#NowPlaying The Hollies - He Ain’t Heavy He’s My Brother - @hunijabberwocky

 "I don’t take advice from people who’s afraid of going to hell. I only take it from people who’s gone through hell"

(Quoted from somewhere unknown, I found those sentences in my old journal)
well… that night, I took one hell of an advice from Ginan Koesmayadi through his book 
“Melampaui Mimpi”, that life is about struggling and loving.

Kemana pun saya jalan-jalan, lihat-lihat buku adalah kegiatan wajib buat saya. Malam itu, Sabtu (26/10/2014) juga sama. Saya sedang jalan dengan teman SMA saya di PVJ. Saya menyeret dia buat melipir sejenak ke Gramedia.

Nggak ada buku khusus yang jadi incaran saya saat itu. Cuma pengen cari buku yang kira-kira bagus dan bisa direview di Belia Pikiran Rakyat, tempat saya kerja. Lumayan lah, menghibur diri sekaligus berbagi dengan dedek-dedek pembaca setia :3

Setelah mencomot buku “Simple Miracle”-nya Ayu Utami ((kalau ini mah nggak untuk direkomendasikan ke dedek-dedek)), saya lihat buku ini. Judulnya “Melampaui Mimpi” karya Ginan Koesmayadi dan Sundea. Eh? Dua nama ini mah rasanya nggak asing lagi buat saya.


Saya tau Sundea karena saya suka tulisannya di Salamatahari. Saya juga fans zodiak gembira haha! Ingat juga karena Sundea ini yang nulis buku untuk Syamsi Dhuha Foundation.

Nah kalau Ginan? Cukup sering namanya disebut-sebut di kampus. Ketika anak-anak lagi cari narasumber soal HIV. ((Dan ketika teman saya bilang Ginan itu kakaknya Teh Ika, dosen saya waktu saya ngulang kuliah artikel. Hehehe)) Saya juga tau tentang Ginan dan Rumah Cemara selewat-selewat aja. Padahal Rumah Cemara itu partnernya AIESEC, organisasi yang saya geluti. Tapi saya nggak pernah megang proyek yang engage langsung dengan Rumah Cemara.

Setelah baca sinopsis di sampul belakang buku ini, saya langsung ke kasir untuk bayar. Setelah itu saya simpan di tas dan pergi makan. ((Iya atuh da saya mah apa lagi ke mal juga kalau bukan beli buku sama makan?))

Setelah beres makan, saya dan teman saya memutuskan pulang. Entah ada apa gerangan ((mungkin si Komo lagi hangout)) parkiran PVJ malam itu luarrrr biasa macet. Mobil teman saya parkir di P11 dan butuh hampir satu jam buat keluar gedung parkir. Selama satu jam itu, saya sedikit-sedikit ngintip isi buku “Melampaui Mimpi”. Anjir, piedaneun yeuh, pikir saya dalam hati. Sayangnya karena pusing baca di mobil dengan cahaya nggak karuan dan kasihan teman saya kalau mobilnya saya muntahin, buku itu pun masuk lagi ke tas saya.

Sekitar pukul 23.30, saya sampai di rumah. Geus paling bener mah saya cuci muka, sikat gigi, lalu nongkrongin laptop buat ngetik artikel-artikel yang sudah jadi tugas saya. Sejak kebakaran kantor PR, deadline jadi maju ke Minggu sore. Padahal biasanya Minggu malam ((malam pisan juga biasanya woles)). Nah, minggu ini ada tiga artikel yang sama sekali belum saya sentuh. Tapi sampai rumah, alih-alih nyentuh laptop, saya malah main sama Jónsi si kucing gendut dan nonton bola bareng ayah sebentar. Lalu naik ke kamar, buka buku “Melampaui Mimpi”, dan baca sampai tuntas, tepatnya ketika adzan subuh berkumandang. ((Lalu panik karena belum tidur, belum ngetik, dan ada janji di Minggu pagi. Heug siah!)) ((Terus kalakah nulis nu kieu. Duh!))

Baca buku ini adalah pengalaman campur aduk buat saya. Pengalaman Ginan di buku ini mengingatkan saya sama teman dekat saya waktu SMP. Waktu itu, teman saya ini sudah SMA. Dia pecandu segala macam candu. Bermula dari ganja dan merembet ke yang lain-lain. Persis Ginan. Saya ingat gimana berteman dengan dia. Dia suka nyebelin kalau lagi sakaw. Tapi sebenernya mah dia baik pisan. Dia panggil saya “neng”, sama seperti aa kandung saya.

Dia selalu jadi tempat sampah saya. Saya ingat masa SMP adalah masa di mana hidup saya sedang aneh-anehnya. Saya punya keluarga yang sempurna dan baik-baik aja. Tapi di diri saya ada jiwa ingin memberontak yang nggak tau harus memberontaki apa. Saya banyak bertanya tentang hidup tapi nggak ada yang jawab. Teman saya si pecandu ini yang malah jawab-jawab pertanyaan saya sekenanya. Tapi saya senang.

Suatu hari di bulan Ramadhan, saya lagi duduk di mesjid, ceritanya tarawehan. Ustad yang jadi khotib saat itu sedang membahas tentang pergaulan. Gini katanya kira-kira:
 
“Bergaul itu harus pilih-pilih karena pasti teman sepergaulan itu memengaruhi prinadi kita. Berteman dengan tukang parfum, tentu kita ikut harum. Berteman dengan pecandu, ya kita bisa diajak nyandu.”
Saya pundung sama pak ustad yang sok tau itu. Teman saya pecandu tapi dia baik sekali. Dia nggak judgmental. Dia nggak pernah ngajak saya nyoba apa pun.

Besoknya, saya ketemu teman saya itu. Saya cerita tentang ceramah pak ustad. Teman saya matanya berkaca-kaca tapi sambil tertawa dia bilang, “untung Hani mah nggak solehah teuing yah, nggak semua kata pak ustad diturut. Kalau diturut, saya temennya siapa lagi atuh? Hahaha”

Duh, mendengar itu saya jadi aja nangis. Bisa-bisanya saya selama ini curhat hal-hal sepele; tentang kecengan saya bernama Aria, tentang ekskul mading, tentang kerisauan standar ala anak baru gede. Sementara saya tau teman saya ini yang harusnya banyak curhat, banyak ngeluh, banyak cerita tentang gimana dia struggling melawan jerat napza.

Semenjak itu pertemanan saya dengan teman saya malah awkward. Kami berdua sama-sama malu sudah memperlihatkan sisi vulnerable ke satu sama lain lewat mata yang berair dan tepukan di bahu waktu itu. Tapi saya dan dia tetap sering SMS-an. Terakhir dia SMS saya waktu bilang akan pindah ke Singapore. Katanya mau rehab dan lanjut sekolah di sana. Lalu kita putus kontak sampai pada 12 Desember 2012, the day I turned 20, dia email saya. Cerita panjang lebar tentang hidupnya. Gimana dia akhirnya clean and sober all the fuckin’ time ((horeee!)) dan baru lulus dari NTU ((double horeeee!!!))

Baca buku ini seolah mengingatkan saya bahwa ada orang-orang mangprang nan gigih semacam teman saya itu dan Ginan tentunya. Jadi malu euy saya kalau merasa sudah berjuang padahal hidup serba mudah.

Terima kasih, kalian berdua sudah sama-sama memberi saya pelajaran hidup berharga dengan cara berbeda. Yang satu lewat pertemanan nyata, satu lagi lewat kisah yang dibagi di “Melampaui Mimpi”. Keduanya seolah sama-sama ingin bilang pada dunia untuk nggak menyerah. Ah kalian, real heroes, terima kasih ya! :)

Anyways ada yang konyol dari buku ini. Saya baru sadar, sosok Adit yang berkali-kali disebut di sini adalah sosok yang juga saya kenal. Adit, yang di buku ini dijelaskan sebagai menejer Rumah Cemara, adalah guru saya di kelas intensif IELTS. Hahaha. ((Hi Mr. Adit!))

Sudah ah. Jam 5.10 ini teh. Saya mau bangun jam 7.00 terus ngetik. ((Wae))

Warmest hugs for “teman saya” and Ginan Koesmayadi.

=========================
HaniHani Fauziah adalah jurnalis dari Belia, Pikiran Rakyat. Dapat dikunjungi di akun twitternya @hunijabberwocky atau dikunjungi di blog pribadinya http://hanifauziar.tumblr.com/

Ikutan lagi sayembara ini karena buku yang dia punya dikasihin ke temen. Jadi selamat. Dapet lagi kok bukunya, yang ada tandatangannya Winking smile

Komentar