Yang Sehalus Rambut Bayi

Saya sama sekali tidak ingat data jurnalistik yang membuat cerita ini sah sebagai fakta. Saya lupa di mana dan kapan persisnya peristiwa itu terjadi, siapa nama Bapak yang menjadi tokoh cerita ini, dan apa yang kami bicarakan hari itu. 

Tetapi saya tidak lupa kesannya. Sebab kesan seperti sesuatu yang terekam pada pita kaset yang tak pernah berjamur ...

resized1



Hari itu hujan turun rapat dan kecil-kecil. Halus seperti rambut bayi. Karena tidak membawa payung, saya yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, memutuskan untuk berteduh sejenak. Sayup-sayup saya mendengar lantunan doa dari dalam kios rokok. Rapat dan kecil-kecil, halus seperti rambut bayi. 

resized2

Saya menutup mata dan mengindera doa dan suara hujan yang rapat-rapat itu. Selanjutnya, angin yang juga halus seperti rambut bayi namun tak terukur kerapatannya, bertiup ke arah saya. Saya menyongsong semuanya dengan hidung, pori-pori, dan telinga. Saya menutup semua saluran keluar agar segala yang sehalus rambut bayi itu menjadi lautan yang membanjiri kesadaran saya. Jantung saya berdetak sebagai metronom.

Saya lupa bagaimana saya pamit dari kios rokok setelah hujan berhenti. Saya juga tidak ingat apa yang saya beli selama saya menunggu di sana. Saya mengobrol dengan Bapak pelantun doa tersebut, tetapi saya sama sekali tidak ingat apa yang kami obrolkan. Yang saya tahu, hal-hal yang sehalus rambut bayi itu merembes memasuki ketidaksadaran saya dan mengendap di sana hingga bertahun-tahun kemudian. Ketika berita di media ramai bercerita mengenai hujan dan banjir yang membuat Jakarta seperti lautan, tiba-tiba saja saya ingin membagi cerita saya ini.

Segala yang pernah datang berlimpah-limpah nyaris tak pernah luput menyisakan sesuatu. Apapun bentuknya. Baik ataupun buruk …

resized3

Sundea

0 comments: