Reda

Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi …*

Akhir-akhir ini, kehidupan di sekitar saya seperti sedang berkecamuk. Bencana alam mendera tak berkesudahan. Hari raya Valentine diselimuti abu Gunung Kelud. Teman- teman dan saya bergantian kehilangan binatang kesayangan dan sanak saudara. Terakhir, pada hari Selasa 18 Februari 2014, meningitis merenggut nyawa salah seorang teman baik kami, Ibnu Rizal, sebelum usianya genap 26 tahun. Ibnu sempat aktif di Ruang Rupa dan menjadi editor di penerbitan Gagas Media. Ia kerap ditemui di lingkungan seni, cermat dalam menulis, dan selalu yakin pada pilihan hidupnya. Ibnu adalah sosok yang baik hati dan mudah berteman dengan siapa saja. Semua sayang Ibnu. 

Satu satu daun jatuh kebumi
Satu satu tunas muda bersemi …*

Tetapi saya percaya, hidup adalah sistem yang maha seimbang. Pada waktunya nanti, setiap chaos akan menjadi arif dalam keredaannya. Reda adalah kondisi ketika chaos itu mulai berhenti. Reda sendiri akan tumbuh menjadi sesuatu yang baru.

Dalam film Rocket Rain, segala yang berkecamuk di kepala Culapo dan Jansen, mereda dalam interaksi yang intens, lantas tumbuh menjadi pemahaman baru. Bahan-bahan yang tertebar secara chaos di belantara pun menjadi reda dalam karya kolase Resatio Adi Putra. Pada kisah Anak Beruang, hujan dera, reda sudah. Dan karakter lekas marah Mbak Reda Gaudiamo mereda di tempat kerja, lantas tumbuh menjadi sebentuk kesadaran dan kontrol diri.

Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi … *

Ada sebuah proses yang harus kita lewati sebelum sampai kepada reda; sebelum menjadi larut setelah disatukan dalam sebuah adukan; sebelum menemukan hidup dalam segala yang mati. Ketika kita tak tahu harus berbuat apa lagi, berputarlah dengan percaya bersama chaos, dan rasakan saja apa yang bisa kita rasakan tanpa banyak melawan.

Sebab …

Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda …*

Semoga kita senantiasa dipelihara dalam keyakinan yang teguh.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea



*dipinjam dari lirik lagu “Satu-satu” - Iwan Fals

0 comments: