t-BOFF!!!



“t-BOFF!”

Segumpal asap hitam meletup tak jauh dari Anak Beruang. Anak Beruang yang sedang bermain sendiri di halaman langsung tercuri perhatiannya.

“Jangan dekat-dekat asap itu,” Ibu Beruang segera tahu apa yang dipikirkan Anak Beruang.
“Kenapa?” tanya Anak Beruang sambil mencari-cari arah datangnya si asap.
“Karena itu t-BOFF. Dia terlarang,” sahut Ibu Beruang.
“Kenapa terlarang?” tanya Anak Beruang lagi.
“Jangan banyak tanya. Percaya saja sama Ibu. Segala yang terlarang tidak baik untuk didekati,” sahut Ibu Beruang sambil menggiring anaknya masuk ke dalam rumah.

Ketika Ibu Beruang sibuk di dapur, diam-diam Anak Beruang melongokkan kepalanya keluar jendela, mencari t-BOFF. Ternyata letupan hitam itu memang muncul-muncul kembali. Bentuknya yang berubah-ubah menarik perhatian Anak Beruang. Rasa penasaran membuat Anak Beruang melompat keluar jendela mengejar t-BOFF.

Semakin dekat Anak Beruang dengan letupan t-BOFF, semakin kencang jantungnya berdegup. Ketika tak sengaja Anak Beruang menginjak sekuntum puteri malu, t-BOFF melutup disusul desisan magis…




Bulu-bulu Anak Beruang merinding. Suara dan nuansa yang dibawa t-BOFF kelam sekaligus membius. Anak Beruang meraba perasaannya sendiri. Seperti yang Ibu Beruang katakan, mungkin t-BOFF bukan sesuatu yang baik. Tapi apa itu baik? Anak Beruang jadi tidak yakin.



Meski pahit, ada yang diam-diam terasa nyaman dan menyembuhkan seperti jamu. Anak Beruang mencoba mengenali segala yang disuguhkan t-BOFF, namun ia tak sepenuhnya mengerti. Ketika t-BOFF mulai bergerak lebih jauh masuk ke dalam hutan, Anak Beruang terpaku. Dalam waktu singkat, ia harus memutuskan; mengikuti tuntunan t-BOFF atau berhenti saja di situ.



… akhirnya Anak Beruang mengikuti ke mana t-BOFF bergulir.

Di sepanjang perjalanan menyusur hutan, t-BOFF berkali-kali meletupkan bunyi “t-BOFF” yang gemuk namun tertahan. Asap yang ditimbulkan t-BOFF adalah rangkaian pareidolia. Anak Beruang mengidentifikasi bentuknya yang ilusif sebagai rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik bulu-bulunya. 

Anak Beruang tak dapat mendefinisikan setiap bentuk t-BOFF. Tapi intuisinya mengenal mereka seperti ia mengenal dirinya sendiri. Tunggu. Apakah Anak Beruang mengenal dirinya sendiri? Tiba-tiba ia jadi ragu.

t-BOFF membentuk citra yang berganti-ganti; membawa trauma, kesembuhan, dan segala yang berada di antaranya. Mereka bergulung-gulung seperti ombak yang ingin membawa Anak Beruang tenggelam dalam lautnya. Ketika gulungan itu semakin dekat, Anak Beruang didorong oleh insting untuk berlari menyelamatkan diri.

Maka Anak Beruang berlari …



Sampai pada suatu titik, Anak Beruang tak tahu harus berlari ke mana lagi. Ia menutup matanya rapat-rapat. Jika ia harus tergulung, maka tergulunglah. Tapi ternyata …



“Apa ini?” tanya Anak Beruang.
“Apa ini?” sahut t-BOFF seperti gema.
“Apakah kamu sesuatu yang baik?” tanya Anak Beruang lagi.
“Apa itu baik?” t-BOFF balik bertanya. Suaranya masih seperti gema.
“Siapa kamu? Apakah kamu adalah aku sendiri?” tanya Anak Beruang.
“Aku adalah kitab kecil. ‘The Book of Forbidden Feelings’…”
“My feelings…?”
t-BOFF tidak menjawab tetapi letupannya membuat semua mendadak gelap.



Ketika asap hitam t-BOFF luruh, Anak Beruang kembali berada di rumahnya sendiri. Ada Ibu Beruang berdiri di sisi Anak Beruang. Di matanya membayang kekelaman t-BOFF.

“Kamu tidak mendengarkan Ibu!” tukas Ibu Beruang dengan nada menghakimi. “t-BOFF bukan sesuatu yang baik. Dia adalah perasaan-perasaan yang tidak boleh kamu rasakan!”
“Apa ada perasaan yang bisa dilarang datang, Bu?” tanya Anak Beruang.
Ibu Beruang mengalihkan pandangannya. Berusaha menyembunyikan t-BOFF yang sebetulnya tak bisa dihindari.

Ibu kembali ke dapur. Sementara Anak Beruang tetap duduk bersila di ruang tengah. Masih ada sisa-sisa t-BOFF yang menjelaga. Tapi Anak Beruang tak berusaha menghindarinya. Ia membiarkan t-BOFF menyelesaikan tugas-tugasnya, menyuguhkan perasaan yang ingin ia suguhkan karena perasaan memang tak pernah bisa dilarang.

Anak Beruang melongok lagi keluar jendela. Ketika melihat letupan yang masih berubah-ubah bentuk, Anak Beruang kembali melompat keluar jendela…



The Book of Forbidden Feelings adalah buku witty karya seniman cerdas Lala Bohang. Rasanya seperti sebatang dark chocolate. Tentang buku ini bisa dilihat di sini.

0 comments: