Sinopsis

Meski terdiri dari beberapa episode, ini bukan sinetron stripping. Bukan juga serial melodrama. Tetapi hidup tahu bagaimana menulis skenario. Alurnya halus dan arif. Kenyataan pun ternyata tak lepas dari keajaiban jika kita mencermatinya. 

Begini kira-kira ceritanya …

Episode 1
“This is the one …”
“Ah masa sih? Nggak mungkin banget deh …” 

Meski sudah saling tahu sejak sekitar tahun 2008, Ikan Paus dan Dea tak pernah akrab. Hingga pada suatu hari, menjelang akhir tahun 2012, kami tiba-tiba saling terhubung. Sejak awal sekali, tanpa alasan apapun, si intuisi seperti sudah menyampaikan pesan. Tapi Dea menyangkalnya. 

“Nih, ya, dari ngeliat sekilas aja, orang pasti udah tau kalo aku sama dia nggak akan cocok. Dia klasik-klasik serius gitu, aku hore-hore penuh improvisasi gini. Nggak akan nyambung …” kata Dea pada si intuisi.
“Dunia kalian kan ada irisannya,” kata si intiusi lagi.
“Tapi kitanya nggak idup di irisan itu. Kitanya di titik ekstrim yang beda banget.”

Si intuisi menyampaikan pesannya berulang-ulang, dan berulang-ulang kali juga Dea mengingkarinya. Sampai pada suatu hari, ketika sedang berperjalanan di Bali, sesuatu yang ajaib terjadi.

“Kenapa aku harus percaya?” tanya Dea kepada intuisi.
Tiba-tiba saja mobil yang Dea tumpangi berhenti cukup lama di depan billboard ini:




bilboardkuta

Dea terkesiap.

Episode 2

Selanjutnya, tanda-tanda kecil yang ajaib terus mengikuti. Tetapi karena semuanya terasa terlalu ganjil, Dea tak lantas meyakininya.


Pada suatu hari menjelang Natal, setelah pergi bersama Si Ikan Paus, payung Dea hilang. Berdasarkan pengalaman, payung yang hilang adalah pengantar peristiwa lain di hidup Dea. Jadi Dea mencolek si intuisi.

“Nih, ya. Biasanya, kalau aku keilangan payung pas jalan sama pacar atau sama orang yang lagi deket, artinya aku nggak akan jadi, lho,” kata Dea pada si intuisi.
“Kamu yakin payung kamu ilang?”
“Ya … abis …?”

Beberapa waktu kemudian, Ikan Paus mengabarkan kalau payung Dea ternyata tertinggal di mobilnya. 

“Tadi ujan deres, untung ada payung lu. Payung lu gua pake. Terus di tempat gua ngajar payung lu ketemu maminya,” lapor Ikan Paus sambil mengirimkan foto payung pelangi Dea dengan “mami”-nya. 

payungpelangidua3

“Hahaha. Ya udah, pake aja. Nanti kalau kita ketemu lagi payungnya gua ambil …”

Ternyata, setelah berhujan-hujanan hari itu, Ikan Paus flu berat. Si payung pun harus Dea ambil sendiri ke rumah Ikan Paus. Karena Dea belum pernah main ke sana sebelumnya, Ikan Paus harus memberi patokan jalan.
“Kalau lu naik angkot, bilang turun di daerah ‘Wilayah’. Nanti di situ ada tukang jualan yang payungnya kayak payung lu. Belokan ke rumah gua sesudah payung itu …”
patunjukjalan

Ketika pergi menjemput si payung, sekali lagi Dea membuat perjanjian dengan si intuisi.

“Ini sign terakhir, ya. Kalau sebelum aku sampai di rumah Ikan Paus tau-tau ujan, artinya tanda-tanda yang kemaren batal semua. Tapi kalau enggak, aku janji nggak akan ngeraguin kamu lagi …”

Dalam perjalanan menuju rumah Ikan Paus, mendung menggantung seperti hantu. Dea sengaja tidak bergegas karena takut tak menemukan tempat berteduh kalau hujan betul-betul turun di tengah jalan.
Tapi ternyata hujan seperti sengaja menunggu. Ia baru turun sekitar lima menit setelah Dea aman terlindung di bawah atap rumah Ikan Paus. 

“Sekarang kamu udah percaya?” suara intuisi menyusup dari sela gemuruh hujan yang rapat.
Dea mengangguk.

Sejak saat itu, Dea memilih untuk memercayai intuisi secara tidak bersyarat.

Episode 3

Kontras antara Ikan Paus dan Dea memang tidak tersangkal. Tapi ternyata kami tak butuh banyak effort untuk saling memahami. Ada hal esensial yang justru sejalan. Kami menghargai kebebasan pada tatar yang sama. Kami pun menjalani passion kami masing-masing dengan bentuk keyakinan yang serupa.

Ada ruang toleransi yang luas dan kemerdekaan untuk tumbuh bersama tanpa saling membunuh karakter masing-masing. Komunikasi pun sama sekali tidak sulit. Tak pernah ada kata “harus” membuat nada suara tak pernah tinggi. Ikan Paus kerap cerdik menemukan win win solution untuk perkara apa saja. Sementara rasa percaya membuat Dea siap menyambut kemungkinan dan perubahan rencana apapun.

Pada suatu hari yang random, ketika kami berjalan-jalan seru sepanjang hari, tahu-tahu menemukan curug besar di tengah kota, membahas bagaimana hulu dan hilir terhubung, banyak tertawa dan berbagi cerita, menggambar di sepatu, dan terkejut karena ada pengamen jalanan yang entah bagaimana ceritanya bisa-bisanya menyanyikan lagu “Nothing Can Stop Us Now”-nya Rick Price, kami begitu saja memutuskan untuk seterusnya berjalan bersama. Ada kupu-kupu di perut dan rasa aman, dua hal yang biasanya tidak Dea temukan sekaligus di satu orang saja.




Hari-hari menyenangkan Ikan Paus dan Dea dapat kalian intip di sini.


Episode 4

Selanjutnya, pada tanggal 18 Mei 2014, Ikan Paus dan Dea menikah. Alasannya sederhana saja. Karena ingin bersenang-senang bersama sepanjang waktu. Bukannya kami menutup mata dari masalah, tetapi satu setengah tahun yang menyenangkan membuat kami percaya, tak ada yang tak bisa diselesaikan. 

kawinan

Tapi kami tidak ingin takabur. Itu sebabnya kami tak putus berdoa agar langkah kami selalu dijaga. Kami berharap kesenangan kami dapat menjadi mata rantai yang terus bersambung. Kepada kamu, kepada temanmu, kepada temannya temanmu, kepada teman temannya temanmu, dan seterusnya, dan seterusnya. Membuat lebih banyak orang percaya bahwa hidup itu baik dan pengasih. Ia tak pernah pelit melimpahkan hal-hal terbaiknya.

ring

Teman-teman, posting ini bukan ujung cerita. Maukah kamu menyambung mata rantai ini dan mengokohkan kaitnya dengan saling bertukar doa …?

Sundea

4 comments:

Martina Zahirsyah mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Martina Zahirsyah mengatakan...

Mauuu...! Semoga langkah Dea dan Ikan Paus senantiasa dilindungi oleh Tuhan, amin :)

Jessica mengatakan...

Dea, taukah kamu ikan paus suka bernyanyi untuk matahari?
Karena ikan paus sangat mencintai matahari. Matahari tinggal jauh di atas sana sedangkan ikan paus tinggal jauh di bawah sana. Yang satu di panasnya langit, yang satu lagi di dinginnya laut.
Kalau matahari sedang kepanasan, ikan paus akan menyemprot2kan air ke matahari supaya matahari bisa merasakan dinginnya air laut.
Kalau ikan paus sedang kedinginan maka matahari akan tersenyum menghangatkannya.
Mereka beda jauh ya? Tp itu yg membuat mereka saling mencintai :)

Klise sih, tp sering terlupakan.
Maaf aku ga bs kasih hadiah apa2 selain doa, semoga kamu selalu bisa menari bersama nyanyian sang ikan paus selamanya. Laus Deo

Salam Gemini,

@JezGiselle

Sundea mengatakan...

@Marty: Amiiin ... makasih, ya ....

@Jessi: Baru tauuu ... wah, cute banget. Jadi seneng :D

Makasih, ya, Jess, doa lebih dari cukup buat aku. Bukan sekedar basa-basi. Emang aku berterima kasih banget kalo dikasih itu ^^