Membaca Ulang Tiga Srikandi "Losmen"



Dalam hatinya karena perlawanan terhadap keadaan zaman, jiwanya menjadi matang. Ia tidak akan, tidak mau tunduk. Ia harus menempuh jalan baru.
-R.A Kartini

gambar dari ekigofur

Ada yang masih inget serial “Losmen” ? Waktu serial ini hits taun 80an di TVRI, Dea masih kecil banget. Tapi nggak tau kenapa “Losmen” bener-bener ngebekas buat Dea. Sampai besar Dea masih inget semua tokoh dan setting-nya. Meskipun kamar losmen, kantor, teras, dan ruang makan “Losmen” dibikin di studio TVRI jaman dulu yang seada-adanya, suasana yang dibangun dari cerita, akting, dan karakter tokoh bikin apa yang Dea tonton kerasa nyata dan akrab.

Satu atau dua taun yang lalu, beberapa episode “Losmen” diunggah lagi di akun Youtube TVRI. Karena kangen, semua Dea tonton. Ternyata, selain nostalgia, nonton lagi ngasih Dea kesadaran dan perspektif baru.

“Losmen” ditopang sama tiga perempuan yang jadi pilar cerita: Bu Broto (Mieke Wijaya), Mbak Pur (Ida Leman), dan Jeng Sri (Dewi Yull). Ketiga perempuan ini berjalan lurus di rel norma sosial, tapi kalau diperatiin, sebenernya nempuh arah yang berlawanan dengan stereotipe perempuan yang cenderung diharapkan, terutama di masa itu.

Karena Hari Kartini baru aja lewat, Dea coba bahas ketiga perempuan ini satu persatu ya…

Bu Broto

Waktu sang suami yang pegawai negeri pensiun, Bu Broto nggak tinggal diem. Meskipun nggak pernah belajar wirausaha, Bu Broto ngerintis losmen di rumah keluarga mereka di Yogyakarta.

Operasional losmen dijalanin sama keluarga. Anak sulungnya yang pinter masak, Mbak Pur, ditunjuk jadi kepala dapur.  Anak bungsunya, Tarjo, dan asisten rumah tangga mereka yang setia, Pak Atmo (Sutopo H.S), bertugas nyari tamu. Tari-tarian untuk ngehibur tamu dipersembahkan oleh anak-anak Jeng Sri, dibimbing Pak Atmo yang nguasain kesenian tradisional. Bu Broto sendiri ngendaliin semuanya. Kalau Bu Broto mulai tegang dan stress, Pak Broto (Mang Udel) yang chill dan pinter main ukulele kerap jadi penghibur yang santuy. 

Karakter Bu Broto ini kuat banget. Beliau digambarin sebagai stereotipe perempuan Jawa tradisional yang keibuan, berkabaya, dan luwes ngelayanin tamu-tamu. Tapi di samping itu, Bu Broto adalah perempuan tangguh yang selalu tau apa yang dia mau.

Norma-norma kesantunan bikin dia nggak selalu direct kalau ngomong, tapi  selalu tau persis tujuannya. Dia dominan, tapi nggak terlihat berusaha mendominasi. Bu Broto ini true leader. Dia ngambil alih kendali ketika diperluin dan ngebawa seluruh keluarga berjalan dengan aturan mainnya.



Mbak Pur

Sampai usia 30 taun lebih Mbak Pur nggak kunjung menikah (yang masih sangat nggak biasa di taun 80an). Di beberapa episode ada kisah cinta kecil-kecilan Mbak Pur, tapi nggak ada yang berakhir di pelaminan. Kadang-kadang stigma “perawan tua” ngeganggu Mbak Pur. Tapi dia survive dan ngejalanin idupnya dengan stabil.

Mbak Pur tetep punya harapan nemuin cinta. Tapi, tanpa harus keliatan defensif, dia nunjukin kalau dia selalu cukup dengan dirinya sendiri. Mbak Pur punya kepribadian yang kuat dan effortlessly mandiri.
                                                                   
Sebagai anak sulung yang biasa diserahin tanggung jawab, leadership Mbak Pur kerasa banget. Setelah Bu Broto, Mbak Pur adalah orang ke dua yang sering pegang kendali di losmen. 


Jeng Sri

Sebaliknya Mbak Pur, Jeng Sri nikah muda. Suaminya, Mas Jarot (Eeng Saptahadi), adalah seorang pelukis yang digambarin berkepribadian kurang stabil. Sementara itu Jeng Sri sendiri sosok yang emosional dan meledak-ledak. Dibanding ibu dan mbakyunya, Jeng Sri lebih ekspresif dan blak-blakan. Sifat Mas Jarot + sifat Jeng Sri bikin rumah tangga mereka selalu meriah dengan derama-derama.

However, Jeng Sri ini perempuan yang sadar ngehargain dirinya. Ada satu episode Mas Jarot ngebujuk Jeng Sri ngedeketin kolektor top untuk kepentingan lukisannya. Menurut Mas Jarot, karena Jeng Sri perempuan, kolektor itu pasti lebih gampang tertarik.

Jeng Sri nggak mau dijadiin umpan. Maka, berantemlah suami-istri itu seperti biasa. Tapi kalau nggak salah Jeng Sri sempet bilang, kalau Mas Jarot yakin sama karyanya, ya berpegang ajalah sama itu.

Setelah lewat beberapa episode, akhirnya Jeng Sri dan Mas Jarot cerai. Jeng Sri pulang ke rumah orangtuanya dan ngebantu lagi di losmen. 

Mbak Pur dan Jeng Sri. Gamabr dari Hotdetik

Kita mungkin lebih ngenal losmen ini sebagai “Losmen Bu Broto”. Tapi kalau rajin nonton episodenya, kita akan tau kalau nama losmen ini sebenernya “Losmen Srikandi”.

Srikandi adalah tokoh androgini yang menarik di perwayangan. Di kehidupan sebelumnya, Srikandi adalah Puteri Amba dari Kerajaan Kasi. Idupnya terkatung-katung karena statusnya sebagai “hadiah sayembara”.  Di kisah "Mahabarata" yang ditulis ulang C. Rajagopalachari, Dewa Subramanya ngasih puspamala (rangkaian bunga yang dikalungin) ke Puteri Amba. Dewa bersabda, siapa pun yang bersedia make puspamala itu bakal ngebalesin dendamnya Puteri Amba. 

Ternyata nggak ada, dong, yang mau make puspamala itu, meskipun jaminannya keberhasilan dari Dewa. Akhirnya Puteri Amba sendiri yang make puspamala itu. Di keidupan selanjutnya, dia nitis jadi Srikandi yang perkasa dan jago perang. Srikandi nemuin puspamala dari Dewa Subramanya kegantung di gerbang istana, masih nggak disentuh sejak kapan-kapan. Di situlah Srikandi ngambil dan ngalungin sendiri puspamala itu. Ok! Sejak saat itu dia mulai berjuang untuk dirinya sendiri!

Buat Dea, tiga perempuan di "Losmen" ngalungin puspamalanya masing-masing. Mereka nggak nunggu sosok hero dateng untuk mereka, tapi memperjuangkan sendiri apa yang sesungguhnya memang "milik" mereka; kestabilan ekonomi keluarga, identitas pribadi yang keruh kelelep di kubangan stigma, serta pernikahan yang didasari hormat dan partnership yang sehat.

Drama seri ini muncul jauh sebelum isu feminisme diseruin selantang hari-hari ini. Tapi lewat "Losmen", kita tau kalau masalah-masalah perempuan yang sering diangkat sekarang-sekarang ini, dari dulu udah disadarin dan diperjuangin.

Bu Broto, Mbak Pur, dan Jeng Sri adalah tiga perempuan dengan karakter kuat yang berbeda. Itu nentuin gimana masing-masing mereka ngerespon idup. Tapi kita bisa liat benang merahnya.

Menarik, ya? Salut untuk  Ibu Tatik Maliyati yang nulis naskah dan suaminya, Pak Wahyu Sihombing yang nyutradarain. 

shooting "Losmen". Foto dari Shafiraretro
 
Karena latar belakang teater, bahasa tubuh dan ekspresi para pemain “Losmen” kadang memang terkesan lebay. Tapi akting dan karakter tiap tokoh—sampai tamu-tamu losmennya yang biasanya cuma muncul satu episode—buat Dea menarik dan nggak kopong. Setiap tokoh ngebawa konten, bukan sekadar alat untuk ngejalanin cerita. 

Cerita yang ngangkat masalah sehari-hari bikin "Losmen" kerasa relatable. Ada cerita tentang gimana keluarga nyikapin gosip, gimana nyiapin diri untuk ngadepin hari tua, dan pernikahan beda suku yang ternyata di taun 80an masih lumayan masalah di keluarga.

Oh iya. Ada fun fact. Anaknya Pak Broto dan Bu Broto nggak cuma tiga, lho, anak mereka sebenernya lima: Mbak Pur, Mas Bagio, Jeng Sri, Mas Budi, dan Tarjo. Mas Budi nggak pernah pulang karena jadi dokter di Irian Jaya. Sementara itu Mas Bagio nggak tau ada di episode yang mana, tapi namanya disebut di “Losmen” episode “Bumiku, Bumimu” yang nyeritain kepulangan anak ke-4 Pak dan Bu Broto, Mas Budi (Dwi Yan). Bisa ditonton di sini nih.

Kaget nggak sama fun fact-nya? Nggak ya? Biasa aja? Hehehe....

Baiklah. Segitu dulu. Ini ada pesen dari Bu Broto:

gambar dari twitter Cenayangfilm

Selamat Hari pertama bulan Ramadhan buat yang menjalankan.
Last but not least, seperti biasa, Selamat Hari Keseimbangan...

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah…

Komentar

Sekar mengatakan…
Thanks to Mbak Dea, saya yang anak 90-an jadi tau serial "Losmen" ini. Selalu seneng mengulik realitas di balik sebuah karya. Hihi.
salamatahari mengatakan…
Sama-sama, Sekar...

Di youtube beberapa episodenya ada, lho, kalau mau nonton :D