tentara-tentara perang Vietnam. Sebagian dari mereka bukan tentara betulan yang secara fisik maupun mental siap menghadapi medan pertempuran. Akibatnya, meskipun sesudah perang raga mereka berhasil selamat, kadang gangguan jiwa tak dapat dihindari.

Saya diam sejenak, menelan apa yang baru saya lihat dan pikirkan .Tiba-tiba sepotong lagu anak-anak yang populer, Burung Kutilang, berdengung-dengung di kepala saya

Sambil berlompat-lompatan

Paruhnya s’lalu terbuka

Digeleng-gelengkan kepalanya

Dengan tak jemu-jemu

Tandanya suka dia berseru, “TRILILILILILILILI!!!”

Suka? Yakin? Menurut saya kutilang itu lebih terdengar seperti kutilang frustrasi.

Sundea

Jatinangor, 12 Mei 2005
















0 comments: