Rukmunal Hakim Berpameran Tunggal, Bukan Berpameran Esa


hakim lagi gambarSepenggal obrolan pada suatu siang, membuat Dea secara impulsif terdorong untuk menanggap Rukmunal Hakim sebagai penyalamatahari di edisi 168. “Tapi terbitnya besok pisan, nih,” kata Dea. Untungnya Hakim tidak keberatan. Di sela rutinitas keseharian masing-masing, Hakim dan Dea mengobrol via whats app. 

Kebingungan. Yang tunggal. Yang esa. Rutinitas. Sampai pertanyaan yang merangkum hidup. Dan pada akhirnya, obrolan ini pulalah yang meyakinkan Dea untuk jangan sampai absen menerbitkan zine-zine-an online ini secara disiplin, dan mempersembahkan rangkaian posting hari ini.





Kim, pertama-tama, cerita dulu,dong, siapa elu dan apa kegiatan lo sehari-hari
Gw ilustrator/seniman paruh waktu. Tinggal dan berkarya di Bandung. Kegiatan sekarang lebih ke persiapan pameran tunggal dan pameran grup. Juga masih mengerjakan proyek Zodiak Gembira sama lo pastinya :p

Nah ini. Ngomong-ngomong soal tunggal, ada bedanya nggak menurut lo sendiri nilai rasa kata “tunggal” sama “esa”?
Gw pikir sama ya tapi entah kenapa ada rasa yang berbeda di keduanya. “Esa” itu seperti punya rasa satu yang mutlak, tidak ada celah di dalamnya untuk hal yang lain. Sementara “tunggal”, walaupun satu, tapi masih punya keleluasan untuk hal yang lain.

Kenapa lo kepikiran begitu?
Kayanya sih gara-gara dari kecil akrab dengan “Tuhan yang Maha Esa” (mutlak hanya satu) dan “Bhineka Tunggal Ika” (ada keragaman di “satu” itu). Kayanya ya.

Berarti pameran tunggal nggak bisa dibilang pameran esa dong?
Iya juga, ya ghahaha. Kenapa nggak pameran esa. Ah mungkin karena ada beberapa karya dari satu seniman. Kalau pameran esa, satu karya saja, tapi mutlak dan agung.

Hahaha … iya juga, ya. Ini gue yang nggak kepikiran. Baiklah. Persiapan pameran tunggal lo udah jalan sampe mana?
50%.

Di mana dan kapan rencana pamerannya?
Pameran ini rencananya di Jakarta, tempat sama tanggal masih tentatif. Semoga bisa awal-awal tahun depan…

Ada kendala tertentu nggak sekarang?
Palingan … ada beberapa perubahan. Kemungkinan besar ada karya yang musti dibuat ulang. Ada satu karya yng keburu dibeli dan akan terbang ke Jepang. Ini bikin gw pusing, si, karena shipping ke sini pasti bakal repot. Tapi sebetulnya karena idenya sudah fixed, eksekusi apapun (setidaknya) tidak terlalu sulit.

Terus konsep besar pameran ini apa?
Konsep besarnya sangat (sangat) personal. Tentang proses pengkaryaan gw yang sudah dipraktekkan selama beberapa tahun terakhir. Gw berusaha untuk mengenal diri sendiri melalui proses pengkaryaan gw. Gw percaya dengan mengenal diri kita lebih baik, pada akhirnya juga akan menuntun kita pada jawaban dari pertanyaan terbesar kita, “apa tujuan kita hidup di dunia ini”. Mungkin bukan jawaban yang mutlak, ya …

Bujetttt … dalemmmm
Ternyata emang dalem si : ))

Artinya selama berproses ngerjain pameran ini, lu kan mempertanyakan pertanyaan yang dalem itu terus, tuh. Jawaban apa yang lo dapet?
Pertanyaan itu berkembang menjadi banyak pertanyaan lainnya, “kenapa harus pameran”, “kenpa begini, kenapa begitu” dan banyak lagi. Pertanyaan tadi akhirnya jadi semacam “hantu” di kepala, jadi di kepala ini sangat-sangat sibuk, karena banyak yang dipertanyakan, banyak yang dibayangkan, pada akhirnya banyak prasangka.

Lah … bukannya dapet jawban malah mangkin puyeng dong?
Iya. Akibatnya adalah badan gw malah terasa cape, padahal nggak ngapa-ngapain. Akhirnya banyak diam dan terlihat bingung. Pertanyaan besar ini, sudah gw pertanyakan semenjak gw remaja. Yang gw pelajari sekarang adalah, ketika gw tidak mempertanyakan hal tersebut, justru gw dibawa menuju ke pintu jawabannya, melalui banyak peristiwa yang tidak diduga. TAPI, itupun baru melihat pintu jawabannya, belum dibuka.

Hmmm. Bentar, bentar. Gue bingung. Jadi sebenernya dulu lu mempertanyakan ini, sekarang harusnya malah enggak lagi gitu, ya?
Jadi gini. Selama 14 tahun 8 bulan gw terus mempertanyakan pertanyaan itu, dan selama 4 bulan sisanya gw melupakan pertanyaan itu. Tapi justru itu adalah saat-saat yang penting. Empat-lima taun yang lalu, gw ilang, gw mau berkarya saja untuk diri gw, gw resign. Terus bokek parah. Gw ngak peduli banyak hal, gw hanya berkarya. Di saat itu gw justru mulai mengerti mengapa gw harus begini dan kenapa hidup gw sebetulnya mempunyai arti. Itu cuman seperti sekilas gitu aja loh, tapi itu biking gw lebih punya faith sama diri gw sendiri.

Melalui pameran tunggal ini gw seperti ingin dapetin momen itu lagi, dan sepeti yang gw bilang sebelumnya untuk bisa ke “pintu” itu lagi gw harus muter-muter lagi. Bedanya ketika sebelumnya prosesnya pajang sekarang gw perpendek.

Gw cuman cari masalah doang ya sebetulnya. YA TUHANNN gw ngakak ini!

Hahahaha … diperpendek gimana maksudnya prosesnya?
Diperpendek itu sebetulnya ada di karya burung-burung itu, proses panjang belajar menggambar, gw simulasikan di seri burung-burung itu. Etapi ini mustinya buat artist talk sih…

Bird of Paradise

Yah … bocorin dikit, deh … hihihi …
Gw pengen ngasih gambaran kalau berkarya itu hampir sama seperti kerja kantoran. Rutin dan disiplin. Gambaran akan kebebasan yang gw dapet kalo jadi freelancer atau senimana, itu nggak sepenuhnya benar. Idealisme pun tidak sepenuhnya bebas. Yang gw rasa justru kebebasan yang gw punya itu harus benar-benar dijaga karena sangat rentan, bisa dengan mudah hancur. Dan gw ngerasa justru diri gw sendiri yang bisa bikin itu hancur.
Lo kan pernah cerita ke gue kalo karya ini sangat mempengaruhi idup lo. Kenapa?
Karena pengerjaannya yang paling lama, dan ketika mengerjakan yang ini, hampir seperti berdialog dengan diri gw. Karya-karya yang lain juga seperti itu, tapi yang ini lebih intens. Oh iya, karya yang ini sama yang ‘Routine V’. Yang itu malah sampai jeda beberapa tahun ngerjainnya. Dua karya itu temanya sama-sama rutinitas.

routin v
Routine V

Mau kasih trailer tentang pameran lo nggak ke pembaca salamatahari?
Jumlah karya di pameran ini punya simbol tertentu. Simbol apa? Tunggu saja …

Sips. Terakhir. Kalau berksempatan “Pameran Esa” nih, bukan “Pameran Tunggal”, lo pengen bikin karya yang kayak apa?
Pameran dengan karya yang sempurna, tanpa cacat, dan absolut. Kemungkinan nggak akan pernah kejadiannya si. Pamerannya cuman ada di kepala gw aja.

Kan namanya juga andai-andai, Kim … ehehehe … ya udah. Thanks bet, ya. Gue ngerasa tercerahkan nih…
Gw juga mayan ni. Kayaknya karena kebiasaan gw kalo ada masalah diselesein sendiri, jadi suka mumet-mumet sendiri …

Laen kali ngobrol, deh, ngoceh aja apaan pun, kalau buat gw sih ngebantu. Eh tapi … gara-gara gue emang doyan ngobrol aja kali …
Gw nggak gitu sih sayangnya : )) Ya udah, gw tidur dulu, Dea! Thank you, yak!

Okay. Gue yang thank you. Sekarang saatnya gua kejar tayang nih nyelesein bahan-bahan buat terbit besok hahahaha …

movie issue
salah satu ilustrasi untuk rubrik constellation di Th!ngs Magazine

Sambil menranskrip wawancara dengan Hakim, pertanyaan Hakim juga muncul di kepala Dea. Jadi, apa tujuan Dea sendiri hidup di dunia ini? Setiap memasuki fase baru dalam kehidupan, rasanya pertanyaan itu selalu muncul kembali agar kita tetap tahu menentukan arah.

Hakim memang berpameran tunggal. Tetapi ada keesaan dalam proses yang dijalaninya…

Nantikan pameran tunggal Rukmunal Hakim yang kontemplatif. Sambil menunggu, silakan mampir ke rumahnya di https://www.behance.net/rukmunalhakim.

Sundea

foto-foto dok. pribadi Hakim kecuali foto karya Bird of Paradise

0 comments: