Panel Tenaga Surya

Ketika bangun pagi pada hari Jumat, 8 Februari 2013, sms dari Deni Rahman, teman Dea pemilik LB Book Shop, masuk ke ponsel Dea.

Dea, Abah Surya meninggal dunia kemarin …

abah

Jantung Dea berdegup kencang. Masalahnya, tepat satu hari sebelumnya, Dea diganggu firasat buruk. Sms dari Deni menjelaskan alasannya. Jadi Dea segera melompat turun dari tempat tidur dan bersiap-siap berangkat menyambangi Deni ke Balubur Town Square (Baltos). 



Abah Surya adalah pemilik kios kue Bursa Biskuit di Baltos. Usianya sekitar 50 tahun. Pembawaannya ceria dan optimis. Semangatnya mengesankan. Dan Dea pernah menulis tentang dia di sini.

Sambil menunggu Deni di Baltos, Dea mencoba mengukur sejauh apa sebetulnya keakraban Dea dengan Abah Surya. Sulit dijelaskan. Kehangatannya membuat ia terasa dekat. Tetapi kesoliterannya membuat ia tak tersentuh. Ia seperti namanya – Surya. Sinarnya yang hangat mudah sekali menyentuh kulit, tetapi sesunggunya ia sendiri ada di tempat yang sangat jauh.

Sesaat kemudian, sms susulan dari Deni datang.

Dea, almarhum masuk koran. Meninggalnya tragis.

Coblong-20130208-00473

Jantung Dea berdegup lebih cepat lagi. Tangan Dea dingin. Kepala Dea mendadak pening menduga-duga setragis apa kepergian orang baik itu. Maka cepat-cepat Dea membalas sms Deni.

Sini, Deniiii … cepetan dateng, ceritain, gw jadi deg-degan huuuhuuu … kemaren firasat gw jelek banget soalnya …

Deni datang tak lama setelah Dea membalas sms-nya. Ia tidak bercerita banyak, hanya menyodorkan koran sambil berkata, “Abah Surya bunuh diri. Cari sendiri beritanya …”

Dengan perasaan tidak karu-karuan, Dea mencari berita yang dimaksudkan Deni. Ternyata pada hari Kamis tanggal 7 Februari, Abah Surya membentur-benturkan kepalanya ke pagar kos-kosan di bilangan Bukit Jarian, tak jauh dari Universitas Parahyangan. Di tangannya ada satu kresek berisi obat. Diduga ia baru pulang dari rumah sakit.

“Mungkin dia divonis sakit apa, gitu, terus dia nggak mau ngerepotin orang. Si Abah kan suka gitu,” ungkap Deni.

Deni kemudian juga bercerita perihal sikap Abah Surya akhir-akhir ini. Ia tidak menjadi pemurung atau terlihat sedih, sebaliknya justru semakin jahil. “Kalau ngegodain orang keterlaluan, terus suka nyampah di depan kios temen-temennya, nggak biasa-biasanya sampai sebegitunya …”

Bersama beberapa teman yang lain, kami melayat ke rumah duka Boromeus. Belum terlalu banyak yang datang. Kedua anak Abah duduk di sana dan menyambut kami. Tidak ada yang menangis. Tidak ada drama-drama. Tidak ada suasana yang terlalu sentimentil, tapi juga tak bisa dibilang hangat atau dingin. Ia seperti namanya – Surya. Adakalanya ia tidak hilang, namun bersembunyi di balik awan kelabu yang belum sampai menjadi hujan.

Deni dan beberapa teman berdiri di sebelah peti mati Abah Surya. Tetapi Dea tidak berani. Kata Deni kepala dan pelipisnya robek cukup serius. Dea tak ingin mengenang wajah Abah dalam kondisi itu.

Pagi itu, sebelum melayat, Dea sempat memotret Bursa Biskuit Abah Surya yang tutup. Abah Surya adalah salah satu pedagang paling rajin yang pernah Dea kenal. Tokonya hampir tidak pernah tutup dan tidak pernah sepi. Jadi kekosongan itu rasanya tidak abadi, ia seperti akan kembali.

Sukajadi-20130208-00470

“Sebelum meninggal, Abah sempet pesen kaleng-kaleng krupuk yang kuning. Udah DP. Kalengnya yang warna-warni mau dibikin kuning semua,” kata Pak Agus, rekan sekerja Abah Surya.
“Hah? Kenapa, ya?” tanya Dea.

Seperti biasa, keceriaan Abah tetap menyisakan rahasia dan misteri.

Hari itu Dea mengenakan kalung rajutan matahari. Warnanya kuning.


Sundea

Buat Dendeng, makasih usulan judulnya yaw …

1 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

Waaaa turut berduka cita, belu suka liat bapak ini. Orangnya cukup ceria, gak nyangka ... mpe speechless bacanya Dea. (~_~")
Semoga Tuhan sll sayang sama Pak Surya dimanapun alamnya. memaafkan khilaf bunuh dirinya . sedih kl baca org ceria tiba-tiba hilang :/