Kisah Anak Beruang dan Beruang Kecil Lainnya

Tidak semua beruang kecil hidup di hutan, sirkus, atau kebun binatang. Ada beruang kecil yang tinggal di langit. Beberapa waktu yang lalu, ia dan Anak Beruang berkenalan. 

“Namaku Ursa Minor. Dalam bahasa Latin, Ursa Minor artinya beruang kecil,” katanya.

ursa aplot

Jika biasanya anak-anak tak boleh bermain di malam hari, Ursa Minor justru muncul malam-malam. Jarak membuat ia dan Anak Beruang tak pernah bisa bersentuh, namun karena Ursa Minor adalah beruang kecil yang dilingkupi tujuh bintang terang, ia tak sulit dilihat. Bintang yang paling terang mengerlip di ekornya.

“Ekorku ada namanya,” kata Ursa Minor
“Siapa?”



“Polaris.”
“Pola yang membuat laris … hahaha,” komentar Anak Beruang.
“Ekorku ini ada gunanya,” ujar Ursa Minor tanpa menanggapi komentar tidak penting Anak Beruang.
“Oh, ya? Apa?” tanya Anak Beruang.
“Ekorku adalah penunjuk arah utara bagi para pelaut.”
“Wooow.”

Tak hanya bagi para pelaut, Ursa Minor pun menunjukkan banyak hal pada Anak Beruang. Dari tempat tinggi, ia melihat berbagai negara sekaligus, laut di segala belahan bumi, dan beragam budaya yang dapat langsung dibandingkan selayang pandang. Anak Beruang sangat suka mendengarkan cerita-cerita Ursa Minor. Ia yakin tak ada beruang kecil yang lebih pintar daripada temannya itu.

MINOLTA DIGITAL CAMERA

“Apa rasanya menyentuh air?” tanya Ursa Minor pada suatu malam.
“Rasanya hmmm…” Anak Beruang mencari-cari cara untuk menjelaskan. Ia terbiasa merasakan semuanya, tapi jarang sekali menjelaskan.
“Sebetulnya aku tahu.”
“Lalu kenapa tanya?”
“Karena aku hanya tahu, tapi aku tidak pernah menyentuhnya sendiri. Dari atas sini, aku bisa melihat semua, bukan menyentuhnya …”
“Aku sebaliknya.”

Kemudian sunyi mencuri percakapan mereka. Anak Beruang sibuk merasa. Ursa Minor sibuk berpikir. Semesta memeluk keduanya tanpa pilih kasih, membiarkan kedua beruang kecil itu menafsirkan detak jantung alam dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Waktu merayap perlahan. Anak Beruang menguap, mulai mengantuk, sementara Ursa Minor masih harus terus berjaga, menjadi penunjuk arah bagi para pelaut.

“Aku tidur dulu, ya,” pamit Anak Beruang.
“Baiklah,” sahut Ursa Minor.
“Salam untuk Ibumu, Tante Beruang Besar …”
“Ibu Ursa Mayor.”
“Ayahmu Bapak Ursa Payor, ya? Kan Ma dan Pa …”

Ketika Ursa Minor tidak menaggapi, Anak Beruang tersenyum saja. Ia sudah tahu. Tetapi ia selalu senang mengganggu temannya itu dengan hal-hal yang tidak penting.

Anak Beruang melompat-lompat masuk ke dalam rumah. Bersiap-siap untuk tidur dan bertemu dengan matahari keesokan paginya.

Di balik selimut, sebelum akhirnya betul-betul tertidur, Anak Beruang berpikir dan merasa. Ia sadar sejauh apapun kepala dan kaki, hulu dan hilir, pucuk dan akar, selalu ada yang mengalir menghubungkan mereka.
Malam itu Anak Beruang menutup mata. Merasakan yang mengalir tanpa berpikir apa-apa …

Sundea
gambar Ursa Minor dirampok dari sini.

2 comments:

BeluBelloBelle mengatakan...

asiiik bener pengalaman anak beruang dan asiik juga karena semuanya serba terhubung ^^

simplelooklet mengatakan...

ceritanya simpel & polos tapi unik :)
bikin gregetan deh, pangen bisa bikin cerita anak kaya gitu.. gak melulu cerita sebab akibat.

Ijin share yaaa :)