Teduh

Pada suatu pagi yang mendung, pembantu rumah tangga saya datang ke ruang tengah untuk menyalakan lampu.

“Biasanya jam segini nggak usah nyalain lampu, buka jendela aja. Tapi pagi ini nggak ada matahari. Di luar lagi teduh,” kata pembantu rumah tangga saya sambil menekan saklar lampu. Setelah ia berlalu, kata-katanya tinggal. Sudut pandang yang ia pilih menarik perhatian saya. Di luar lagi teduh.

Saya kemudian berdiri di dekat jendela rumah saya, mengamati langit biru pucat keabuan dengan kacamata yang lain. Pagi itu, mendung adalah payung besar yang membuat langit menjadi teduh. Menyadarinya menerbitkan perasaan lucu yang membuat saya tersenyum. 

Keteduhan kadang bersembunyi di balik berbagai kostum dan nama. Ia bisa hadir dalam ketersesatan dan pencarian, ucapan terima kasih yang sederhana, kejujuran hati kecil yang awalnya menyakitkan, dan karya-karya yang bersembunyi di balik kerumunan manusia. Beberapa posting di edisi ini bukan berita baru. Tapi seperti foto lama, selalu ada yang dapat diceritakan kembali dari sana. 

Jika akhir-akhir ini hidupmu sedang terasa terlalu terik, menepilah.
Tempat berteduh dapat kau temukan di mana saja jika kau siap berganti-ganti kacamata ^^

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

cover 150 aplot

Alit, gue izin “menepi dan berteduh” sebentar, ya … =)

2 comments:

Dwi Kresnoadii mengatakan...

Itu kenapa ada minta izin meneduh ke Alit, ya? ini pasti kode bukan sembarang kode. Btw, salam kenal ya. :D

Pemerintahan mengatakan...

menarik sekali,,,,