Iwan It That Way*

sikincir

Ketika disentuh angin yang bertiup kering, baling-baling warna-warni berputar perlahan. Coraknya cerah meriah, disorot matahari Jakarta yang bersinar terik. Bau cat yang belum kering merebak dari gerobak tempat si baling terpancang. Seorang bapak tampak asyik memoles gerobaknya dengan cat kuning cerah.

pakiwangecatjuga

“Wah, Bapak gerobaknya lucu. Bapak namanya Pak siapa?” tanya saya sok akrab.
“Iwan,” sahut Bapak itu tanpa mengalihkan pandangannya dari gerobak.
“Kenapa gerobaknya dihias-hias gini, Pak?” tanya saya lagi.
“Biar bersih aja, gitu. Jadi kalau gerobak saya mangkal, orang liatnya lebih enak, nggak terlalu kumuh.”



Pak Iwan berasal dari Krawang, sementara istrinya dari Tegal. Puteranya tiga orang. Dua di antaranya ditinggal di Krawang, sementara si bungsu yang baru berusia empat tahun ikut dia dan sang istri ke Jakarta. Kehidupan keluarga Pak Iwan serba tak pasti. Penghasilan mereka bergantung pada apa yang berhasil mereka pulung setiap harinya. Tinggal pun mereka berpindah-pindah tempat. “Tapi seringnya sih saya mangkal di deket Gelael,” Pak Iwan merujuk sebuah super market di bilangan MT Haryono, Jakarta.

Kendati begitu, kerasnya ibu kota tak membuat Pak Iwan urung bersenang-senang dengan gerobaknya. Ia merawat gerobaknya dengan apik, serta menghiasnya dengan berbagai benda yang ia temukan di tempatnya memulung. “Ini kitiran nemu di Jalan Kejaksaan. Kalau boneka ini nemu di tempat sampah. Saya bener-benerin lagi,” cerita Pak Iwan sambil menunjuk boneka laki-laki berpakaian adat Jawa yang merekat di bibir gerobaknya.

sibonekajawa

“Bapak di Jakarta udah lama?” tanya saya lagi.
“Udah,” sahut Pak Iwan.
“Dari kapan, Pak, di sini?” tanya saya lagi.
Pak Iwan mencoba mengingat-ingat, tapi lantas menggeleng.
“Usia Bapak sekarang berapa?” lagi-lagi saya bertanya.
“42,” sahutnya lagi.

Sejenak kemudian, seorang perempuan berjalan dengan kaki diseret ke arah kami. Ia menatap saya penuh tanda tanya. Saya membalasnya dengan senyum. Selanjutnya ia mengalihkan pandangannya pada Pak Iwan yang tampak tetap asyik dengan gerobaknya. Akhirnya perempuan itu menghampiri jemuran yang dibentangkan di dekat gerobak Pak Iwan, sepertinya mengecek apakah jemuran itu sudah kering atau belum. Saya menduga, perempuan itu adalah istri Pak Iwan.

jemuran

Saya tidak dapat berlama-lama. Setelah pamit pada Pak Iwan dan perempuan yang mungkin istrinya itu, saya melanjutkan perjalanan. Belum jauh saya dari gerobak Pak Iwan, seorang laki-laki setengah baya yang duduk di pinggir jalan tiba-tiba meneriaki saya, “Orang nggak waras kok diajak ngobrol?!”

Saya tersentak kemudian menoleh.
“Orang nggak waras kok diajak ngobrol?” ulang laki-laki itu.
Saya tersenyum, “Nggak apa-apa, Pak, seneng aja, gerobaknya bagus…”

Sampai saat ini saya tidak tahu pasti siapa sesungguhnya Pak Iwan. Entah dia waras atau tidak. Apakah perempuan dengan langkah terseret itu memang istrinya. Di mana anaknya yang berusia empat tahun itu. Betulkah semua yang ia ceritakan. Dan satu lagi yang lupa saya tanyakan, dari mana ia mendapatkan cat-cat kaleng untuk menghias gerobaknya?

catnya

Yang saya tahu pasti, kata-katanya siang itu terkunci di kepala dan hati saya,

Jadi kalau gerobak saya mangkal, orang liatnya lebih enak, nggak terlalu kumuh.

ngecat

Sundea
*Diplesetkan dari lagu Backstreet Boys “I Want It That Way”.

0 comments: