Kisah Keluarga Laba-laba

Ada laba-laba yang tinggal di lampu meja makan kami. Awalnya mereka cuma berdua. Nggak lama kemudian, ada dua laba-laba kecil yang tinggal bersama mereka. Dea nggak tau gimana cara laba-laba berkeluarga, tapi Dea selalu nganggep kalau itu keluarga laba-laba. Ada papa, mama, dan anak-anaknya. 


Keluarga laba-laba ini rajin sekali. Tiap makan malem, Ikan Paus dan Dea ngeliat mereka lagi mintal jaring. Kerjanya cepet dan jaringnya rapi. Ada aja serangga-serangga kecil yang ketangkep dan jadi makanan mereka setiap hari.

Pada suatu pagi, pas Ikan Paus dan Dea lagi sarapan, ada serangga biru yang terbang ke sarang mereka. Secepet ninja, si serangga biru ngerusak jaring laba-laba dan menghilang. Nggak lama kemudian Ikan Paus dan Dea ngeliat dia mengendap-endap di antara toples kerupuk sambil ngebopong lalat.

“Hah? Itu maling?” tanya Dea separoh nggak percaya.

“Iya. Maling. Kan lalatnya dari jaring laba-laba,” tanggep Ikan Paus sambil ngeliatin sarang laba-laba yang udah compang-camping. Keluarga laba-labanya sendiri masih di sekitar situ, tapi semuanya minggir ke tepian kap lampu karena nggak bisa lagi ngegantung di jaring.

“Itu serangga apa sih sebenernya?” tanya Dea.

“Wasp,” kata Ikan Paus. “Tapi nggak tau jenisnya. Nanti aku cari.”

Setelah googling, Ikan Paus jadi tau kalau ada keluarga wasp yang memang ditakdirin kriminal. Ada yang bisa bikin kecoak kayak “kecanduan narkoba”, ada juga yang bisa “ngehipnotis” serangga lain supaya nyerahin diri dan bisa digerogotin sampai mati. 

Tapi informasi tentang wasp biru metalik nggak banyak. Ternyata dia nggak termasuk wasp parasit karena nggak ngisep dan ngebunuh korbannya. Sampai sekarang kami masih belum tau persis dia wasp jenis apa. Mungkin jenis "wasp(adalah terhadap maling)". 

wasp(adalah terhadap maling)
 

Tapi yang pasti, sejak hari itu kami sadar kalau si wasp dateng setiap hari. Kemalingan jadi rutinitas keluarga laba-laba. Setiap malem keluarga laba-laba nyulam jaring dengan telaten. Tapi paginya, begitu si jaring ada isinya, wasp dateng untuk ngerampok. Meskipun selalu kemalingan, laba-laba nggak pernah putus asa. Dea jadi inget lagu anak-anak “Itsy Bitsy Spider” dan sadar kalau laba-laba memang sepersisten itu.

Pada suatu malem, Ikan Paus ngeliat salah satu laba-laba di kap lampu turun dan bikin jaring di antara toples-toples meja makan kami.

“Kenapa dia malah bikin jaring di sini?” tanya Ikan Paus.

“Mungkin dia bosen kemalingan, jadi pindah lokasi,” saut Dea sekenanya.

“Padahal sebetulnya bikin jaring di sini lebih bahaya, lho. Cicak kan bisa ke sini.”

“Iya, ya, tapi gimana mindahinnya?”

Setelah berunding, akhirnya kami mutusin ngebiarin si laba-laba bikin jaring di meja makan kami. 

 

Besok paginya, si laba-laba udah nggak ada di jaringnya. Kami langsung ngeduga si laba-laba dimakan cicak.

“Ya sudahlah, keseimbangan alam. Cicak juga butuh makan,” kata Ikan Paus.

“Tapi aku sedih. Mungkin itu papa atau mama laba-laba. Dia lagi nyari penghidupan yang lebih baik untuk keluarganya, ngambil risiko. Ternyata dia malah gugur,” kata Dea sambil nengok ke kap lampu.

Ditemenin pendar bohlam yang bersaing dengan cahaya matahari pagi, tiga laba-laba bergelantungan di sekitar jaring. Kalau mereka memang sekeluarga, anak-anak laba-laba udah jadi yatim atau piatu. Keluarga laba-laba belum berhasil hidup dengan lebih baik, bahkan keilangan salah satu anggotanya. Wasp biru metalik bakal dateng lagi untuk ngerampok seperti biasa. 

Ngedenger Dea cerita dengan sungguh-sungguh, Ikan Paus ternyata ikutan sedih. Biar gimanapun, selama sekian waktu keluarga laba-laba udah jadi bagian dari keseharian kami. Meskipun kami nggak pernah ngobrol sama keluarga laba-laba dan Dea nggak pernah ngasih nama untuk mereka berempat, ternyata berbagi ruang makan yang personal setiap hari, bikin mereka berempat seperti anggota keluarga.


Sorenya, pas lagi meratiin taneman rambat yang mulai tumbuh lagi di jaring teritori kami, Ikan Paus tau-tau manggil Dea.

“Laba-laba yang waktu itu ternyata masih ada!”

“Mana? Tau dari mana itu dia?”

“Di rumah kita, laba-laba jenis ini cuma mereka. Ternyata dia bikin sarang di sini,” kata Ikan Paus sambil nunjuk si laba-laba yang bikin sarang di antara kerimbunan taneman rambat.

Kami motret si laba-laba dengan gembira. Dia selamat! Kalau bener dia ngelakuin ekspedisi demi kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya, cerita ini happy ending dan penuh harapan :D

Maaf fotonya ga jelas. Agak susah motretnya ahahaha
 

Siklus kembali ke titik awal. Taneman rambat kami yang tadinya udah botak mulai rimbun lagi. Sejak beberapa hari yang lalu, kupu-kupu tirumala limniace bertelur lagi di taneman rambat itu. Keluarga laba-laba yang nggak nyerah sama keadaan pun memulai hidup baru. Ikan Paus dan Dea juga ngerasa di-restart untuk banyak hal.

 

Sebenernya empat laba-laba yang pernah tinggal di kap lampu kami mungkin keluarga, mungkin juga bukan. Sebagian persepsi yang ngebentuk cerita ini mungkin juga cuma imajinasi.

Tapi nggak apa-apa.

Dongeng yang dipelihara baik adalah kenyataan dalam sebuah maket.

Selamat Hari Keseimbangan

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah...


Komentar

Syam Khadarisman mengatakan…
Menghangatkan sekali. ��
salamatahari mengatakan…
Makasih Mang...
Andika mengatakan…
Gw jadi inget Charlotte's web, cerita-cerita dari rumah kalian seru banget, ternyata bukan cuma rumah manusia, tp juga rumah segala yg hidup di sana...
Sekar mengatakan…
Aaaa! Betapa perhatiannya. Ngingetin buat idup berdampingan sama yang lain..
salamatahari mengatakan…
@Andika : Iya, Dik, ini tu kayak Charlotte's Web banget. Sebenernya rumah kita semua memang rumah segala yang idup di sekitar kita. Kan di setiap rumah ada cicak, semut, mungkin laba-laba juga. Kebetulan yang di rumah gue diperhatiin dan jadi cerita.

@Sekar: Iya, Kar, seneng lho hidup berdampingan sama yang lain :)