Asadi

-Platform 3, Jumat, 11 Januari 2013-

Dormant Music

Ketika pertama kali bertemu Bani Haykal, kakinya adalah hal yang paling mencuri perhatian saya. Seniman asal Singapura itu mengenakan sandal bermerk “Asadi”. Sekilas mirip “Adidas”. Tetapi ternyata bukan. 


“Asadi” dan “Adidas” terdiri atas huruf-huruf yang sama: a, s, d, dan i. Tetapi susunan yang berbeda membuat keduanya membentuk makna yang berbeda pula. Saya tersenyum. “Kayaknya sandal Bani ngerepresentasiin karya,” ujar saya di dalam hati.



Sejak pertengah Desember 2012 lalu, Bani Haykal tinggal di Bandung sebagai seniman residensi di Platform 3. Ketika tiba di Bandung, perhatian seniman yang kerap bereksperimen dengan musik dan teks tersebut, tersedot oleh kemacetan kota kembang. “Saya tidak menemukan sistem di kota ini, tetapi kemacetan itu sendiri seperti sebuah sistem, termasuk kerusakan lampu lalu lintasnya.” tukas Bani Haykal.

Berangkat dari situ, ia menggarap karya bertajuk Dormant Music. “Dormant” yang secara harfiah berarti “terbengkalai”, adalah suatu upaya untuk menafsirkan notasi dan komposisi musik secara bebas, dengan membuka seluas-luasnya kemungkinan untuk membaca dan memproduksi bunyi dan musik sebagai medium dan bahasa yang mampu memancing persepsi verbal dan visual sekaligus. 


Setelah serangkaian workshop, pada tanggal 11 – 27 Januari 2013 Bani Haykal menggelar pameran di Platform 3. Ada tiga buah karya. “The Recycle”, “PEMP (Possibly Exciting Music Pipes)”, dan sebuah karya berjudul panjang sekali: “Antiguitar or How to Save the Guitar from Brainless Rockstars of 21st Century”.

Setiap karya dibuat dari barang-barang yang umum kita temui di sekitar. Sepeda, pipa, dan gitar. Tetapi rekonstruksi membuat benda-benda itu memiliki makna yang sama sekali berbeda, terutama sebagai penghasil bunyi. Siapa yang tahu jari-jari sepeda dapat dipetik dan menghasilkan bunyi yang harmoni seperti gamelan yang sudah di-stem? Dan siapa juga yang tahu bahwa pipa dan gitar yang direkonstruksi sedemikian rupa mempunyai frekuensi yang sama dengan suara anak-anak? 


“Tapi suara gitar dan pipanya creepy,” kata saya.
“Mungkin anak-anak memang creepy … hehehe …” seloroh Bani.

Lain lagi cerita yang diusung dalam karya “Antiguitar or How to Save the Guitar from Brainless Rockstars of 21st Century”. “Saya sering melihat banyak gitaris yang lebih mementingkan aksi panggung daripada musik itu sendiri. Gitar mereka banting, mereka rusak,” papar Bani. Nah. Lalu bagaimana jika gitar itu dijelmakan menjadi “antiguitar”? Diubah bentuknya, dicabut fret-nya? Sebuah tantangan tersendiri menghasilkan musik dari benda dengan makna baru tersebut …


Bagian paling menarik dari rangkaian pembukaan pameran itu adalah kolaborasi Bani dengan Bottlesmoker, Homogenic, Duto Hardono, dan Muhammad Akbar. Bani memimpin alur musik dengan kode-kode musik ala dirinya sendiri. Lihat ini:


Setiap kolaborator menafsirkan kode Bani dengan caranya masing-masing. Patuh pada tuntunan arah Bani, tanpa kehilangan karakter khas mereka. Kemacetan kota Bandung, rasa rindu pada rumah,suasana raya, chaos yang memusingkan, terkepung di dalam ruang Platform 3. Pendengar seperti dibawa berkeliling kota Bandung dengan sudut pandang lain. Musik. Bunyi.


“Bani ini seperti kuah tumpah di nasi,” ujar Ibu Bani yang hari itu didaulat untuk membuka pameran. “Ayahnya musisi, sekarang Bani pun menjadi musisi. Kalau tidak jatuh di tempat yang tepat, dia jadi kuah tumpah di meja,” lanjutnya. Sekilas terdengar seperti kelakar, namun jelas berbicara tentang akar …

Teman-teman, pernahkah kamu memperhatikan dengan saksama seperti apa bunyi kuah yang tumpah di atas nasi? Seperti apa pula bunyi kuah yang tumpah di meja? Pernah mencari tahu apa yang ingin mereka ceritakan melalui bunyinya …?

Copy of IMG_0909

Sundea

4 comments:

Herra Pahlasari mengatakan...

hahahahahahahahhahaha, mantapppp!! itu image terakhir kayaknya kenal antara ASADI dan sepatu flat biru berpita, hihihihihi ada kaitannya dengan tumpah di meja gak de? wkwkwkwkwkwkk

Sundea mengatakan...

Hmmm ... ada nggak kira-kira? Hehehe ...

ddiyan mengatakan...

Ka Dea, salam kenal. Aku suka banget deh, bacanya. Terima kasih untuk tulisan yang sangat enak dibaca. Btw, salam sama Ka Bani, ya, kuah yg tumpah di nasi. Hehe

Aku mau banget rasanya liat langsung karya2 ka Bani :D

Anonim mengatakan...

Salam kenal, Diyan ...

Ayo, mumpung masih ada mampir deh ke pamerannya Bani =)

-Sundea