Gusti Allah Mboten Sare (?)

Markus 4:38-40

Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata: "Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?" 

Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi tenang sekali. 

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"  

gambar diambil dari sini


Mungkin kadang-kadang Gusti Allah memang kudu sare. Sebab, meskipun Ia berjanji menjaga, iman butuh belajar mandiri. Pada suatu hari ketika jiwa Dea sedang riuh, rhema ini pop up di kepala bersama Markus 4:35-41. 

Dea membuang sisa-sisa air yang masih menggenang di perahu, sementara Yesus berdiri gagah di geladak sebagai pawang cuaca. Awan gelap didorong pelan-pelan oleh matahari pembawa harapan. Danau tak lagi bergejolak hebat. Perahu tak lagi terhantam. Sepoi angin bertiup lembut seperti mencium dahi dan kepala Dea.

Setelah perahu kering, langit lebih terang, dan segalanya lebih stabil, tujuan menjadi jelas. Dea lantas merapat kepada Yesus sambil minum Tolak Angin.

"Yesus, terima kasih banyak," kata Dea.
Yesus tersenyum hangat sambil merangkul Dea.
"Tapitapitapi ... Dea agak teler. Boleh gantian, nggak? Sekarang Dea yang tidur di buritan, perahunya titip bentar ehe-ehe-ehe ..."

Yesus melirik Dea dengan tatapan paling "yaelah" yang bisa dilemparkannya, sementara Dea menyedot-nyedot sisa Tolak Angin di plastik sambil menatap-Nya dengan binar-binar modus.

Burung camar melayang-layang di atas perahu. Ia tidak mendendangkan kisah sedih seperti kata Vina Panduwinata, tetapi menguatkan iman dengan lagu sekolah minggu:

With Christ in the vessel we can smile at the storm, as we go saling hooome...
  



Komentar