Catatan Penangkap Angin

- Laugh on the Floor, 4 November 2015-

Pameran Gambar Iabadiou Piko: Kabar Angin

Kabar angin berlari cepat sekali. Ia mampir sebentar, lantas beranjak lagi sebelum sempat kita pastikan kebenarannya. Seringkali ia menyisakan pertanyaan dan hal-hal yang tidak selesai. Namun sebelum sempat kita lengkapi, tak jarang pertanyaan dan hal-hal tak selesai itu segera berlalu juga.


Sekilas, karya-karya Piko terlihat seperti gambar anak-anak. Hampir tak ada figur yang betul-betul hadir jelas di sana. “Yang saya tangkap adalah kesan,” ungkap seniman asal Yogyakarta ini. Karya Piko dikendalikan oleh intuisi. Ia tak pernah membangun konsep yang mutlak atau membuat kerangka yang harus diikuti. “Lebih seperti angin, sesuatu yang mampir sementara terus dituangkan,” tukas Piko. Maka tak heran jika di karya-karyanya kadang-kadang muncul figur-figur ajaib yang random.

Yang menarik, untuk membangun berbagai kesan, Piko gemar melakukan eksperimen. Misalnya, untuk beberapa karyanya Piko menggambar menggunakan alat penambal kapal, Bitumen. “Bitumen efeknya tak terduga. Menimbulkan warna antara hitam dan cokelat,” Piko menyampaika alasannya. 
 


Sepanjang dua pekan yang lalu – tepatnya 4 sampai 18 November 2015 – karya-karya Piko dipamerkan di galeri mungil Laugh on the Floor, Jalan Saninten no.25, Bandung. Menyimak karya-karyanya seperti bermain-main dengan kabar angin. Kadang kita menduga-duga, kadang sekadar tergelitik, kadang menerimanya kedatangan dan kepergiannya tanpa beban apa-apa.

Hari itu, Piko menggambar bersama adik-adik kecil. Meski tampak bingung ketika Piko menjelaskan prinsip berkaryanya, saat diajak menggambar bersama, adik-adik kecil tersebut langsung bersemangat. Bulak-balik mereka meminta kertas tambahan untuk membuat gambar yang baru dan baru dan baru lagi. Mereka menggambar dengan merdeka, seperti berlari-lari di lapang yang luas.

“Seneng gambar sama Kak Piko, bisa coret-coret,” begitu kurang lebih komentar keempat adik kecil yang hadir di pembukaan pameran “Kabar Angin” sore itu.

Nah. Berikut ini adalah salah satu karya adik kecil kita, Danu:


“Ini dunia listrik,” Danu menjelaskan. Konon setiap warna punya fungsi sendiri-sendiri. Ada yang berfungsi menyalakan lampu, menyalakan kulkas, menyalakan … apa lagi, ya? Karena pemaparan Danu berlari secepat angin, saya tidak sempat mencatatnya.

Sepanjang pameran, cerita-cerita angin yang dicatat Piko tertempel di dinding galeri. Angin ingin membawanya lari. Tetapi kemelekatan menahannya.



Sundea

Kunjungi Iabadiou Piko di http://www.iabadioupiko.com/

0 comments: