#JustSaying

Ketika kamu membaca artikel ini, berita kematian Yoga “Kebo” Cahyadi sudah terhitung basi. Pada tanggal 26 Mei 2013, Ketua Panitia Local Stock Festival itu bunuh diri. Sekitar pukul 06.30, sebelum matahari betul-betul tinggi, Mas Yoga menghantamkan tubuhnya pada kereta yang sedang melaju. Ia menjadi keping. Tapi kisahnya adalah luka yang tak segera kering. 

“Trimakasih atas sgala caci maki @locstockfest2.. Ini gerakan.. Gerakan menuju Tuhan.. Salam,” tulis Mas Yoga melalui akun twitternya @effort_creative.

posterlocstock

Setelah acara musik yang diketuapanitiainya, Local Stock Festival 2, tidak terlaksana sesuai harapan, Mas Yoga mendapat hujan hujatan di twitter. Beberapa band memutuskan batal manggung, bahkan ada yang sengaja pindah venue secara demonstratif. Honor band tidak dibayarkan. Kemudian muncul gosip, dana Local Stock Festival dibawa lari oleh Mas Yoga. Ricuhlah dunia persilatan. Mas Yoga didakwa oleh massa se-lini.



Konon karena tak tahan menghadapi pem-bully-an di twitter, Mas Yoga menghabisi nyawanya sendiri. Pasca kematiannya, kericuhan massa se-lini berbalik arah. Banyak tweet yang dengan simpati membela Mas Yoga kemudian menyalahkan pem-bully-an yang dilakukan di media sosial. Testimoni baik mengenai Mas Yoga bertaburan seperti bintang-bintang. Kecaman di twitter menjadi cetusan yang relatif minor. Massa se-lini bahkan tak segan membela Mas Yoga jika muncul tweet yang menuding Mas Yoga secara negatif.

Meski tidak terlibat dalam kemeriahan tweet men-tweet tersebut, saya mengikuti perjalanan berita di linimasa. Saya tidak mengenal Mas Yoga, apa lagi secara personal. Saya pun tidak tahu menahu mengenai Local Stock Festival sampai muncul berita mengenai kematian Mas Yoga. Kendati begitu, banyaknya informasi yang saya terima, secara otomatis membuat saya bertanya-tanya. Apa sebetulnya yang ada di pikiran Mas Yoga? Apa betul masalahnya sesempit kecaman di linimasa? Kicauan di sosial media belum tentu bisa dijadikan pegangan. Tapi tak terhindar, setiap informasi otomatis membuat saya berpikir dan menilai-nilai.

Untuk peristiwa yang pada dasarnya kompleks, setiap orang umumnya membutuhkan alasan dan penjelasan. Mereka (termasuk saya) kemudian menciptakan asumsi-asumsi di kepala, sekadar agar keruwetan itu menjadi sebuah simpul yang terlihat lebih sederhana dan terjelaskan.

Dari antara segala penilaian yang berseliweran itu, mungkin ada yang akan tinggal di pikiran saya sebagai bibit tanaman. Saya percaya beberapa hal akan tumbuh menjadi pemahaman yang lebih baik jika disimpan lebih lama dan tidak cepat-cepat dilemparkan …

Tulisan ini sekadar ceracau. Seperti hujan tweet yang jatuh berderai membanjiri linimasa. 

cropala
Sundea

0 comments: