P(r)ay For Plastic

Kresekadalahtuhan tak dapat dihancurkan. Namun ketika sadar kekuatannya justru menjadi ancaman, ia membiarkan ilmu pengetahuan mencari cara meluruhkannya. Lebih dari dua dekade yang lalu, penelitian mulai merayap. Perlahan bahan organik bahu-membahu membangun tuhan. Selanjutnya, dengan rendah hati tuhan yang altruis belajar melebur bersama kulit pisang dan daun kering. Tuhan tak terlalu meriah menyiarkan kemampuan biodegradable-nya. Tetapi selama penelitian terus berderak, pelan-pelan tuhan yang tak lekang oleh waktu akan terganti oleh tuhan yang memasrahkan diri kepada waktu. Beberapa supermarket mulai berbakti pada tuhan biodegradable. Melalui permukaan tuhan, mereka bercerita tentang kebaikannya kepada dunia.




Sampai – seminggu setelah hari kasih sayang – gerakan #Pay4Plastic menekankan betapa tidak ramah lingkungannya kresekadalahtuhan. Diet kantong plastik digalakkan. Perlahan-lahan kresekadalahtuhan dijadikan semacam musuh yang perlu mulai dihindari. Kita abai pada penelitian yang sedang berlangsung dan janji masa depan akan tuhan yang ramah lingkungan.

“Sebetulnya hidup kita hampir nggak bisa lepas dari plastik. Kalau penelitian biodegradable plastic terus berlangsung, ke depannya segala plastik yang kita pakai bisa biodegradable juga. Bukan cuma plastic bag,” ujar suami saya pada suatu hari.

Sebetulnya, jika memilih menyuarakan penggunaan biodegradable plastic bag daripada memusuhi kresekadalahtuhan, kita mengajak masyarakat memandang dengan cara lain. Bila kita tidak menetapkan cap yang membunuh, ada berbagai kemungkinan yang terbuka. Dukungan kita memberi dana dan daya bertumbuh untuk inovasi. Tanpa itu, mereka akan mati kering dan terhenti. Ini sekadar padangan alternatif saja.
  
Gus Dur pernah berkata, “Tuhan tak perlu dibela”.
 
Saya ragu. Apakah saat ini saya sedang membela tuhan …?



Sundea




0 comments: