Dioskuroi

 “Udah edisi 200 nih. Beres dong zine-zine-an online-nya?”
“Beres?”
“Iya, beres. Waktu itu kan rencananya sampai edisi 200 aja. Lima edisi ekstensi. Dalam rangka 11 taunan sejak terbit.”
“Iya sih. Tapi…sayang nggak sih kalau berenti? Iramanya udah enak…”
“Hmmm…”
“Kita terusin aja yuk...”

 

Kastor dan Pollux di dalam diri Dea bercakap-cakap. Dea nggak tahu mana yang Kastor dan mana yang Pollux. Tapi keduanya lagi-lagi menimbulkan dilema. Zine-zine-an online ekstensi sudah sampai di edisi ke-200. Mau terus atau berhenti?

 

“Sepanjang taun ini, Kamis selalu jatoh di tanggal yang sama dengan 11 taun yang lalu. Lucu kan?”
“Terus kenapa?”
“Ya jadi kita terusin aja. Nggak setiap taun tanggalnya kayak gini…”
“Kalau nggak ada yang baca gimana? Nggak bikin polling dulu aja? Kalau zine-zine-an ini cukup populer, kalau banyak yang baca, baru kita terusin…”
“Kenapa harus pake polling? Menurut kamu Si Dea sebenernya nulis untuk apa?" 

 

Pertanyaan terakhir seperti bel yang berdering di kepala Dea. Iya ya. Sebetulnya Dea menulis untuk apa? Selama ini Dea selalu punya terlalu banyak cerita dan kata-kata yang harus diolah. Tetap menulis adalah cara menjaga sirkulasi cerita dan kata-kata itu. Menulis seperti ibadah rutin yang memelihara ketentraman batin, menghubungkan Dea dengan hal-hal yang Dea percaya sebagai kebaikan, dan pelatih kejelian mata hati.

Khususnya untuk zine-zine-an online ini, pembaca adalah variabel yang tak pernah Dea rancang dan rencanakan. Dea cuma percaya, tulisan-tulisan Dea akan sampai kepada orang yang paling perlu. Sedikit atau banyaknya pembaca tak pernah menjadi ukuran. Yang selalu Dea ukur adalah kemurnian nurani Dea di setiap tulisan. Zine-zine-an online ini tidak menutut apa pun selain konsistensi dan kemurnian itu.

Cuplikan lagu Dewa 19 tiba-tiba terngiang-ngiang di kepala Dea, entah siapa yang menyanyikannya: 

 

Tak usah kau tanya-tanya lagi, coba kau hayati peranmu
Cobalah entaskan, pastikan lepas atau terus… 

…dan Dea memastikan untuk terus…

 

Setelah Dea mengambil keputusan, Kastor dan Pollux berhenti bercakap-cakap. Secerewet dan dilematis apapun, mereka selalu tunduk pada ketentuan yang Dea tetapkan.

Inilah zine-zine-an online edisi ke-200: Dioskuroi.

Bukan edisi terakhir :)

Selamat Hari Keseimbangan, Teman-teman

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


 

Ilustrasi di sampul inti matahari kali ini digarap oleh Yohan Alexander. Judulnya “Melawan Gravitasi”.

Yohan yang Solar Gemini menemukan hubungan antara dirinya dan Dioskuroi. Hal-hal rohani dan duniawi tarik-menarik memengaruhi pilihan dan cara berpikirnya. Yohan teguh memegang iman, tetapi di sisi lain bisa berpihak pada hal-hal yang sangat duniawi. “Di gambar gua, satunya sayap kalong, satunya lagi sayap malaikat. Tangannya, satu berusaha menggapai ke atas, satunya diborgol,” Yohan bercerita mengenai karyanya. 

Untuk mengenal Yohan lebih dekat, kunjungi karya-karyanya di akun behance dan deviantart-nya serta Instagram @yohan.alexander 

 

Komentar